
*Authornya lagi kacau banget ni semenjak kemarin. Maaf jika pendek ya kakak semua ... lagi usaha mengembalikan mood.*
Tiga hari kemudian, di saat pagi hari aku dibangunkan oleh suara mesin EKG yang tidak seirama seperti biasanya. Aku langsung tersadar melihat grafiknya tidak normal.
Mas Aren mengalami kejang. Tubuhnya naik turun bergetar di atas brangkar. "Mas ... Mas ...?"
Aku segera berlari keluar menuju stand Nakes yang piket. "Dokterr, susteeer ... Tolong suami sayaaa ... Toooolong ..."
Dokter dan Perawat, segera bangun dari tidurnya, bergesa menuju ruang suamiku dirawat. Kali ini aku tidak boleh masuk, hanya diperbolehkan menunggu di luar ruangan.
Bapak pun tergopoh keluar dari mushola terlihat panik. "Kenapa Nesya?"
"Suamiku, Pak..." Aku tidak bisa melanjutkan ucapan karena yang ada hanyalah tangisan. Bapak akhirnya merangkul pundakku dan mengajakku untuk duduk padang bangku yang ada pada lorong dekat kamar suamiku dirawat.
"Kamu tenangkan diri dulu." Bapak mengintip pada bagian kaca yang ada di pintu. Cukup lama beliau berdiri di sana.
"Tuhan, jangan rebut kebahagiaanku. Apakah aku tak pantas untuk bahagia bersama orang yang aku cinta? Apa hanya kesedihan saja, yang boleh Engkau hadirkan untukku? Apakah Engkau tak menyayangiku sebagai orang yang menghamba-Mu?"
"Hust! Kamu ngomong apa sih? Jangan pernah berpraduga atas segala yang terjadi! Justru Dia itu menguji hamba-Nya untuk mengangkat derajat manusia?" ucap Bapak mendekat padaku.
Aku hanya bisa meringkuk membenamkan diri pada pelukanku sendiri. Pikiranku benar-benar kusut bagai benar yang telah poranda tak bisa diluruskan kembali.
__ADS_1
Bapak membelai rambutku. "Kamu jangan menyiksa diri dengan pikiran negatifmu. Sebelum mendapat kbar terbaru, jangan pernah berpikiran negatif tentang apa yang terjadi!"
Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Akhirnya aku masih menenggelamkan diri dalam rangkulanku dalam diam. Sementata Bapak berdiri dekat pintu memantau apa yang terjadi di dalam sana.
Beberapa saat kemudian, Dokter dan perawat keluar. Bapak langsung menodong mereka dengan sejumlah pertanyaan.
"Bagaimana keadaan menantu saya, Dok?"
"Saudara Arendra sudah dalam keadaan tenang. Detak jantungnya sudah kembali normal setelah serangan jantung mendadak barusan," terang Dokter.
Mendengar keterangan dari Dokter barusan, membuat perasaanku sedikit tenang. Kaki yang tadi naik, aku turunkan kembali sembari mendengar penjelasannya atas apa yang dialami oleh suamiku.
"Kita berdoa saja secepatnya." Dokter menepuk lengan Bapak dengan sejenak. Lalu kembali ke ruangannya.
Sementara aku, langsung bangkit dan melihat keadaan suamiku yang kembali tidur dengan tenang. Aku memeluk tubuhnya dan mengecup bibirnya. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah kembali dengan baik-baik saja kepadaku. Kamu jangan pernah meninggalkanku. Kami semua membutuhkanmu."
Tangannya kembali kugenggam, dan aku merabahkan kepala tepat di samping kepalanya yang penuh dibalut oleh perban.
Waktu pun terus berlalu. Teman kuliahku dan para dosen turut hadir dalam menunjukkan rasa simpatinya kepadaku. Ada juga mahasiswa dalam ikatan mantan fans suamiku kala masih bujang. Semenjak ketua gank nya aku labrak, tak ada lagi yang berani macam-macam denganku.
Akhirnya mereka tahu, selama ini aku diam bukan karena takut kepada mereka. Aku diam menunggu waktu yang tepat. Akhirnya membuat mereka tidak macam-macam lagi.
__ADS_1
Namun, kali ini ... Wajah itu kembali muncul memamerkan keberingasannya. "Heh, kalau lu gak bisa jagain suami, lu bisa nyerahin pada kami suami lu itu! Kami siap kok menjaganya," ucap salah satu dari mereka.
Sementara itu orang yang pernah aku hajaar, berada di baris paling belakang dengan menundukkan wajahnya, tak berani menatapku.
"Jadi kalian mau menjaganya? Beneran?" tanyaku.
Namun, gadis yang tadinya membentakku menundukkan kepalanya juga. Ia menyikut teman yang ada di sampingnya.
"Se-sebenarnya kami ingin menyampaiakan rasa duka kami atas apa yang menimpa Pak Rendra." Salah satu dari mereka menyerahkan parsel buah yang mereka bawa.
"Tapi, suamiku belum bisa dibesuk di dalam ICU itu."
Sang ketua yang ada di belakang maju menyelip di antara temannya yang lain. "Tidak apa, yang penting kami bisa tahu informasi dosen kami itu." Dia tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong di bajunya.
Dia langsung menyalamiku dan menyelipkan sesuatu yang ia cari tadi. "Ini adalah sumbangan kawan-kawam seangkatan kami. Semoga bermanfaat," ucapnya lagi.
Refleks air mataku terjatuh menahan haru. Orang-orang yang tidak terduga, sempat aku musuhii malah hadir di sini untuk memberikan bantuan yang sebenarnya tidak terlalu aku butuhkan. Akan tetapi, aku memilih untuk menerimanya.
"Terima kasih sudah hadir dan terima kasih atas segalanya. Maafkan aku atas masa lalu yang pernah terjadi di antara kita," ucapku sembari mengusap air mata yang tiada henti terjatuh.
Waktu kembali bergulir, di mana saat Lingga datang membawa Bang Alan
__ADS_1