Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
16. Menjemput Elena


__ADS_3

Tubuhku langsung terasa lemah. Aku terkulai tak berdaya, terduduk di jalan yang hanya terbuat dari kerikil ini. "Kenapa, Pak? Biarkan aku menjemput Elena ...."


"Jangan sekarang! Bahaya perjalanan melewati hutan malam-malam begini."


"Tapi Pak? Elenaku dibawa oleh mereka."


Bapak menarikku untuk bangkit kembali. "Ayo pulang dulu!" Mak dan Bapak merangkul kedua tanganku. Aku seperti tidak memiliki tenaga lagi untuk bergerak. Semuanya seolah tersedot saat amarah meledak tadi.


Sampai di rumah, kakiku melangkah perlahan mencari boneka kesayangan Elena. Boneka karakter panda itu kupeluk membayangkan bagai memeluk anakku sendiri. Bagaimana Elena? Apakah dia baik-baik saja? Atau dia masih belum berhenti menangis?


Aku pandangi jam di dinding yang masih menunjukan pukul sebelas malam. Tak sabar rasanya untuk menggerakan jarumnya menuju pukul enam pagi. Aku meringkuk di atas dipan beralaskan kasur kapuk yang dipanen sendiri dari pohon yang ada di kebun kopi.


Mataku tak berhenti menatap jam yang terasa berputar dengan sangat lambat. Suara pintu terdengar dibuka. Aku pun tersentak. Apakah akhirnya aku tertidur?


"Nesya, kenapa kamu tidurnya seperti itu?" ucap Mak membuatku kembali terjaga.


Aku kucek mata melihat waktu susah menunjukan pukul lima pagi. Sudah cukup terlambat untuk ibadah subuh di tempatku. Aku segera bergerak menuju kamar mandi yang berada di luar rumah. Kamar mandi beratapkan langit tampak mulai terang, membuatku bergegas berwudhu dan segera menunaikan ibadah subuh.


Setelah itu aku bergerak menuju rumah keluarga Bang Alan. Aku pergi tanpa memberitahukan Mak yang sedang berada di dapur. Sementara Bapakku sudah tidak terlihat, mungkin sudah ke sawah buat menghalau burung yang bersiap menyerang padi yang sudah mulai menguning.


Aku tak tahu dari mana tenaga ini kudapatkan. Tak sampai sepuluh menit, perjalanan satu kilo melintasi hutan, berhasil kutempuh sendirian. Aku buka paksa pagar yang terbuat dari susunan bambu tersebut.


braaaak


Ternyata, pintu pagar itu langsung lepas dari tempatnya. Pintu rumah keluarga Bang Alan terbuka dari arah dalam. "Apa kau sudah salah alamat? Kenapa kau datang ke sini di pagi yang masih buta ini?"


Mak Bang Alan berkacak pinggang mengangkat wajahnya angkuh. "Pagi-pagi datang sudah merusak rumah orang. Emangnya kamu bisa membuatnya kembali, hah?"


"Mana Elena?"


"Apa urusanmu?"


Dia masih menanyakan urusanku? Bukan kah dia sudah tahu kepentinganku. Tentu saja hendak membawa anakku kembali dalam pelukanku.


"Mak, selagi aku masih bersikap sopan, aku mohon kembalikan Elena." Aku berusaha menahan emosi yang sudah meledak di dalam dada.


"Tak ada gunanya kau datang kemari. Elena adalah darah daging kami. Bukan kah kau masih muda? Kau bisa memiliki anak lagi."


"Tapi Bang Alan kan sudah memiliki anak, Mak. Dia sudah bahagia dengan keluarga barunya. Biarkan aku bahagia dengan Elena berdua, Mak. Aku tak akan meminta apa pun pada Bang Alan. Elena saja sudah cukup bagiku."


Mak Bang Alan mendengkus bersidekap dada. "Sudah, kamu pergi saja! Biar kan kami yang merawat Elena. Ini satu-satunya bagian Alan yang bisa kami miliki." Setelah itu pintu rumah ini ditutup dengan kasar.


"Itu dia!" terdengar suara dari arah luar rumah. "Nesya, kenapa kamu ke sini sendirian?" Itu suara Mak yang disusul oleh Bapakku.


"Mak, serahkan kembali Elena, Mak ... Aku mohon, Mak"


duk

__ADS_1


duk


duk


Aku pukul pintu kembar khas pintu rumah di dusun ini. Aku dorong dengan kuat, tetapi tidak terbuka juga.


"Mak ... Mak ...."


duk


duk


duk


"Nesya, apa kamu tidak bisa bersabar?" tanya bapak mulai menarikku.


"Jika mereka menginginkan demikian, biar kan saja!"


Aku tatap Bapak yang terlihat tersengal melihatku bergantian dengan pintu. Aku menggelengkan kepala. "Bapak, kenapa Bapak tega padaku? Apa dunia ini pun tidak ada yang berpihak padaku?"


"Kamu jangan berkata seperti itu ...."


Aku tidak tahu lagi apa yang dikatakan oleh Bapak. Aku terus mendobrak pintu tersebut dengan paksa. Aku kerahkan semua tenaga yang aku miliki.


brak


brak


brak


Pintu itu terbuka, dan aku lihat adik Bang Alan tampak dalam posisi meringis kesakitan meringkuk di lantai. Apakah dia yang menahan pintu tadi? Aku segera masuk paksa, mencari anakku.


"Apa yang kamu lakukan?"


Mak Bang Alan langsung menarikku kembali menuju keluar. "Biar kan kami yang mengasuhnya!"


"Biarkan dia bersamaku, Mak. Aku berjanji akan membesarkan dan mendidik dia sebaik mungkin."


"Hah, tidak perlu! Lebih baik dia di sini saja. Dia akan menggantikan Alan membantu kami ke sawah dan ke ladang nantinya."


Dia mau menjadikan anakku sebagai mesin pencari uang selanjutnya? "Apa, Mak? Pengganti Bang Alan? Mak pikir Bang Alan itu serajin dan segigih apa dalam bekerja?"


plaaaak


Sebuah tamparan melayang pada pipiku. Aaaahhkk, rambutku dijambak oleh Mak Bang Alan. "Lepas, Mak. Lepaskan, Mak ... sakiiit ...."


"Dasar wanita tak tahu diri. Setelah kamu paksa dia menikahimu, sekarang kamu mengakhiri pernikahan kalian dengan seenaknya. Lalu, kamu pikir kami akan---"

__ADS_1


"Aaaghhh--" Mak Bang Alan pun berteriak.


Aku lihat apa yang sedang terjadi, ternyata Mak menarik rambut mantan mertuaku ini. "Apa yang kau lakukan pada anakku?"


"Hentikan!" Bapak menarik Mak agar menghentikan apa yang dilakukan oleh wanita yang melahirkanku ini.


"Aaagghh ...." Tarikan pada rambutku terasa semakin kuat, karena Mak menarik rambut ibu Bang Alan juga semakin kuat.


"Beraninya kalian main keroyok ke rumah orang?" hardik ibu dari Bang Alan.


"Ibuk ... Ibuk ...?" Elena muncul dari sebuah ruangan dengan mata sembab dan wajah merah.


Melihat Elena seperti itu, bagai mendapat suntikan tenaga yang datang entah dari mana. Aku melepas paksa jemari yang menarik rambut halusku. Setelah itu aku segera memeluk Elena.


Saat memeluk tubuh Elena aku merasakan suhu tubuhnya yang hangat. Punggung tangan langsung tertempel pada keningnya. "Kamu demam, Nak?"


Elena memeluk tubuhku kembali. Aku segera mengangkat dan membawa Elena pergi. Namun, ada yang menahan langkahku dari belakang.


"Mau kau bawa ke mana?"


Aku tepis tangan Mak Bang Alan yang menarik pakaianku. "Apa yang kalian lakukan pada Elena? Dia demam tinggi, tetapi malah membiarkan Elena di dalam rumah tanpa merawatnya."


"A-apa?" Mak Bang Alan menghentikan aksinya yang terus menarik pakaianku.


"Bahkan, dia demam saja, Mak tidak tahu."


"Kau jangan mengada-ngada! Tadi dia baik-baik saja!"


đź’–


đź’–


đź’–


Hay-Hay ... terima kasih sudah mampir pada karya terbaru aku yaaa ... Kali ini aku ingin mengajak kaka semua untuk mampir juga pada karya sahabatku yang kece badai.


Napen Author: Navizaa


Judul karya: Kekasih Gelapku


Blurb:


Zidane telah bertunangan dengan Sonya. Namun, dia tak bisa menahan perasaan untuk mencintai orang lain yaitu Alana.


Dia pun menjalin hubungan gelap dengan Alana.


Padahal, Alana hanya menginginkan uang Zidane agar bisa mengubah penampilannya untuk balas dendam terhadap mantan suaminya.

__ADS_1


Bagaimana kisah cinta segitiga yang didasari dendam ini?



__ADS_2