Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
29. Hukuman


__ADS_3

*Karya ini belum dikontrak, ada yang bersedia nyawer dengan iklan? 😂😂😂*


Sedang asik main game, tiba-tiba sebuah tangan menarik telingaku. "A--aauw ...."


Aku lihat siapa yang mempunyai tangan ini. Ternyata tangan milik Mak. Nafas Mak terdengar memburu, dan Ayah menggaruk kening seakan pusing memikirkan sesuatu.


"Apa yang kau lakukan, hah?"


Aku berusaha melepas jemari Mak yang tengah menarik daun telingaku. "Kenapa, Mak?" Aku usap telinga yang terasa panas setelah mendapat serangan barusan.


"Masih nanya?" Tangan Mak memukul kepalaku beberapa kali.


"Ampun, Mak ... Ampuuun."


"Kamu ini, bener-bener ya? Bikin malu keluarga aja!" ucap Mak dengan mata nyalang.


"Apa lagiii?"


"Masih nanya?" Mak hendak memukul kepalaku lagi.


Aku langsung melindungi kepala dengan kedua tangan. Ternyata Ayah menahan Mak agar tidak menghajarku lagi. Ayah memberi kode menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Alan." Suara bariton Ayah yang jarang bicara akhirnya keluar.


"Kami mendapat kabar tadi kamu menghajar si Dedi. Kamu pergi pacaran dengan anak Dunai di saat Nesya sedang bersalin di rumah." Ayah kembali menggelengkan kepala.


"Kau ini ya? Jika tak bisa jadi anak berbakti, setidaknya kau harus jadi suami dan kepala keluarga yang baik! Ini udah buang-buang uang sekolah keluar, tapi ujung-ujungnya tetap jadi orang yang tidak berguna. Percuma saja kau disekolahkan tinggi-tinggi sampai SMA!" Mak berkacak pinggang dengan omelan.


Mak pikir sekolah sampai SMA adalah jenjang yang sangat tinggi. Mak hanya kurang tahu saja, bahwa di luaran sana orang-orang sudah pada kuliah hingga keluar negeri. Namun, tidak mungkin aku berbicara seperti itu pada Mak. Mak pasti akan semakin murka dan memukulku dengan sejadinya.


"Kalau bini kau melahirkan itu, setidaknya kau temani dia. Agar kau tahu, bagaimana perjuangan wanita dalam melahirkan. Bukan sekedar goyang kaki main hape seperti ini aja?"


Bodo amat aaah, ngapain juga nemani wanita tak tahu diri seperti itu. Mending aku main game saja. Tidak pernah membosankan seperti melihat Nesya yang akhir-akhir ini membuatku muak. Awas aja nanti! Dia akan aku hukum setelah melahirkan.


Tiba-tiba Mak mendorongku masuk ke dalam rumah. Ternyata anakku sudah lahir. Nah, kan? Melahirkan doang pasti gampang lah? Ga ada gunanya menemani dia segala. Manja banget. Mak masih mendorongku untuk masuk ke dalam rumah yang sudah tercium bau anyir.


Aku segera menuju keluar kembali. Ternyata Mak sudah berdiri di tengah pintu memberi aba-aba agar aku kembali masuk ke dalam.


Aku menuju kamar, terdengar suara bayi. Meski sedikit malas karena ada bau yang amis yang tidak sedap, aku tahan dan melihat Nesya sedang memeluk bayi kami. Wajahnya terlihat sendu meneteskan air mata, apa lagi yang dia pikirkan? Udah jadi emak-emak seperti itu masih saja cengeng. Itu sungguh tak pantas!


Nesya melihat kehadiranku. Aku mendekat tanpa menyapanya dan segera mengazankan anak yang ada di pelukannya itu. Setelah itu, aku hendak kembali keluar.


"Gitu aja, Bang?" tanyanya.

__ADS_1


"Lalu?"


"Apa kamu tidak berniat untuk menggendong darah dagingmu ini?"


Aku lihat Bapak Nesya melihatku dengan tatapan panjang. Aku harus segera memikirkan alasannya. "Aku tidak bisa menggendong bayi baru lahir."


"Tapi, Bang?"


Bapak Nesya menepuk pelan pundak Nesya dan menggelengkan kepala. "Iya, Bapak dulu juga begitu."


"Nah, kalau begitu aku keluar dulu." Tanpa menunggu jawabannya, aku segera keluar dari ruangan ini.


Ternyata melihat istri melahirkan hanya seperti ini, tak ada yang istimewa. Hmmm ... Ya udah lah! Aku lanjutkan saja permainan.


Waktu pun terus berlalu usai Nesya melahirkan. Aku lihat dia sudah ke sana ke mari beraktifitas membawa bayinya. Sementara keuanganku sudah menipis karena diberikan kepada Inke dan membeli rokok yang mahal.


"Kamu sudah kuat kan?"


Nesya melihatku dengan wajah herannya. "Kuat apanya?" tanyanya.


"Sepertinya kamu sudah bisa bekerja. Ayo ke sawah lagi! Uangku sudah hampir habis!"

__ADS_1


Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Bang, aku ini baru dua minggu usai melahirkan anakmu. Kamu tega menyuruhku bekerja di saat masa nifasku belum berakhir?"


"Aku tidak peduli! Cepat ke sawah! Biar menghasilkan uang yang banyak!"


__ADS_2