Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-41. (pov Arendra)


__ADS_3

Elena merebut sendok yang ada pada tangan Nesya. "Giliranku yang menyuapkan Papa."


Elena pun pindah posisi duduk pada bangku kosong yang ada di sampingku. Dia melirik ibunya menajamkan mata memanyunkan bibir.


"Cara nyuapi Papa itu, kayak gini, Buk." Elena mengambil makanan dari dalam piring hingga tumpah-tumpah.


Aku pun segera memunguti makan yang berserakan di atas meja tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut. "Sebelum lima menit."


Mukut dan mata gadis kecil itu membulat, memainkan jemari telunjuknya ke kiri dan ke kanan. "Itu kotor, Papa. Kata Datuk, semua makanan yang jatuh tidak boleh dipungut lagi."


Nesya mendekati gadis kecil itu dan menarik pipi Elena dengan gemas. "Kenapa kamu tiba-tiba sok dewasa begini sih, Cah? Masa anak Ibuk udah besar aja?"


Elena menarik tangan ibunya yang mungkin membuatnya tidak nyaman. "Sakit, Buk."


"Abisnya, Ibuk gemes sama kamu. Kenapa kamu tiba-tiba udah besar aja? Mana Elena Ibuk yang kecil dulu?" ucap Nesya, aku hanya bisa menahan tawa melihat keributan ibu dan anak ini.


Elena melirik ke arahku. "Kan, Papa selalu bilang jika rajin makan bisa bikin kita cepat besar. Elena sudah besar, jadi anak baik, biar Papa makin sayang. Nggak kayak Ibuk suka marah-marah. Bisa bikin cepat tua."


Nesya terlihat menepuk keningnya melirik padaku, entah kenapa aku merasakan sesuatu buruk lagi. Apakah wanita hamil muda itu selalu banyak drama seperti ini?


"Kamu yang ngajarin Elena bicara seperti itu Mas?"


"Kamu nanya? Apa kamu mau nyalahin aku?" Aku harus sabar, bicarakan semua ini dengan baik-baik.


"Aku ini nanya, Mas. Kok bisa dia berbicara seperti itu?"


Oh, Tuhan. Rasanya aku mau kabur saja hingga menunggu dia jinak. "Ya udah, tanyain aja sama anaknya. Dia belajar seperti itu dari siapa?"


Namun, dia mendorong kursi yang ia gunakan, memanyunkan bibirnya, dan beralih menuju kamar.

__ADS_1


"Ibuk kenapa, Sayang?"


Orang yang aku tanya mengedikkan bahu. Ia terlihat menunggu perintah selanjutnya dengan menatap panjang padaku.


"Ayo makan lagi!" ajakku menarik sendok yang masih berada di tangan Elena, membuat nasi tersebar di mana-mana.


"Elena mau suapin Papa," rengeknya.


"Iya, nanti kalau Papa udah kenyang, Elena boleh suapin Papa."


Gadis kecil itu membulatkan bibir kecilnya menatap ke atas. "Ooo, kalau Papa udah kenyang, nanti nasinya habis dong?" celetuk Elena kembali.


*


*


*


Di sampingku, ayah mertua duduk menikmati pemandangan yang ada di sekitar kota. Begitu juga dengan Mak dan Elena. Tujuan kami kali ini adalah taman terbuka hijau yang ada di kota ini.


Kasihan sekali mertuaku, udah lama tinggal di kota, tetapi tidak pernah diajak jalan-jalan. Ini gara-gara menantu mereka yang suka sok sibuk akhir-akhir ini.


Beruntung hari ini week end, hingga aku memiliki banyak waktu untuk beristirahat. "Nah, itu dia! Taman kotanya."


"Asiiiikk," ucap Elena yang duduk di bangku tengah bersama ibu dan neneknya.


Setelah semua keluar dari kendaraan, aku pun keluar mengikuti langkah kaki mereka semua. Namun, aku melihat Nesya masih terlihat lesu tidak bersemangat. Aku segera mendekap dan merangkulnya.


"Kamu nggak senang aku bawa ke sini?"

__ADS_1


Nesya tersenyum tipis. Dia membalas rangkulanku dengan mengelungkan tangan pada pinggang. Sementara Elena sudah menarik-narik datuknya ingin ditemani agar bisa berlari ke sana kemari.


Mak mertua terlihat menggelar tikar pada bagian lepas di atas rumph.


"Waaah, nggak ada makanan kecilnya, Mas? Ayo dibeli dulu," pinta istriku.


Memang benar sih, tikar itu kosong melompong saja. Tadinya memang mau beli-beli di sekitar sini saja, biar tidak repotkan Mak bawa-bawa bekal.


Namun, kali ini tidak satu pun yang terlihat berdagang. Mungkin Satpol PP baru saja beraksi bongkar-bongkar di wilayah ini. Ada-ada aja mereka itu. Padahal kita lagi beristirahat, tidak perlu jauh-jauh membeli jananan kan jika para pedagang mangkal di sini


Nesya mencoba untuk bangkit dari posisinya yang sudah nyaman di atas tikar. Aku tahan Nesya untuk duduk kembali. "Kamu tunggu di sini saja yah? Kamu mau makan apa hayo?"


Aku mengeluarkan ponsel mencatat apa yang dibeli oleh istriku. Setelah harapannya dicatat dengan telitk, aku pun bangkit. Sejenak aku kecup pipinya.


"Tunggu aku ya, Sayang. Aku hanya sebentar kok."


"Aku mau ikut." ucap Nesya ingin bangkit.


"Nggak usah, nanti kamu kelelahan kalo kebanyakan gerak. Si kembar yang ada di dalam rahim kamu masih proses pembentukan lho? Kalau kamu gerak sana gerak sini malah membuat mereka gak jadi kan gawat. "


Nesya akhirnya mengangguk, aku pun langsung menuju tempat mobil yang terparkir di pinggir jalan. Namun, dari arah jalan bagian belakang terdengar suara gaduh. Aku baru saja membuka pintu mobil, belum sempat masuk


"Awaaaassss!" Sebuah teriakan terdengar tetapi aku tak sempat melihat apa yang diteriakkan oleh orang-orang tersebut.


"Aaaagggghhhhttt!"


Tubuhku terpental, pintu mobilku terlepas ... Sepertinya baru saja ada yang menghantam tubuhku dari belakang.


"Mas ... Mas ...?" tangisan yang begitu aku kenal menggema di telingaku. Namun, aku tak tau lagi ... Semua terlihat gelap.

__ADS_1


__ADS_2