
*Maaf banget kakak readers semua. Aku lagi nikmatin liburan quality time bersama keluarga. Tapi kayaknya nggak ada yang kangen sama Mas Aren dan Nesya ya ... Apalagi aku ... Wkwkwkw*
Elena turun dari pangkuan suamiku. Dia menggelengkan kepala berjalan cepat kembali ke kamarnya. Aku memandangi Mas Aren yang tercengang dengan reaksi anakku itu.
"Sepertinya putri kita benar-benar serius tidak ingin punya adik," gumam suamiku.
"Gara-gara ada yang nakut-nakutin sih." Aku teringat akan cerita Elena dulu.
Suamiku melirik dan memasang wajah heran. "Emang, siapa yang nakut-nakutin dia?"
"Dia kan main sama Cika anak tetangga. Jadi Cika ini punya adik, suka memukul Elena. Jadi, alam bawah sadarnya terbentuk mind set bahwa semua adik itu jahat," terangku.
"Oh, syukur lah kalau cuma itu. Aku pikir Elena khawatir setelah memiliki adik, kasih sayang kita akan berkurang untuknya," ucap suamiku.
"Bagaimana denganmu, Mas? Apa kamu masih akan tetap sayang sama Elena setelah darah dagingmu lahir dari rahimku?"
"Apa maksudnmu?" tanya Mas Aren.
"Yaa ... Enggak sih. Aku hanya sekedar bertanya."
"Sepertinya kamu meragukanku sebagai ayah sambung Elena."
Tangan suamiku langsung masuk ke dalam hangatnya genggaman. Aku menyandarkan kepala pada pundaknya yang lebar. Namun, matanya masih ngambang tanpa nyawa menatap lurus ke depan.
"Nggak, aku tidak akan pernah ragu padamu, Sayang."
Tangannya bergerak membelai rambutku. "Sepertinya kita sudah cukup lama menunggu adonan cakwenya. Ayo kita olah!"
Walau pun ia tidak bisa melihatku, senyuman pada bibirku telah mengembang menikmati malam berdua dengannya ini. Aku bangkit dan menarik tangannya yang masih dalam genggamanku menuju dapur.
"Sayang ...." Mas Aren memanggilku yang berjalan di depannya. Aku menoleh, dan bibirnya terlihat sedang tersenyum. Dia begitu tampan dengan senyumannya itu.
"Terima kasih," sambungnya.
"Kenapa tiba-tiba mengucapkan terima kasih?"
"Aku tahu sebenarnya kamu tahu, tapi kamu memilih pura-pura tidak tahu." Dia menarikku masuk ke dalam dekapannya dan mencium keningku dengan lembut. Aku langsung memeluknya dan menganggukkan kepala dalam dekapannya itu.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Mas."
"Aku lebih mencintaimu," balasnya tidak mau kalah menarik daguku dan mengecup bibirku.
Setelah itu aku membentuk cakwe, tidak mengizinkannya bekerja. Namun, ia bersikeras untuk terus bekerja di malam buta ini.
"Aku ingin nyenengin istri yang lagi hamil anak aku. Apalagi ini kemauan anakku. Biarkan aku yang melakukan semuanya."
"Tapi, Mas? Kamu itu—" Aku tidak tega melanjutkan ucapanku. Raut yang tadi ceria tiba-tiba berubah datar.
"Baik lah, kamu bagian ini saja!" Aku menyerahkan wadah kosong, raut datarnya belum juga berubah.
"Aku memang bu—" Tanganku refleks menutup mulutnya yang ingin memperjelas kondisinya saat ini.
"Bukan! Aku hanya tidak ingin kamu terluka. Apalagi yang berada di hadapanmu wajan dan minyak panas. Bagaimana pun, aku juga tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu, Mas. Jadi, soal per dapuran, serahkan padaku."
Aku lirik sebuah bangku yang ada di belakang. Aku tarik ia menuju bangku itu. "Duduk yang manis di sini. Bagaimana pun ini adalah buatanmu kok. Aku hanya melanjutkan bagian yang sulit saja."
Mas Aren menghela napas panjang dan duduk dengan tenang menungguku menggoreng adonan cakwe yang telah jadi.
Suasana hening pun membuatku merasa sedikit kurang nyaman. Yang terdengar hanya desisan cakwe yang sedang berada dalam minyak panas. Diam-diam aku lirik Mas Aren yang terduduk lesu dalam diamnya.
Mas Aren pun memaksakan senyumannya. "Hati-hati cakwenya! Nanti malah gosong!" ucapnya mengingatkanku.
Aku segera membolak-balikkan makanan yang ada di dalam penggorengan tersebut. Memasaknya dalam jumlah yang tidak terlalu banyak karena hanya sekedar melepaskan rasa ingin yang tiba-tiba muncul saat tidur tadi. Setelah aku rasa cukup, kompor kumatikan, sisa minyak goreng yang ada dalam wajan aku tutup.
"Yuk, Mas. Segini saja cukup." Aku tarik kembali tangannya dan dia hanya menurut ke mana langkahku membawa dirinya.
Aku siapkan sebuah bangku pada meja makan dan memastikannya duduk dengan baik. Dia tersenyum kikuk dan terlihat canggung akan perlakuanku yang seperti ini padanya.
"Ternyata, kamu baik begini karena merasa kasihan padaku. Sebenarnya aku merasa tak pantas untukmu. Apalagi pada masa seharusnya berbahagia menanti buah hati kita, aku malah menjadi suami tak berguna untukmu," ucapnya dengan sendu.
"Bukan, aku tidak kasihan sama sekali. Aku begini karena aku mencintaimu. Bagaimana pun dirimu, bisa atau tidak mampu melihat pun, kamu adalah yang terbaik untukku, cuuup ...." Kukecup bibirnya dan membelai pipinya.
"Kamu harus percaya diri dong."
Mas Aren langsung tersenyum dan kembali menarikku masuk ke dalam pelukannya. "Malam ini ya? Semenjak kecelakaan itu kita belum ada lagi kan?"
__ADS_1
Aku tarik satu cakwe langsung menyumpal mulutnya. "Tetep aja kamu inget ya?"
"Iya dong, itu kebutuhan primer laki-laki normal. Meski mataku tidak bisa melihat, tapi yang di bawah ini tetap berkehendak," bisiknya tepat di telingaku meski mulutnya berisi cakwe tadi.
"Duh, enak banget cakwe ini, Sayang."
Kami menikmati cakwe itu hingga habis. Setelah itu Mas Aren kembali menarikku dan mengangkat tubuhku. "Ayo, malam ini kamu jadi mataku. Kamu yang mandu aku!" ucapnya.
Sontak membuat pipiku menjadi panas, karena selama ini dia lah yang memimpin permainan di atas ranjang. Namun aku hanya mengelungkan tangan pada lehernya dan menyandarkan diri pada dadanya sambil memandunya menuju kamar dan memadu kasih pertama kali dalam keadaan buta.
*
*
*
Keesokkan hari Lingga menghampiriku dengan wajah prihatin. Meski tak satu pun kalimat yang memberitahukan keadaan suamiku yang sebenarnya, tetapi aku yakin Lingga sadar suamiku saat ini tidak bisa melihat.
"Sayang sekali kamu harus cuti, aku jadi tidak memiliki teman dekat lagi di kampus," ucap Lingga.
"Ya, gimana lagi. Keadaan sangat tidak memungkinkan jika aku terus memasksakan diri berkuliah. Aku ingin merawat suami dan anakku. Semoga keadaan Man Aren menjadi lebih baik dalam waktu yang cepat."
"Aaamiin. Sekarang aku mengerti alasan kenapa kamu melarangku menikah cepat. Saat masih sendiri, segala hal bisa lebih fleksibel. Kalau telah menikah, saat menjadi istri kita mesti mengutamakan suami," ucap Lingga.
"Bener banget, walau sebenarnya masih bisa nyambil, tapi kondisi Mas Aren saat ini bener-benar tidak bisa aku tinggal. Nanti aku lanjutkan lagi kalau udah lahiran aja," ucapku meragu. Aku pun tak yakin akan bisa melanjutkan pendidikan setelah melahirkan.
"Membayangkannya saja aku sudah merasakan kerepotan yang luar biasa. Aku yang sendiri aja sudah kelimpungan. Apalagi kamu dengan tiga anak yang masih kecil?" ucap Lingga
"Kita lihat saja nanti. Kamu sendiri gimana Ngga? Hubunganmu dengan Bang Alan masih berlanjut?"
Seketika raut wajah Lingga berubah murung. "Aku sudah sangat lama tidak berjumpa dengannya. Akhir-akhir ini dia lebih sibuk dibanding biasanya."
*
*
*
__ADS_1
Siapa tau ada yang mau mampir di rumah orens