
"Bang, kenalkan ... dia lah kekasih baruku. Aku sangat mencintainya. Kami akan segera menikah."
Pria itu mengulurkan tangannya pada Bang Alan. "Arendra ... Doktor Arendra Gautama M.E., Akt."
Aku yang baru tahu namanya, merasa heran dengan segala titel yang disebutkan tersebut. Apalah arti sebuah titel, sedangkan Bang Alan sendiri tidak paham. Ck ... sepertinya aku salah menangkap orang.
Bang Alan menatapku tidak percaya. "Kamu akan segera menikah?"
Pria yang aku tangkap tadi tampak tersenyum penuh makna. Apa yang dia pikirkan? Dia tiba-tiba merangkulku dengan mesra. Tangannya pun dengan seenaknya membelai pipiku.
Aku merasa tidak nyaman dan mencoba mendorong tubuhnya. Namun, dia menahanku dengan senyuman aneh. "Tenang saja!" bisiknya.
Kami berdua melihat kembali ke arah Bang Alan. Sama-sama memaksakan senyuman. Aku menyesal mengikutsertakan orang random seperti dia.
"Kalian bohong kan?" Wajah Bang Alan terlihat menyelidiki kami.
"Bukan, kami beneran kekasih. Kenapa? Emangnya kamu saja yang bisa menemukan orang lain saat kita masih bersama. Kenapa aku tidak bisa menemukan orang lain, di saat kita telah berakhir?"
Aku lirik kembali pria yang menahan tubuhku ini. "Bener kan, Sa-sayang?"
Dia tersenyum mantap. "Tentu."
"Huwaaa ... huwaaaa ... huwaaa ...."
Terdengar sebuah tangisan yang berasal dari mobil mewah yang terparkir tak jauh dari kami. Bang Alan tergopoh berlari menuju kendaraan tersebut. Ternyata di dalam mobil itu ada bayi yang ditinggalnya di dalam stroler.
Dia meninggalkan bayinya di dalam kendaraan? Ini sungguh sangat berbahaya. Namun, aku rasakah kendaraan ini sangat sejuk. Berarti AC-nya masih menyala. Bang Alan terlihat sibuk menenangkannya.
Sebuah senyum tipis tanpa sadar terulas di bibirku. Melihat dia mengasuh bayi sendirian itu rasanya, sangat sesuatu. Karena, selama menjadi ayah bagi Elena, aku bisa menghitung dengan jari, berapa kali dia menggendong Elena saat bayi dulu.
Bang Alan mengeluarkan botol yang sudah terisi bubuk su..su formula. Dia berencana memasukan air panas ke dalam botol tersebut.
"Tunggu!" Kuhentikan tindakannya tersebut.
Dia menatapku dengan heran. Sorot matanya menanyakan alasanku menghentikan langkahnya. Aku bergerak mendekati mobil tersebut.
"Apa dia tidak minum ASI?"
Bang Alan menggelengkan kepala. "Maminya tidak mau memberikannya ASI semenjak lahir."
Iiisss ... jadi kali ini panggilan mereka Mami-Papi? Orang kaya beneran, ternyata. "Apa kamu tidak diajarkan oleh pengasuhnya bagaimana cara membuat sufor bagi bayi?"
Bang Alan tampak tertunduk, wajahnya kembali sendu dan menggeleng. Kenapa dia seperti itu? "Aku membuatnya sesuai arahan Mak di dusun aja."
Penjelasannya itu membuat jiwa kepoku jadi meronta. "Apa kalian tidak menggunakan jasa pengasuh atau asisten rumah tangga?"
Bang Alan hanya menjawab dengan senyuman kecut. Tangisan anaknya belum berhenti. Dia berencana melanjutkan menyiram bubuk putih di dalam botol tersebut dengan air panas.
"Tunggu!"
__ADS_1
Aku rebut botol tersebut. Sejenak memindahkan isi botol yang masih kering tadi ke tutupnya. Aku mengisi sedikit air panas, lalu aku campurkan dengan air dingin. Aku periksa suhu memperkirakannya dengan menempelkan pada pipi.
Saat suhu masih kurasa cukup panas, aku tambah sedikit lagi air dingin. Aku ulangi menempelkan pada pipi. Setelah merasa suhu air itu pas, aku segera memindahkan kembali bubuk su..su formula tadi ke dalam botol, dan aku kocok.
"Nah, kira-kira begitu lah cara membuatkan su..su formula yang benar." Botol tersebut kuserahkan kepada Bang Alan.
Dengan cepat Bang Alan menerima dan memberikan pada bayi yang ada di dalam stroler tersebut. "Anak kalian ini, cewek apa cowok?"
"Cowok."
"Hmmm, ooh ... pantes kamu lebih menyayangi dia."
Bang Alan tak bergeming dengan ekspresi dingin. Dia fokus pada bayinya tersebut. "Umurnya berapa?"
"Satu tahun."
Oh, udah satu tahun saja? Sudah selama itu kah kami tidak berjumpa? Aku lirik Elena yang mulai kepo dengan makhluk kecil yang ada di dalam stroler ini. Elena memang sudah hampir tiga tahun.
Kasihan sekali kamu, Nak. Nasibmu berbeda dengan adikmu ini. Namun, keadaan ibu kalian juga berbeda.
"Ibuk cedih?" tanya Elena mengusap pipiku.
Aku tersenyum menggelengkan kepala. "Enggak, Nak. Ibuk tak menyangka, ternyata Elena anak Ibuk sudah besar ya?"
Elena menganggukan kepalanya. "Eyena udah besal."
Tiba-tiba, aku teringat pada sosok yang aku tangkap, tetapi aku anggurin tadi. Aku segera membawa Elena keluar dari kendaraan super luas yang dibawa Bang Alan. Ternyata, sekarang Bang Alan sudah bisa menyetir.
Jika masih bersamaku, mungkin dia tidak akan merasakan ini semua. Jika aku terus bersamanya pun, pasti akan terus menderita. Aku bersyukur lepas darinya. Aku pun menggandeng Elena menghampiri pria tadi.
Dia terlihat bersidekap dada menatapku dengan sinis. Kembali kutangkupkan kedua tangan. "Terima kasih, Om ... eeeh ..." Aku mencoba mengingat nama yang disebutkannya tadi.
"Mas A-Ar---"
"A-A apa?" selanya mengujiku.
Aku hanya bisa menggarukan kepala. Aku lupa karena terfokus pada titel-titel yang dia sebutkan dengan sangat panjang dan menyebalkan. Penting banget menyebutkan gelar di hadapan kami yang tidak memahaminya itu? Sombong.
"Halo ... kamu masih ingat nama saya tidak?"
Dia membuyarkanku akan lamunan dan pikiranku sendiri. "Maaf, Pak ... aku lupa."
"Pak? Tadi katanya kita akan menikah? Masa manggil saya dengan 'Pak'?"
"Sssttt!" Aku lirik kembali ke arah belakang takut terdengar oleh orang yang aku dustakan.
"Nanti aku kasih bonus ... tapi aku mohon bantu aku sejenak."
Dia melirikku dengan senyuman penuh arti. "Sepertinya parfum kemarin wangi banget. Saya jadi tidak perlu membeli parfum mahal lagi." Dia memainkan dagunya.
__ADS_1
"Baik lah, nanti aku kasih satu botol lagi."
"Sepertinya satu botol kurang." Kali ini dia menyugar rambutnya yang jatuh karena tidak diberi wax.
"Oke-oke! Aku akan beri dua botol."
Dia mengendus pakaiannya. "Sepertinya dua botol masih ku---"
"Jangan begitu!" selaku. "Kamu mau membuatku rugi, apa?"
"Waaah, apa dia sendiri tidak merasa sudah merugikan saya ya? Jika kekasih saya tahu, dia pasti akan dicincang." Dia kembali menggaruk dagu bermolog pada diri sendiri.
Aaaiiihh, ni orang kenapa ya? Pintar sekali dalam menggunakan azas manfaat. Apakah dia berpegang pada prinsip ekonomis? Dengan modal sekecil-kecilnya, meraup untung sebesar-besarnya. Namun, dia kan tidak mengeluarkan uang sama sekali? Malah merugikanku dengan sebesar-besarnya.
"Mbak, kenapa diam saja? Apa boss kamu akan marah jika aku meminta parfum laundry-nya kebanyakan?" Dia membuatku gelagapan terbangun dari lamunan.
"Kamu kaget? Melamun terus, Neng?"
"Hmmm ... dua aja maksimal. Parfum laudryku cukup mahal, tau nggak?"
Pria itu kembali mengendus pakaiannya dan memajukan bibir dan mengangguk. "Pantes wangi banget. Kayaknya enak juga punya istri yang profesinya jd kang cuci," gumamnya.
Bang Alan keluar dari kendaraan. Dia menggendong bayinya. Bayi lelaki itu terlihat sangat sehat. Berbeda sekali dengan Elena dalam usia yang sama, yang dulunya begitu kurus.
"Adek ... Adeeeek ...." Elena bersorak melihat bayi tersebut.
Mataku mulai terfokus pada bagian wajah bayi laki-laki Bang Alan. Kepalanya belum terlihat kuat bagai bayi enam bulan. Rambutnya hitam sangat lurus. Mukanya bulat dengan mata sipit.
"Ooh, ada kembar identik seluruh dunia ..." gumam pria yang ada di sampingku.
❤
❤
❤
Hay-Hay ... terima kasih sudah mampir pada karya terbaru aku yaaa ... Kali ini aku ingin mengajak kaka semua untuk mampir juga pada karya sahabatku yang kece badai.
Napen Author: Nita.P
Judul karya: Benteng Penghalang Kita
Blurb:
Perbedaan adalah hal biasa dalam suatu hubungan. Tapi apa hubungan masih bisa di lanjutkan dengan perbedaan yang terlalu jauh. Dia dan aku berbeda. Kami tak sama. Sangat mustahil rasanya untuk bisa bersatu selamanya.
Benteng tinggi yang menghalangi hubungan Seira dan Ganesh terlalu tinggi untuk di gapai. Hingga suatu hari kisah mereka harus di timpa dengan masalah besar, Dan Seira akhirnya memilih menjadi orang ketiga dalam hidupnya. Entah kisah ini akan berlanjut dan berakhir bahagi atau mungkin akan hancur dengan seiring waktu berjalan.
Nikmati dan ikuti alurnya.. Kisah cinta yang terlalu rumit sehingga kalian akan merasa penasaran dengan endingnya. Terimakasih
__ADS_1