
Seminggu kemudian, di malam hari suami mulai mendekat. Dia terus beringsut memelukku yang sudah memasang aksi untuk tidur. "Udah selesai kan?" bisiknya.
"Selesai apa?" tanyaku membelai pipinya.
"Aku sudah puasa selama seminggu lho?" rajuknya mengenduskan wajah pada dadaku.
"Iya, lalu?" Aku tidur dan membelakangi dia.
Dia seperti tak bergerak, barangkali tercengang saat aku menolak permintaannya. Beberapa waktu dia belum bergerak dari posisi mendekapku. Lalu, akhirnya aku merasakan ia pun merebahkan diri masuk ke dalam selimutnya.
Maafkan aku, Sayang. Aku ingin memberikan sebuah kejutan manis untukmu, setelah nanti aku memastikannya sendiri.
*
*
*
Pagi hari, suamiku kembali mode silent, tanpa menyapaku. Dia bertegur ramah pada kedua orang tuaku dan Elena, tetapi tidak denganku. Kami berangkat pun suasana dalam mode sunyi. Saat sampai pun ia tak mengajakku singgah ke ruangannya dan meminta membersihkan ruang kerja seperti biasanya.
Aku hanya menatap punggungnya dan tersenyum kecut karenanya. Ah, apa caraku salah untuk memberikan kejutan manis ini?
Saat perkuliahan usai, aku ingin mencarinya dan pamit pulang duluan. Namun, nyatanya ia tidak ada di ruang kerjanya. Kemana suamiku pergi?
Aku pun berkeliling kampus mencarinya, sendirian. Beberapa waktu terakhir, aku selalu sendirian. Lingga masih marah akan kejadian terakhir.
Terkadang, ada rasa sesal yang hadir karena aku terlalu ikut campur dengan urusannya. Namun, aku merasa tak rela jika Bang Alan terus saja mempermainkannya. Sementara di belakang Lingga, dia selalu begitu.
Huuffft, rasanya saat ini tubuhku menjadi lebih cepat lelah. Hmmmff, aku melihat bangku panjang yang ada di sepanjang koridor. Mungkin setelah beristirahat sejeak semua akan baik-baik saja.
Aku nikmati waktu sejenak untuk mengambil napas. Secara samar-samar, aku bagai mendengar suara suamiku, Mas Aren. Mataku mulai liar mencari ke segala arah.
Nah, itu. Tampak sedang berjalan dengan seorang wanita yang memakai pakaian yang sangat rapi. Namun, sepertinya ia bukan dosen di kampus ini karena wajahnya sangat asing bagiku.
Sejenak Mas Aren menangkap keberadaanku, tetapi ia seolah cuek dan melanjutkan obrolan sepanjang perjalanan dengan wanita itu. Aku pun berjalan mendekat, berharap ia memperkenalkan diriku sebagai istrinya.
Namun, mereka berdua tetap lurus berjalan tanpa menghentikan langkahnya. Aku merasa diperlakukan bagai angin lewat, yang tidak tampak meski dirasakan kehadirannya sesaat.
__ADS_1
Huuuffft, mungkin wanita itu adalah orang penting dalam tugasnya sebagai ketua jurusan. Ah, aku harus memercayai suamiku. Semua orang tahu bahwa ia sudah menikah, dan semua civitas akademika di kampus ini pun tahu bahwa seorang Nesya Fitri Anita, mahasiswa tingkat ketiga Jurusan Akuntansi adalah istrinya.
Akhirnya, aku mengirim pesan chat kepadanya.
[ Sayang, aku pulang dulu ya? Selamat bekerja & Love you.]
Pesan yang aku kirim sudah centang dua, meskipun baru berwarna abu-abu. Aku pun memilih beranjak memesan taksi online menuju rumah sakit ibu dan anak.
"Maaf, Mba ada keluhan apa datang sendirian ke rumah sakit ini?" tanya dokter di hadapanku.
"Saya mau memeriksakan diri, Dok. Sudah satu bulan, belum datang bulan lagi."
Dokter kandungan tersebut melirikku dari atas hingga ke bawah. "Di mana suami, Ibu?"
"Dia sedang bekerja, Bu. Saya merasa tidak enak mengganggunya, jadi saya putuskan melakukan pemeriksaan sendirian."
Dokter tersebut menganggukkan kepalanya. Lalu mulai melakukan pemeriksaan awal, mengecek tekanan darah, lingkar lengan, berat badan, dan yang terakhir memintaku berbaring di atas brangkar.
Ini adalah USG yang pertama kali untukku. Dulu, waktu hamil Elena, aku tidak merasakan pemeriksaan seperti ini. Membuatku merasa sedikit canggung dan takut terjadi sesuatu pada bayiku jika benar-benar hamil.
Saat jel mulai dioleskan pada perut bagian rahim, aku mulai merasa was-was. Lalu, ada alat elektronik ditempelkan padaku. Aku menahan tangan dokter itu.
Dokter itu tersenyum dan menggelengkan kepala. "Apakah ini kehamilan pertama Ibu?"
"Bukan, Bu. Ini kehamilan kedua."
Dokter itu terlihat sangat terkejut. Karena bersasarkan biodata tadi yang aku berikan, saat ini umurku masih 21 tahun. Dokter tersebut kembali mencoba menempelkan alat itu kembali, dan aku halangi lagi.
"Sepertinya tidak jadi USG, Dok. Aku takut nanti anakku terkena radiasi dari alatnya."
Dokter itu terkekeh mendengar ketakutanku yang sebagai wong dusun tulen ini. "Ini aman kok, Bu. Tidak mengandung radiasi yang berbahaya bagi janin. Jika ini berbahaya, ya tidak mungkin dong diizinkan untuk menggunakannya?"
"Beneran aman kan, Dok?"
"Iya, ini aamaaan!"
Akhirnya alat itu menempel di atas perut yang sudah diolesi jel yang terasa dingin di kulitku. Lalu, pada sebuah layar aku melihat ada gambaran yang tidak bisa aku lihat.
__ADS_1
Kening dokter itu terlihat naik, dia menggeser-geser kembali alat tersebut di atas perutku. Sejenak ia tampak tersenyum.
"Waaah, selamat ya Bu. Memang benar ini masih terlalu awal, tetapi ini adalah kantong selaput tempat calon bayi ibu akan bertumbuh."
Dokter tersenyum kembali. "Dan sepertinya ada dua kantong yang akan membesar di rahim Ibu."
"Maksudnya, Dok?"
"Bayi yang Ibu kandung ini ada dua, itu artinya bayi kembar. Selamat ya, Bu."
Air mataku menetes begitu saja terharu mendengar berita ini. Ternyata, anak Mas Aren yang ada di dalam rahimku adalah bayi kembar. Tak lama setelah itu, peralatan tadi diserahkan kepada perawat, sang dokter pun beranjak.
Perawat membersihkan sisa jel yang masih menempel dan merapikan alat USG itu. Aku duduk dan segera turun bergerak ke tempat dokter itu berada.
Dokter tadi terlihat melakukan sesuatu pada komputer dan printer berderit mencetak sesuatu yang dikeluarkan oleh dokter itu. Sementara, perawat memasukkan hasil cetakkannya ke dalam amplop.
"Ini, Bu, hasil USG pertama." Benda itu diserahkan kepadaku.
Aku pun membuka ampop yang berisi benda itu. Meski aku tidak tahu yang mana tanda keberadaan calon bayiku, yang penting aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Jika suamiku mengetahuinya, dia pasti akan menangis saking terlalu bahagianya.
"Sayang, ayo kita kasih tahu papa kalian."
Aku pun membuka ponsel. Ternyata, pesanku telah dibaca, tetapi tidak dibalas.
degh
Rasanya kok perih? Jelas pesanku sudah dibaca, tetapi ia tak membalas. Aku mencoba mengingat kejadian tadi malam. Apakah aku keterlaluan?
Usai berterima kasih kepada dokter, Aku segera menuju ke rumah. Aku ingin memasak spesial buat suamiku. Aku ingin memberikan kejutan kepadanya. Aku sudah membayangkan betapa bahagianya ia saat nanti.
Namun, saat aku sampai di rumah, tampak mobil milik Mas Aren hendak beranjak berjalan meninggalkan ruko.
"Mas?"
Dia ke mana? Kenapa tidak memberi kabar? Aku pun masuk dan segera mencari orang tuaku.
"Mak, tadi suamiku pulang ya?"
__ADS_1
"Lhoh? Emangnya dia tidak ngabarin pulang buat ambil pakaian karena ada dinas keluar kota?"