
Beberapa waktu dia masih belum hamil. Orang tuaku mulai sibuk menanyakan apakah istriku itu perempuan mandul apa bukan. Aku tidak memedulikan itu, yang penting, dia bisa memenuhi has rat kelelakianku. Aku baru menyadari aku adalah pria hyper s e x.
Memasuki bulan kelima pernikahanku dengan Nesya, Mak mulai nyinyir menyuruhku untuk mengurusi sawah. Sebelumnya hanya Mak dan Bapak saja yang ke sawah.
"Kau ini udah menikah, masih saja menumpang hidup seperti ini? Kau pikir uang itu jatuh dari langit? Untung saja istrimu belum hamil. Jika sudah hamil, aku tak tahu harus mengusir kalian ke mana lagi." ucap Mak marah-marah tak jelas.
"Kemarin Mak terus menanyakan kapan Nesya hamil? Sekarang malah bersyukur?"
"Kau ini kalau tidak bisa nyari uang, jangan sembarangan mengajak anak orang kawin! Kau pikir aku ini mesin pencari uang? Aaah, dosa apa aku punya anak laki-laki tak berguna sepertimu!" Mak berlalu dan aku segera mencari Nesya.
Setelah berkeliling di dalam rumah, Nesya masih tetap tidak ditemukan? Kemana dia?
__ADS_1
Aku menuju ke belakang rumah. Kamar mandi warga dusun ini memang masih benar-benar minim dan seadanya. Dari arah kamar mandi yang hanya ada sumur yang harus ditarik dengan ember, terdengar suara Nesya yang tengah muntah-muntah tak karuan. Apa dia kebanyakan makan duren? Kebetulan dusun ini lagi musim duren. Semua orang bisa makan duren dengan percuma.
Aku intip sejenak lalu aku kembali lagi ke dalam rumah menunggunya menyelesaikan hajatnya tersebut. Tak lupa, aku menunggu sambil memainkan game yang seadanya karena tidak ada jaringan. Beberapa waktu kemudian Nesya muncul langsung menuju kamar.
Aku segera mencarinya. "Dek, kamu ke sawah dulu sanah! Mak udah marah-marah! Masa iya cuma bisa numpang hidup aja di sini?"
Wajah Nesya terlihat putih, hingga bibirnya ikut putih. Aaah, dari pada ambil pusing lebih baik aku main game kembali.
Nesya dengan patuh tanpa mengatakan apa-apa mengambil caping untuk ke sawah. Beberapa waktu kemudian akhirnya aku tahu, Nesya ternyata sudah hamil. Terserah lah, hamil tak hamil itu bagiku sama saja. Yang penting di saat aku menginginkannya, dia harus siap ... bagaimana pun itu.
Nesya terlihat lebih telaten dibanding aku. Meski saat ini dia berbadan dua, dia masih rajin bolak balik ke sawah. Dengan patuh, Nesya mengangguk setuju dengan perintah Mak.
__ADS_1
Aaah, aku malas sekali tinggal di pondok. Di sana tidak ada kamar mandi. Aktifitas MCK semua dilakukan di sungai yang ada di pinggir sawah. Namun bagaimana lagi? Dari pada Mak marah-marah tak jelas? Ini bisa jadi alasan buatku menghilang dari omelan Mak.
Setelah beberapa waktu tinggal di sawah, untuk pertama kalinya aku mendengar Nesya mengeluh. Dia memintaku untuk membantunya ke sawah.
"Abang itu kan suamiku, kepala rumah tangga. Seharusnya Abang yang bekerja. Aku ini sedang mengandung anak kamu."
Udah mulai berani bersuara dia? Aaah, permainanku lebih penting dari pada sawah-sawah itu.
"Katanya dulu kamu mencintaiku? Jadi, harusnya kamu yang bahagiain aku, dong?"
Dia terlihat semakin protes, ketika dia semakin bersuara, ucapannya langsung aku potong. "Kalau kamu sudah tidak mau menuruti permintaanku, yaa ... aku bisa---"
__ADS_1
Aku mengancam akan menceraikannya. Namun, dia langsung memotong. Haha ... aku tahu dia tidak akan berani macam-macam padaku. Dia pasti takut menjadi janda.
"Baik lah. Kamu main saja! Biar aku yang bekerja!"