
"APA? AREN KECELAKAAN? KENAPA BISA BEGITU?" tanya mama mertua dengan suara yang sangat keras setengah berteriak.
"Halo, Nesya?"
Sepertinya ponsel berpindah tangan kepada papa mertua. "I-iya, Pa."
"Sekarang kamu ada di mana?"
"Di White House Medica, Pa."
"Baik lah, kami akan ke segera ke sana."
Setelah panggilan ditutup, aku kembali menuju ke ruang tempat suamiku ditangani. Para Nakes masih berjibaku dalam menangani suamiku. Semoga bukan sesuatu yang buruk, Mas Aren bisa melewatinya dengan baik.
Mataku tiada henti meneteskan butiran bening yang mengalir satu per satu menjatuhi pipi. Namun, tanganku terus melawan menepis kehadiran mereka menyatakan bahwa aku kuat dalam menghadapinya.
Entah sekian waktu berlalu, tetapi belum ada tanda-tanda penanganan terhadap suamiku usai. Tiba-tiba saja, Dokter keluar dari balik tirai yang menutupi bagian suamiku ditangani.
"Keluarga pasien Arendra?" terdengar suara perawat yang berada di sisi dokter tersebut memanggilku.
Aku segera mendekati, tetapi wajah dokter dan perawat tersebut terlihat ragu saat melihatku.
"Mas Arendra itu suami saya, Dok. Dia baik-baik saja kan, Dok?" Tangan kugenggam dan kutaruh di dada penuh harap.
"Kami membutuhkan tanda tangan keluarga terdekatnya untuk menyetujui operasi yang harus segera dilaksanakan."
Air mata kembali terjatuh dan kali ini butirannya jauh lebih besar dari sebelumnya. "Jangan katakan, bahwa kondisinya buruk, Dok?"
Dokter menggelengkan kepala. "Namun, begitu lah terjadi. Kami membutuhkan tanda tangan tersebut dengan segera. Ini tentu berkaitan dengan surat pernyataan dan bersedia menanggung semua biaya."
Dokter melirik ke belakang. "Pasien Arendra seorang ASN kan? Akan tetapi, biayanya mungkin tidak bisa ditanggung oleh BPJS. Tapi—"
__ADS_1
"Lakukan lah, Dok. Saya tidak masalah dengan berapa pun biaya yang akan dikenakan." Kedua tangan kutangkupkan penuh harap.
"Saya hanya berharap, kembalikan kondisinya seperti semula."
Dokter tersentak menatapku sungguh-sungguh. "Kami akan berusaha sebaik mungkin, untuk hasilnya, kita harus banyak berdoa supaya mendapatkan hasil terbaik."
Aku mengikuti keberadaan dokter menuju ruang kerjanya. Menandatangani beberapa surat pernyataan, dan persetujuan. Setelah itu, suamiku langsung dipindahkan ke ruang operasi.
Aku melihat kedua mertua telah sampai, mengikuti langkah kami yang bergerak mendorong brangkar.
"Bagaimana, Nesya? Aren mau dibawa ke mana?" tanya Mama Mertua dengan heran.
"Mas Aren harus segera dioperasi, Ma."
Mama Mertu terlihat menghentikan langkah menutup mulutnya. Papa Mertu mendekap kedua pundak Mama menganggukkan kepala. Lalu kami bersama-sama mengikuti brangkar menuju ruang operasi.
Aku hanya bisa membelai pipi suamiku sejenak. Wajahnya telah lebam dan membengkak. Hatiku sunggu terluka melihat itu semua. Aku ingin, biar aku saja yang merasakan semua itu.
"Sudah ya, Bu ... batas sampai di sini saja!" Seorang perawat mulai membatasiku, karena brangkar telah melewati pintu masuk ruang operasi.
Pundakku disentuh dari belakang, ternyata itu adalah Mama Mertua. Aku langsung memeluk mertuaku ini. Orang yang selalu hadir dalam diamnya untuk membantu kesusahanku.
"Maa, maafkan aku. Maafkan jadi istri tidak berguna buat Mas Aren." Kami berdua, sesegukan saling berpelukan.
Sekian jam kami lewati, menunggu operasi yang tak kunjung usai. Bapak pun telah sampai, membawakan peralatan untukku dan Mas Aren.
"Nesya, kamu terlihat sangat lelah, bagaimana kalau kamu pulang saja? Apalagi kamu lagi hamil muda, tidak baik untuk kondisi janinmu jika terlalu lelah begini." ucap Bapak mengusap pundakku yang telah kuyu duduk menunggu hasil yang tak kunjung selesai.
"Jadi, Nesya hamil?" Mama dan Papa mertuaku turut mendekat.
"Iya, Ma. Alhamdulillah, aku sedang mengandung anak Mas Aren. Ta-tapi ...." Air mata kembali terjatuh sesuka hati.
__ADS_1
Papa mertua menyerahkan selembar sapu tangan kepadaku. Aku segera menerima dan mengusap air mata ini. Aku tidak boleh begini! Aku harus kuat! Anak-anakku pun harus dipaksa untuk kuat semenjak mereka masih belum berbentuk.
"Kamu istirahat saja! Biar kami yang menunggu Aren," ucap Mama Mertuaku.
Aku menggeleng pelan, rasanya tidak mungkin juga aku bisa tidur dengan nyenyak. "Aku ingin selalu berada di sisinya, Ma. Mama, Papa, dan Bapak jangan mengkhawatirkan aku dan anak-anakku. Kami bisa menghadapinya."
"Kalau begitu, kamu makan dulu! Tadi, Mak-mu udah menyiapkan makanan untuk kamu."
"Iya, Pak. Terima kasih."
Akhirnya, lampu tanda proses operasi dimatikan setelah lima jam yang lalu mereka masuk ke sana. Tak lama kemudia, Dokter dan seorang perawat keluar dari ruang bedah tersebut.
Papa Mertua yang kebetulan berada pada posisi tersebut, menyambut kehadiran orang yang membedah suamiku. "Bagaimana dengan keadaan anak saya, Dok?"
Dokter terlihat mengglengkan kepalanya beberapa kali. "Untuk sementara ini, kondisi pasien bisa dikatakan stabil. Kami baru saja memberi tindakan operasi untuk mengurangi tekanan pada serabut saraf dan pembuluh darah yang menyuplai saraf pengelihatan dengan mengurangi pembengkakan yang terjadi akibat trauma/cedera."
Semua menyimak dengan seksama termasuk aku. Sepertinya ada kasus yang cukup berat dialami oleh suamuku. Aku tak ingin berspekulasi lebih tinggi, akan tetapi kami berharap operasi tadi benar-benar sukses.
"A-apa aku sudah bisa menengok suamiku, Dok?"
Dokter melirik ke arah dalam, lalu berdiri kembali ke dekat kami. "Nanti setelah dipindahkan pada ruang perawatan, kalian semua bisa melihatnya secata bergantian," terang Dokter yang masih menggunakan baju steril itu.
*
*
*
Keesokkan pagi, Nesya yang tidur di samping ranjang menggunakan kursi yang ada, menggenggam tangan Rendra suaminya yang telah dipenuhi oleh perban.
*
__ADS_1
*
*