
"Sudah lah, Bang. Kamu jangan membuatku tertawa dengan apa yang kamu katakan."
"Bahkan, semua yang kamu ucapkan barusan, tidak pernah aku dengar dari bibirmu, saat kita masih bersama."
"Aku selalu merasa bahwa kamu tak pernah mencintaiku. Hanya aku yang berjuang sendirian, hanya aku yang berusaha mempertahankanmu ... yaaa! Semuanya hanya aku yang melakukannya untukmu!"
"Namun apa? Kamu memberikan sesuatu yang membuatku merasa jijik pada diri sendiri hingga seumur hidup!"
Tanpa aku sadari, volume suara ku meninggi dengan sendirinya. Bang Alan bangkit dan mendekat padaku. Dia berlutut menggenggam tanganku.
Sementara, gadis kecil yang tadi duduk di sampingku, berlari ke kamar karena terkejut mendengar suara yang bahkan bisa didengar dengan jelas oleh pekerja yang ada di lantai bawah.
"Aku tahu, ayoo! Pukul lah aku sepuas hatimu! Namun, setelah itu ... apa kamu bisa melupakan masa lalu kelam yang pernah terjadi di antara kita?"
Mudah sekali dia berkata seperti itu? Baginya, mungkin semua bukan lah apa-apa. Lalu, aku? Apakah dengan begitu saja melupakan segalanya?
"Sudah lah, Bang. Jika kamu masih mengingat masa lalu, kamu bisa kembali dekati siapa pun yang ada di masa lalumu!"
Aku tarik tangan yang berada di dalam genggamannya dan beranjak segera masuk ke dalam kamar.
braaak
Pintu kututup dengan sangat keras, membuat Elena terkejut dengan wajah merah meneteskan air mata. Aku segera memeluk gadis kecil itu.
"Maafkan Ibuk ya, Nak?" Kucium pucuk kepala gadis yang rambutnya semakin panjang ini.
"Eyena takuuut Ibuk ... kok, Ibuk malah-malah cama Ayah? Ayah kan mau mamam cama-cama. Eyena mau Ayah, Buk." Elena melepaskan diri bersembunyi di balik selimut.
"Jika Elena kangen Ayah, Elena boleh kok main sama Ayah. Tapi, Ibuk tidak bisa ikut kalau Elena main sama Ayah. Tapi Elena janji, jika main sama Ayah, Elena harus kembali pulang ke sini."
Elena mengintip menatapku. "Kok Ibuk tidak mau ikut?"
Aku berikan senyuman setulus mungkin mencoba menahan amarah akibat letusan emosi barusan. Aku belai kepalanya merasa bersalah telah memberikan tontonan yang tak ramah anak tadi tepat di hadapan gadis kecilku ini.
__ADS_1
Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Dia tidak akan mengerti apa yang ibunya ini rasakan.
Beberapa waktu kami tinggalkan, semua terdengar hening. Aku intip ke luar, dan Bang Alan sudah tak terlihat lagi.
Aaah ... aku pegang dada ini yang masih menahan debaran karena amarah. Namun, entah kenapa aku merasa bersalah. Apakah sikapku tadi terlalu keras kepadanya?
Aku pun kembali mengecek CCTV. Di sana masih tak ada pergerakan. Aaah, mood yang tadinya semangat untuk aksi penangkapan, ternyata hancur karena mantan.
Lebih baik, aku menyiapkan makan siang dan menyuapkan Elena. Meskipun lebih cepat dari jadwal seharusnya. Namun, aku merasa tidak tega meninggalkannya sebelum memastikan dia sudah makan sebelum aku kembali ke kampus.
Aku berangkat harus lebih cepat agar saat sampai, aku bisa menjalankan ibadah Zuhur di kampus. Jika menunggu di rumah, maka akan dipastikan aku akan terlambat untuk perkuliahan berikutnya.
Aku sampai tepat di saat azan Zuhur di masjid fakultas bergema. Di sana aku menemukan Lingga yang tengah asik berselancar di dunia maya.
"Hai, Ga?" bisikku duduk di sampingnya usai berwudhu.
Namun, Lingga tak bergeming dengan sapaanku. Sepertinya dia marah karena aku tinggal tadi.
"Maafin aku ya, Ga? Kamu marah karena aku tinggal tadi?"
Usai sholat berjamaah, kami keluar dari mesjid dan kembali wajah datar milik pria iseng tadi berada di dekatku mengambil sepatunya. Aku memilih seolah tidak melihat dia. Namun, Lingga malah mencolekku dan memberikan aba-aba agar aku melihat ke arah pria itu. Dia masih menatapku dengan tajam.
"Apa yang terjadi di antara kalian? Kenapa dia terlihat sangat marah?"
Kelakuan Lingga sontak membuatku tergelak. Ternyata gampang sekali menghilangkan marah di hatinya. Cukup dibujuk dengan gibahan terbaru, dia akan kembali seperti semula.
"Mungkin dia jatuh cinta padamu?" jawabku asal.
"Aaah? Masa sih tampang jatuh cinta seperti itu? Dia melihat dan terus memperhatikanmu lho? Lihat itu!"
Pak Arendra menyandarkan diri pada dinding mesjid bersidekap dada. Tak ada senyuman sama sekali pada wajahnya. Dan benar, seperti yang dikatakan Lingga. Netra milik Pak Arendra ini tak putus mengawasiku.
Tak lama, seseorang yang mirip dengannya keluar dari mesjid ini. Jadi adiknya masih di sini?
__ADS_1
"Siapa itu, Nesya?" tanya Lingga histeris melihat Pak Arendra versi muda pun muncul keluar dari mesjid.
"Mungkin adiknya," ucapku pura-pura tidak kenal.
"Sepertinya begitu, mereka terlihat sangat mirip." Lingga terus heboh sendiri melihat duo saudara itu.
"Yuk Ga, kita masuk kelas. Kamu udah makan kan?" Aku tarik lengan Lingga yang masih mesem-mesem melihat mereka berdua.
"Wah, pilih yang mana ya? Aku bingung sendiri memikirkannya," celetuk Lingga seolah mereka berdua memang memiliki rasa padanya.
"Terserah, Ga. Yang mana pun boleh, Ga. Bahkan jika keduanya buat kamu pun tak masalah untukku." Aku terus menariknya agar meninggalkan mesjid ini.
"Aaah, bagaimana ini? Aku tidak bisa memiliki dua suami sekaligus. Aku pusing jika disuruh memilih." Lingga terlihat benar-benar bingung dengan drama yang dibuatnya sendiri.
Kami masuk kelas, di saat sang dosen kil--*** masuk mengikuti kami. Di kuliah siang ini, ada larangan terlambat barang satu menit pun.
Asal dosen udah masuk kelas, maka yang di belakang tidak boleh masuk lagi. Hitungan absensinya alpha atau tanpa keterangan. Jika alpha lebih dua kali, maka ... bersiaplah mengulang mata kuliah yang sama tahun depan.
**
Keesokan hari, dosen kemarin memaksaku untuk mencari-cari beberapa buku ke perpustakaan pusat milik universitas. Konon kabarnya buku-buku di sana jauh lebih lengkap dibanding ruang baca di fakultas.
Ada tugas luar biasa mencari tugas berdasarkan materi yang diberikannya kemarin. Aaah, Pak Suhandi sungguh sangat menakutkan. Kami semua harus jauh-jauh mencari tugas yang diberikan hingga ke perpustakaan pusat.
Aku mencari-cari buku yang berkaitan dengan materi yang diberikan. Setelah menemukan buku tersebut, aku duduk di samping pria berkacamata yang tengah sibuk dengan laptopnya. Kebetulan sekali, buku yang aku bawa sangat banyak. Hingga membuat sedikit kegaduhan karena aku lepaskan begitu saja ke meja.
bruuuk
Suaranya cukup keras hingga yang sedang duduk membaca atau pun kegiatan lainnya, menoleh ke arahku. Aku tangkupkan kedua tangan memohon maaf pada mereka. Ternyata, pria yang sibuk dengan laptop adalah si muka datar kedua.
"Kamu?"
"Maaf." Kutangkupkan tangan dan memilih buku-buku itu lagi. Aku akan mencari tempat lain saja.
__ADS_1
"Ooh, jadi begini kelakuanmu pada adik ipar?"