
"Kenapaa dilepas?" teriaknya. "Kita harus buru-buru biar tidak kemalaman kembali ke kampus." teriakny lagi.
"Pelan-pelan ajaaa Paaaak!" membalas ucapannya tadi.
Dia terus melesat tak memedulikanku yang sudah ketakutan setengah mati. Bagaimana nasib anakku bila nyawaku melayang sia-sia karena ulahnya ini?
Akhirnya kami sampai di rumahnya menjelang azan maghrib. Dia langsung masuk membuka gerbang pagar menggunakan kode-kode seperti drakor yang aku tonton di kala senggang.
"Kamu tunggu di sini!"
"Tapi--" Namun, dia sudah menghilang sebelum aku selesai menyanggah apa yang diperintahkannya.
Padahal, aku berencana untuk segera pulang. Selain ingin melakukan pembekukan pada orang yang telah mencuri uangku dengan diam-diam, Kak Vina pasti sudah sangat lelah karena sudah lama menunggu.
Hal ini membuatku setiap saat melihat ke arah jam tanganku. Aku merasa takut jika Elena rewel membuat Kak Vina pusing karena aku belum juga pulang.
"Kenapa melihat ke arah jam melulu?" Pak Arendra muncul sembari menggendong bocah perempuan dengan cengiran melihatku di punggung pria ini.
"Ibuuuuk ...." soraknya terlihat gembira meski dia berada dalam gendongan orang yang tidak dikenalnya.
"Elena, kenapa ke sini?" Aku segera menyambut dan menuruni Elena dari punggung Pak Arendra.
"Ibuk pulang lama. Eyena nemeni Tante mengantar baju ke cini." Dia melepaskan tanganku dan kembali naik ke punggung Pak Arendra.
"Eyena mau endong Papa." Dia bergelantungan di leher pria ini.
"Papa? Siapa yang kamu panggil Papa, Elena?" tanyaku hendak menarik gadis kecil itu. Dosenku itu kembali bangkit sambil menggendong Elena di punggungnya. Elena mendekap erat leher Pak Arendra.
"Ini Papa Eyena." Elena menyandarkan kepalanya di balik punggung pria yang sudah terkekeh semenjak Elena memanggilnya Papa.
"Dia bukan Papamu," ralatku.
__ADS_1
"Ini Papa Elena!" Elena bersikeras dengan keyakinannya itu.
"Sudah! Kenapa kalian meributkan ini? Gak apa juga kali, aku dipanggil Papa! Kamu juga boleh memanggilku Papa. Anak-anakku sudah banyak dan besar semua."
Jadi, Pak Arendra sudah punya anak yang besar? Wajar sih ... Umurnya sudah tiga puluhan. Di dusunku, pria seumuran dia, sudah memiliki anak kelas empat SD. Lalu, di saat dia sudah berkeluarga, kenapa masih saja mengusikku? Dasar, semua lelaki sama saja. Aku hanya bisa merutuknya di dalam hati.
"Jadi, ABapak sudah punya anak?" Aku mencoba memastikan kembali.
Dia menganggukan kepala dengan senyum jahil hingga matanya tak terlihat. "Sudah, bahkan aku sudah memiliki cucu."
"Bapak dari dusun mana? Aku tidak menyangka orang terpelajar seperti Anda sudah memiliki cucu. Seperti Mak ku saja, di usia tiga puluh dua tahun telah memiliki cucu."
"Hahaha ...." Dia tertawa dengan terbahak. Meski tidak mengerti, Elena ikut tertawa dengan terbahak.
"Ayo, kamu masuk dulu! Aku mau mandi dan di sana camer sudah menunggumu." ucapnya.
Aaah, camer? Maksudnya? "Pak, kita ke sini cuma buat jemput kunci kan?"
Aku lihat Pak Arendra balik kanan ke dalam membawa Elena. Elena terus melihatku yang masih dalam mode bingung.
"Ibuuuk, ayoook!" teriaknya.
Aku mengikuti mereka dengan patuh, tentunya harus mengunci kendaraanku terlebih dahulu. Aku sedikit tergopoh berlari mengejar mereka yang sudah jauh masuk ke dalam rumah.
Perasaanku bercampur aduk menapaki kaki untuk kedua kali di rumah ini. Aku masih teringat kejadian beberapa waktu lalu saat bertemu dengan suami Bu Jenie. Tepat saat aku berada di depan pintu, suara azan maghrib pun berkumandang.
"Assaalamualaikum." Salam yang kuucap seperti lari ke dalam, nyaris tak terdengar.
"Walaikum salam." Aku melihat Bu Jenie berjalan menyambutku dengan wajah ramahnya. Beliau langsung menyambut dengan pelukan.
"Waah, ini Nesya kan? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa ya? Kamu udah beda banget dari terakhir kali kita bertemu, aku sampai pangling." ucap Bu Jenie dengan akrabnya.
__ADS_1
"Mah, kenapa ngomong kayak anak muda gitu sama dia?" ucap pria berkumis, suaminya.
"Haha, kenapa Papa malah protes begitu? Mama dan kawan-kawan lainnya berasa seumuran jika bertemu dengannya." Bu Jenie menatapku berharap membela ucapannya.
"Be-benar kata Mbak Jenie, Pak." Aku masih ingat, Bu Jenie and the gank memintaku memanggil mereka seperti itu.
"Lho? Kamu manggil istriku 'Mbak' kenapa malah memanggilku 'Pak'?" Sang suami pun protes kepada. Apakah aku harus memanggil beliau dengan 'Mas'?
Aku dengar Kak Vina tertawa terbahak karena obrolan kami ini. "Walaaah, Om ... Tante ... Nesya aja memanggilku 'Kakak.' Seharusnya Om dan Tante sadar diri dan ingat sama usia, ini malah minta dipanggil sapaan muda seperti itu. Padahal orang-orang seusia Om dan Tante ini udah sesepuh di dusun dia."
Kedua orang tua Pak Arendra menatapku dengan wajah bingungnya. "Bener, kata Vina?" tanya Bu Jenie kembali.
Aku pun menganggukan kepala. "Dusun kami itu, belum memiliki SMA, Pak ... Mbak. Jadinya ya, dari pada harus sekolah keluar dan biayanya besar, rata-rata ya nikah. Seperti aku dulu "
Ayah Pak Arendra ini menggeleng kan kepala dan wajahnya terlihat sangat prihatin. "Jadi kasus perceraian di sana bisa dibilang tinggi ya?"
Aku mengangguk pelan. Aku tidak bisa memungkiri hal ini. Karena aku sendiri mengalaminya. Aah, jika seandainya saja aku bukan anak dusun.
"Apa semua yang tamat SMP di sana memilih untuk menikah?" Bu Jenie menatapku dengan wajah tanda tanyanya.
"Nggak juga sih, Mbak. Kalau dia berasal dari keluarga kaya raya, mereka akan melanjutkan sekolah ke kota. Bahkan, ada teman sekolahku dulu yang sudah duduk di bangku kuliah.
"Ngobrolin apa sih? Sholat dulu!" Seorang pria yang mengusap rambut dengan handuk menyela obrolan kami. Lalu dia masuk ke dalam ruangan yang mungkin kamarnya, diikuti oleh Elena.
"Elena? Elena?" Aku panggil gadis kecil yang tidak memedulikan keberadaanku ini. Dia ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Ya udah, biarin aja! Aren memang gampang banget mengambil hati anak kecil." Bu Jenie mempersilakanku melaksakan kewajiban maghrib di mushola khusus yang ada di dalam rumah itu.
Setelah itu, aku melihat Elena terus mengekori Pak Arendra ke mana pun dia melangkah. "Mas, kamu kasih apa sih Elena sampai nempel kayak gitu?" tanya Kak Vina mewakili isi kepalaku.
Pak Arendra hanya menggoyangkan kedua alisnya dengan senyum penuh misteri. Lalu, dia bersama Elena asik berdua kembali membuatku merasa tidak sabar untuk menarik anakku ini.
__ADS_1
"Pak, katanya mau jemput mobil tadi? Sekarang udah semakin malam. Sebentar lagi saya harus menidurkan Elena."