Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
81. Kode keras


__ADS_3

"Tujuanku adalah ... hmmm ... kasih tahu dulu dong yang mana orangnya?" Pak Arendra masih menyebarkan senyuman percaya dirinya terhadap seluruh pasukan laundry ku yang hebat.


Hmmm ... senyuman sepuluh sentinya membuat aku terbang. Ah ... tidak boleh! Aku lihat gadis kecil yang tengah dipangku oleh pria itu. Aku harus fokus! Membesarkan Elena, mengurus laundry dan menggaji para karyawannya, kuliah ... Aku harus bisa mendapat gelar sarjana.


Sepertinya Elena masih nyaman dengan keadaan kami yang seperti ini. Mungkin juga karena melepaskan dia bergabung dengan siapa saja, membuat Elena tidak pernah merasa kesepian. Elena tak membutuhkan sosok ayah. Lagian, mana mungkin sih Pak Arendra? Aku tak boleh bermimpi terlau tinggi.


Elena, semakin hari dia semakin besar. Aku selalu khawatir setiap teringat Elena menanyakan Bang Alan. Dia memahami, bahwa Bang Alan pernah tinggal bersama kami. Setelah dia sekolah, pasti akan banyak lagi yang akan dia tanyakan.


"Elena, suka Papa sebesar apa?" tanya salah satu anggota laundry membuyarkan apa yang tengah aku pikirkan


"Elena suka Papa sebesar ini." Elena melebarkan kedua tangannya.


"Waaah, besar banget ya? Jadi sudah bisa jadi Papa beneran buat Elena dong?" timpal Pak Arendra melirikku sambil tersenyum kembali.


Ada apa dengannya? Apakah dia merasa bahagia setelah bertemu dengan mantan kekasihnya tadi?


Dari sisi lain, Kak Vina menyikutku. "Kode keras tuh."


"Kode keras?"


Kak Vina terkekeh mengulum senyumnya. "Mas Aren, ga usah kode-kodean tak jelas. Orangnya gak paham makna konotasi, lebih baik pakai kalimat lugas!"


Aku mencoba memahami makna yang diucapkan oleh Kak Vina barusan. Waktu SMP aku belajar konotasi dan denotasi. Saat pendidikan paket C yang sangat singkat, membuatku tak memiliki waktu untuk memperdalam materi itu. Jadi, apa yang dikatakan oleh Kak Vina memang benar. Aku terlalu bodoh untuk memahami istilah-istilah yang tak kasat di telinga.


Aku mendapati kembali Pak Arendra yang tak hentinya menatapku. Dia tersenyum tipis lalu mencoba memilih menu yang tengah dipegang meskipun semua telah menyelesaikan makan.


"Jadi, siapa yang akan mentraktir kita?" tanyanya.


Kak Vina menepuk keningnya. "Selama ini ke mana aja, Boss?" ucapnya gemas.


"Pilih aja, Pak ... mau makan apa?" tanyaku.


Lalu Pak Arendra menyadari semua piring yang di atas meja telah kosong. Dia meletakan kembali menu tersebut tersenyum kikuk. "Sepertinya aku merasa tak enak jika makan sendirian."


"Boss besar kami sudah menunggu kamu dari tadi lho Mas. Jadi mau ikutan ditraktir apa tidak?" Kak Vina makin gemas dengan kelakuan Pak Arendra yang setengah-setengah itu.


Dia kembali memperhatikan siapa saja yang mengelilingi meja ini. Dia masih mencoba menebak sesuatu ternyata.


"Bapak, mencari siapa sih?"


Lalu dia mendekat dan membisikan sesuatu di telingaku. "Tolong kasih tahu, yang mana orangnya?"


"Maksudnya?"


"Boss kamu itu lho? Cewek apa cowok? Udah tua apa masih muda? Ada di sini nggak sih?" bisiknya kembali.


"Bapak mau apa sama dia?"

__ADS_1


"Aku ingin bicara empat mata dengannya."


"Ekheeemmm-hem-hem ...." Semua yang ada di meja ini mulai heboh dengan aksi bisik-bisikan di antara kami.


"Masih bingung nyari orangnya, Mas?" celetuk Kak Vina.


"Kalian ini nggak asik, pakai rahasia-rahasiaan segala." gumam dosenku memperbaiki posisinya yang masih memangku Elena.


Elena sedari sibuk memainkan menu makanan yang tadi dipegang oleh doktor muda ini akhirnya memilih beringsut turun dari pangkuan pria itu.


"Buuk, ayoo kita pulang." Elena menggenggam tanganku dan tangan Pak Arendra. Lalu menarik kami berdua menuju kasir.


Pak Arendra seketika gelagapan meraba-raba kantong mencari dompetnya. "Heemmm ...." Dia melirik ke arah meja tempat kami makan tadi.


"Elena, kenapa Papa dibawa ke sini juga?" tanyaku mencoel dagu gadis yang semakin besar ini.



"Iya, Elena mau ajak Papa pulang ke rumah kita." Elena kembali bergelayutan manja di tangan Pak Arendra.


"Berapa semuanya, Mbak?" tanyaku kepada kasir.


Beberapa waktu menunggu sang kasir menghitung, Pak Arendra tampak sibuk menghitung uang di dalam dompetnya sambil berjongkok memangku Elena. Dia mau apa coba?


"Jadi, total semuanya dua juta lima ratus enam puluh empat ribu rupiah."


"Kenapa, Pak?" Aku lirik Pak Arendra sembari menyerahkan kartu kredit pada sang kasir.


Pak Arendra melihat aksiku menurunkan Elena dari pangkuannya. Ia mengusap wajahnya terlihat frustrasi melihatku dan kartu yang sedang diakses oleh kasir.


"Sudah, Mbak. Terima kasih." Menyerahkan kembali kartu kredit dan nota pembayaran kepadaku.


Pak Arendra tanpak berpikir keras. Dia melihat ke arah meja, bergantian Elena dan Aku.


"Udah, Buuk. Ayo pulang ..." Elena kembali menarik tanganku.


Pak Arendra kembali berjongkok menarik Elena. "Tunggu, coba katakan pada Papa. Kenapa Elena mengajak Ibuk ke sini? Elena tahu ini tempat apa?"


"Ini kan tempat bayar-bayar, Pa. Biasanya kalau makan-makan, Ibuk yang bayar." terang Elena dengan wajah lugunya.


Pak Arendra mengacak rambut Elena dan kembali. "Jadi, selama ini kamu membodohi aku? Apa aku terlihat seperti orang bodoh di matamu?"


"Apaan sih, Pak? Gak jelas banget?"


Dia mengacak rambutnya kesal dan pergi begitu saja tanpa pamit. Aku hanya bisa melihat punggungnya yang terus menjauh. Jadi, sebenarnya dia mau apa? Tadi nanya-nanya ... Setelah tahu seperti ini, dia malah marah-marah sendiri.


"Dasar gaje!" akhirnya aku bermonolog sendiri mengungkapkan kekesalanku.

__ADS_1


"Kenapa dia?" tanya Kak Vina berjalan mendekat padaku.


"Kayaknya lagi PMS ... dia kan suka aneh tiba-tiba."


Kak Vina tertawa terbahak mendengar kekesalanku. "Sebenarnya dia orang yang dingin selalu memasang muka datar. Namun, aku lihat dia lebih ekspresif saat berada di dekatmu."


"Aah, masa sih? Aku lihat dia orang yang tak jelas begitu. Suka tiba-tiba aneh."


Kak Vina memainkan dagunya dan keningnya terlihat sedikit berkerut. "Hmmm ... Sepertinya dia begitu cuma sama kamu aja."


"Masa?"


"Iya. Coba lain kali kamu perhatikan dia saat berinteraksi dengan orang lain."


Kak Vina ini ada-ada saja. Aku berasa disuruh untuk menjadi detektif dadakan jika mesti mengikuti perintahnya ini. Kali ini ucapan Kak Vina tidak aku tanggapi.


*


*


*


"Kamu!" Pak Arendra menunjukku dengan wajah yang tidak biasa. Hari ini jadwal kuliah dengannya.


"Saya, Pak?"


"Sebutkan sepuluh prinsip dasar akuntansi!" Tanpa menjawab pertanyaanku, orang menyebalkan itu langsung melontarkan pertanyaan kepadaku.


Semua mata memandangku dengan wajah kasihan.


"Aa--"


"Kamu mendapat nilai C karena tidak langsung menjawab pertanyaan yang saya lontarkan!" ucapnya dan beralih pada mahasiswa lain. Dia tidak memberiku kesempatan untuk menjawab pertanyaannya.


Semua mahasiswa di dalam kelas itu memandangku dengan wajah prihatin. Aku bagai mendengar suara Ismail bin Mail di serial tuyul yang ditonton Elena setiap sore berkata, "Kasihan."


*


*


*


Yuhuuu ... Sembari menunggu apdetan Nesya ini, Yuk mampir pada karya sahabat Author yang kece badai di bawah ini.


Napen: Liana Kiezia


Judul: Tamu Ranjang Tuan Muda Imponten

__ADS_1



__ADS_2