
Tumben sekali suamiku memusingkan masalah pakaian kerja? Biasanya dia cukup sat set sat set udah siap untuk sarapan.
Apa dia merasa grogi kali ya? Aku pun mengingat penampilan-penampilan pejabat di kampus, hingga merenungkan bagaimana kostum Dekan yang terhermat. Setelah merasa cukup yakin, aku pun memilih kan pakaian untuk Mas Aren.
Setelah itu, aku membantunya memasang pakaian yang sudah aku pilih. "Apakah butuh bantuan untuk memasang celana juga?"
Suamiku mengguk cepat, lalu melirik gadis kecil yang cekikikan melihat reaksinya.
"Papa seperti anak kecil, Elena aja udah bisa pakai baju sendiri." Elena kembali terkekeh menutup mulutnya.
Akhirnya dia memilih menyorongkan celana di dalam kamar mandi. Dalam genggamanku telah tersiap sebuah dasi yang biasa dia pakai saat mengajar seperti biasa. Dia terlihat mengerutkan kening di kala aku memasangkannya.
"Apa tidak ada yang baru?"
"Pakai aja, masih bagus kok. Nanti saja beli yang barunya, jika sempat singgah ke pusat perbelanjaan."
Akhirnya dia setuju, dan dasi yang ada di tanganku ini segera dipasangkan pada lehernya yang jenjang. Aku hanya setinggi dadanya, hal ini membuatku sedikit berjinjit memasangkan dasi untuknya.
"Dasar jerapah? Boleh bagi tingginya dikit untukku?"
Mas Aren tersenyum mencubit daguku. "Nanti aku bagi buat ...." Dia mengusap perutku yang entah berhasil menjadi janin atau tidak.
__ADS_1
"Buat anak kita, bersiap lah melahirkan anak-anak jerapah!" bisiknya pada telingaku.
"Papa sedang bicara apa?" celetuk Elena.
"Papa sedang membayangkan masa depan keluarga kita, Sayang." ucap Mas Aren menggerakkan alisnya naik turun.
"Masa depan itu apa?" tanya Elena kembali.
Aku telah memastikan tampilan suamiku yang tak ada matinya ini, singkat dikatakan bahwa dia sangat tampan. Namun, dia terlihat tidak puas dengan hasil rancanganku untuknya.
"Begini aja?" Akhirnya dia bersuara dengan kerutan di keningnya.
"Iya, ini udah pas." Kuusap pakaian di bagian dadanya beberapa kali memastikan tidak ada kerutan. Masa suami tukang laundry pakaiannya tidak rapi, hmmm ... Tentunya wangi juga.
"Laaah? Ketua program studi kan memang ngajar di kelas juga? Dekan pun penampilannya biasa juga kok. Pak Suhandi juga sama."
"Yaaa, gaya seperti biasa saja. Jangan hanya karena naik satu tingkat, malah berganti penampilan! Jabatan hanya lah sementara, tetapi kewajiban yang diemban harus dilaksanakan dengan baik."
Suamiku tercenung menyimak dengan seksama ceramah pagi ini yang keluar dengan sangat lancar di bibirku. Wajahnya pun mengulas senyum jahil.
"Sepertinya kamu sangat cocok jadi sekretarisku, bisa mengingatkanku akan sesuatu yang bernama lupa. Terima kasih Sayang." Dia langsung menarik daguku dan mengecup bibirku.
__ADS_1
"Iiihh, maluuuu ...." Elena menutup matanya.
*
*
*
Kami berdua telah sampai di kampus. Setelah mencium tangannya, kami pun berpisah. Aku segera menuju ruang kuliah hari ini mencari posisi yang terbaik. Setelah itu, aku mengabari Lingga bahwa aku telah sampai dan menyiapkan bangku untuknya.
Pagi ini adalah jadwal perkuliahan dengan Bu Yenni. Aki tidak ingin mencari masalah, mekipun aku selalu dianggap salah. Makanya aku memilih hadir lebih cepat agar tidak menjadi perhatian beliau.
Setelah semua bangku terisi, kecuali bangku Lingga, Bu Yenni masuk ke ruang perkuliahan. Bagaimana ini? Lingga belum hadir juga?
Aku kembali mengecek pesan yang tadinya telah aku kirim. Ternyata masih centang satu. Sepertinya ponsel Lingga sedang tidak aktif.
Bu Yenni mulai mengecek kehadiran. Beliau selalu memanggil nama mahasiswa satu kelasnya satu per satu. Giliran nama Lingga dipanggil, aku mulai bingung harus bersikap bagaimana.
"Hadir." ucapku sembari menutup wajah dengan buku.
"Mana orangnya? Suaranya ada tetapi tidak kelihatan."
__ADS_1
Waduuh, bagaimana ini?