
"Dia di hotel?" Hmm ... coba kita ingat dulu. Oh, tadi Alven sempat cerita walau sejenak. Karena aku sedang buru-buru, jadi tidak terlalu fokus dengan Alven.
"Oh, barangkali dia baru nganterin dosen pembimbingnya. Katanya dia mau ngadain riset gitu dengan perusahaan Papa yang kebetulan juga dalam bidang IT. Jadi, katanya dosen mau bikin riset di perusahaan Papa."
Mata Nesya tampak berbinar mendengar penjelasanku. "Aah, kalian semua benar-benar hebat."
"Yang paling hebatnya siapa dulu?" Aku bersiap melonggarkan kerah baju yang tidak sempit ini.
"Bang Alven kereeeen ...."
"Lalu yang palinf keren siapa?"
"Papa kereeeeen."
Hmmmff, ni anak giliran menunggu pujian darinya aja pasti berasa pelit. Apa salahnya kan, dia muji suaminya dikit? Kan nggak salah muji kehebatan aku sebagai suaminya.
Hah, sudah laah. Aku harus berhenti berha ... tiba-tiba Nesya memelukku dari belakang di saat aku tidak lagi mengharapkan mulut wanita kesayangan memujiku.
"Kamu yang terbaik dari segalanya. Bagiku, kamu adalah yang paling sempurna mengisi segala kekosongang yang ada pada diriku."
__ADS_1
Aku lepas sejenak tangan yang memelukku dari belakang. Aku putar tubuh ini dan memeluknya dari depan. "Nah, gini yang enak." Kukecup bibir Nesya sejenak. "Nanti malam mau berapa ronde?" bisikku di daun telingamya.
Dia langsung melepaskan pelukan dan mencubit pinggangku. "Seketika suasana romantis tadi jadi ambiar gara-gara kamu, Mas."
"Yyeeey, kalau suami istri itu yang paling romantis itu ya di atas ranjang. Hmmm ... Di sana lah arti menyatu yang sesungguhnya." Nesya kembali kutarik ke dalam pelukan.
"Apa kamu benar-benar bahagia saat bersamaku?"
Nesya menganggukan kepalanya di dalam pelukanku.
"Jika ternyata aku tak sesempurna yang kamu pikir, apa kamu mau berjanji untuk tidak akan meninggalkanku?"
Bibit Nesya telah membulat menyambut bibirku. Aah, kalau bukan di kampus mungkin semua akan berbeda.
tok
tok
tok
__ADS_1
Ketukan pintu itu membuyarkan kami berdua dengan nyata. Nesya segera merapikan diri, dan rambutnya kurapikan dengan beberapa kali belaian. Nesya mulai merapikan segala kekacauan yang aku buat.
Aku segera membuka pintu dan do sana terlihat Pak Suhandi menatapku dengan wajahnya yang digin. Setelah itu, dia terlihat mengintip ingin melihat apa yang ada di dalam ruang kerjaku.
"Ini lah enaknya memiliki istri mahasiswa sendiri ya?"
Sebuah pernyataan yang cukup menohok keluar dari mulut pria, yang dulumya adalah dosenku juga. Namun, Nesya memilih untuk tidak berkomentar.
"Selamat ya Rendra! Kamu yang masih muda, sudah memiliki jabatan sebagai ketua Progran studi Akuntansi Murni di jurusan kita." Pak Suhandi mengulurkan tangannya, membuatku turut menyambut uluran tangannya.
Namun, aku merasa bahwa kehadiran Pak Suhandi ke ruanganku bukan lah untuk bersalaman mengucapkan selamat saja. Hubungan kami akhir-akhir ini tidak seindah dulu.
"Hmm, katakan padaku kamu meminta bantuan kepada siapa?!"
"Apa yang Bapak maksud?" Tiba-tiba Nesya turut menyela obrolan kami.
Namun, Pak Suhandi tersentak menatap istriku dengan lebih dalam lagi.
"Sekarang kamu sudah cukup berani ya kepadaku? Apa Rendra yang mengajarkannya kepadamu bagaimana bersikap terhadap seorang yang menjadi gurumu?"
__ADS_1
(Aduuuh, authornya dah ngantuk pakai banget bahkan nulisnya sampai merem melek, gara-gara ketiduran. Hari ini skian dulu ya kakak.)