Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
54. Minispy


__ADS_3

(Authornya lagi capek banget bolak-balik Dusun... lagi ga kuat nulis panjang-panjang)


Aku tak habis pikir, pagi-pagi yang masih kelam kakaknya yang menggedor pintu ruko. Giliran mau berangkat ke kampus, dengan wajah menakutkan sang adik datang-datang mengatakan akan mengantar cuciannya padaku. Kenapa tak sekalian dia mencuci sendiri? Oh iya, jika dia antar cucian ke sini, berarti pemasukan laundryku bertambah.


Aku lihat seseorang yang selalu tertangkap kamera CCTV juga sudah datang. Aku bingung harus bagaimana. Aku ingin sekali menangkapnya secara langsung. Namun, jika memang tidak ada kesempatan ... terpaksa harus aku lakukan dengan menyerahkan bukti secara langsung.


"Aku berangkat dulu ya Kak." Kulambaikan tangan kepada seseorang yang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri.


"Waaahh, kamu pasti pusing nih memilih siapa?" Kak Vina barusan, seolah menggodaku.


"Kenapa aku harus memilih?"


"Jadi kamu mau semuanya? Jangan maruk gitu, ah!" Lalu Kak Vina tertawa dan berlalu membawa sejuta tanya dalam benakku.


Aku pun segera menuju kampus, kebetulan bertemu dengan Lingga di parkiran dan seperti biasa, cipika cipiki dulu. Kami pun segera masuk mencoba mengecek beberapa informasi di ruang jurusan.


Aku mendapat informasi bahwa dosen siang ini tidak bisa masuk, sehingga jadwal diubah pada akhir pekan, tepatnya hari Sabtu. Ini adalah kesempatan bagus untukku.


Sepertinya Tuhan mendengar doaku. Sehingga aku diberi kesempatan untuk pulang cepat dan tak mengulur waktu lagi. Setelah itu kami kembali menuju ruang kuliah.


Namun, tak beberapa lama setelah lewat di depan ruang ketua program studi, seseorang keluar dari ruangan tersebut. Pak Arendra buru-buru berjalan mendahului kami sembari tak memutuskan pandangannya menatapku dan langsung masuk ruang kerjanya.


"Kenapa lagi dosen tercinta kita itu?" celetuk Lingga.


Aku hanya bisa mengedikan bahu dan melanjutkan perjalanan menuju kelas pagi ini yang berakhir setengah sepuluh pagi.


Setelah kelas berakhir, aku kembali buru-buru untuk menuju rumah. "Lingga, aku duluan ya?"

__ADS_1


"Bareng aja, tapi aku mau ketemu dosen PA-ku dulu." *PA\= pembimbing akademik\= dosen penanggung jawab hingga studi berakhir. Kalau di sekolah disebut wali kelas.


"Oooh, ya ... tapi aku buru-buru. Aku duluan ya?"


"Kamu sudah ketemu PA-mu sih. Malah diundang langsung sama Pak Rendra. Atau kita tukeran PA aja?" tawar Lingga.


"Boleh kalau bisa. Tapi pertanyaannya, apa bisa tukeran PA?" Aku lambaikan tangan pada Lingga dan langsung kabur.


Tanpa pikir panjang aku segera melaju mengingat waktu begitu mendesak. Aku lihat lewat kaca spion, ada seorang pengendara melesat cepat seolah dia ingin mengejarku.


Aku pun melesat tetapi tak bisa mengalahkan kecepatannya. Pengendara itu memintaku menepi. Siapa ya?


Aku menepi dan menghentikan laju motor diikuti olehnya. Pria itu turun dari motor dan berjalan ke arahku. Setelah cukup dekat, dia membuka kaca penutup helm.


"Bang Alven mengikutiku?"


"Aku mau pulang."


"Lhoh, kok cepet banget pulangnya?"


"Soalnya jadwal siang diganti akhir pekan. Kenapa, Bang? Ada lagi yang mau dicuci? Kenapa ikuti aku sampai ke sini?"


"Ooh, aku hanya mau mengobrol denganmu saja."


Ngobrol? Kayak yang mau menangkapku saja. Jauh-jauh dari kampus cuma buat ngajak ngobrol? "Apa tidak ada jadwal kuliah, Bang?"


"Aku sudah menyelesaikan semua mata kuliah. Jadi, sekarang cuma ngurus skripsi aja. Yaaa ... bisa dibilang antara kuliah dan tak kuliah."

__ADS_1


"Ooo ... lalu ada urusan apa denganku?"


"Ooh, tadi sudah aku bilang kan? Aku ingin ngobrol dan mengenalmu lebih jauh. Apa kamu keberatan?"


Aku lagi tak sempat berpikir. Di dalam benak, yang ada hanya lah segera lekas pulang. Aku harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. "Aku buru-buru pulang, Bang." Aku tutup kaca helm dan menyalakan mesib motor.


"Boleh aku ikut ke sana?"


"Silakan."


"Kamu jangan ngebut kayak tadi! Nanti kalau kamu celaka, bakalan ada yang nangis lho?"


Apaan sih? Orang lagi mumet malah dibuat makin pusing. Aku segera melaju dan Bang Alven berlari ke arah motornya dan mengikuti laju motorku.


Sesampai di ruko, Kak Vina menyambutku dengam godaan. "Waaah ... ada apa ini? Pulang-pulang bawa bujang?"


"Anak bujang ini ngekori mak-mak buntut satu ni Kak ...." Aku lirik dia jalan tertunduk menggaruk rambut bagian belakangnya.


"Mas Alven ngikutin Nesya mau apa hayo?"


Laki-laki itu masih tertunduk. "Bukan apa-apa. Hanya mau main saja."


Lalu matanya liar melihat ke arah seisi bagian laundry ini. Lalu, netranya menetap pada satu titik.


"Itu bukannya---" Dia menunjuk boneka yang berada di atas rak etalase dan mulutnya langsung aku bekap.


"Bukannya itu minispy?"

__ADS_1


__ADS_2