
"Jangan bercanda!"
"Kamu lihat ada tanda-tanda aku lagi bercanda?" tanyanya yang menatap lurus merasuk ke netraku.
"Tapi—"
"Aku bilang jangan tapi-tapian mulu! Sepertinya kita harus mempercepat pernikahan ini. Biar para readers merasa senang."
Aku tak mengerti apa yang dikatakan olehnya. "Bukan kah mengurus pernikahan itu menghabiskan waktu yang banyak?"
"Bisa dikejar paksa kok. Nanti agak lama aja dapat buku nikahnya." Dia melirikku sejenak. "Gimana rasanya setelah mendapat buku nikah dulu? Kamu seneng nggak?"
Awalnya aku memang bahagia, tetapi ... Semua tak seindah yang aku bayangkan. Karena, aku hanya berjuang sendirian demi rumah tangga yang dulu.
"Entah lah, Pak. Bagiku sama saja."
"Coba kamu panggil aku 'Sayang' juga! Aku ingin mendengarnya meskipun hanya satu kali."
"Aa—" Aku hanya bisa menggaruk bagian di bawah telinga. Aku baru sadar, dulu dalam pernikahan kami tak pernah ada panggilan mesra yang berlebihan.
"Ayo!" desaknya.
"Harus kah?"
"Harus dong!" tekannya sembari memainkan rambutku.
"Aah, nanti lah. Kalau aku sudah yakin."
"Terus sekarang masih belum yakin?" ucapnya terus memancingku.
"Entah lah."
"Aku tak peduli. Awas ya, aku akan buat kamu jatuh cinta sampai guling-guling minta aku peluk setiap waktu."
"Nggak mungkin! Emangnya aku anak kecil."
"Bagiku kamu hanya anak kecil yang beranak." Dia terkekeh usai mengatakan kata-kata itu.
Aku pun mendorongnya karena kesal mendengar ucapan itu. "Ya udah, cari aja yang perawan aja sana. Masih banyak stok perawan di sini nan cantik-cantik."
"Hahaha ...." Tawa pria di sampingku meledak. "Perawan memang cantik Janda lebih menarik ...." Dia menyanyikan lagu dangdut yang sering aku dengar.
Dia terus saja menggodaku, hingga akhirnya aku cubit kedua pipi pria ini dan menariknya.
"Aaagh, sakit ... aaampuun!"
*
*
*
Keesokan hari di kampus, aku sengaja menggunakan topi, mengikat rambut, menggunakan masker hingga tidak ada yang bisa mengenalku sama sekali. Aku melihat Lingga tengah bercengkrama dengan Gendis, wanita gendeng yang selalu saja mengajakku untuk ribut.
__ADS_1
Aku sengaja berjalan ke arah mereka yang duduk di gazebo taman kampus. Aku ingin tahu hal penting yang membuat mereka sedekat itu.
"—— tapi semua sudah dilepas. Kata anak-anak, wanita itu yang melepasnya." ucap Lingga.
"Tapi semua orang sudah melihatnya kan?" tanya Bu Gendis.
"Entah lah, aku kurang yakin, Bu." ucap Lingga.
"Nanti kamu ikut saya. Kita akan mengikutinya kembali seperti waktu itu." ucap Bu Gendis.
Ooh, jadi hal itu lah yang terakhir kali mereka bicarakan. Kapan mereka mengikutiku? Ah, bodohnya aku tak menyadari sama sekali ... Namun, setelah mereka tahu, aku merasakan sedikit kelegaan karena tak perlu lagi sembunyi dari status seorang ibu memiliki satu anak.
🎵 la la la🎵
Ada panggilan dari calon suamiku, maksudku Pak Arendra. Aku langsung menjawab panggilan tersebut.
"Ya, halo ..."
📳 "Suaramu kenapa?"
"Aku lagi pakai masker."
📳 "Lagi di mana? Kok gak keliatan?"
"Gazebo."
📳 "Oh, ya udah ... Kamu hati-hati ya? Aku gak bisa nyusul. Tapi, kalau kamu mau mencariku, seperti biasa aku ada di ruang kerjaku."
"Hmmm, nggak nanya."
"Oke."
Panggilan pun ditutup, beruntung mereka tidak mengenalku. Aku harus bagaimana ya? Hmmm ...
*
*
*
Sore usai perkuliahan aku mendapati Lingga tengah menangis tersedu-sedu dengan seseorang yang berbicara dengannya lewat telepon. Ooh, bukan kah mereka akan mengikutiku?
Akan tetapi, aku harus cepat pergi sebelum mereka melakukan sesuatu kembali. Hari ini aku pulang menggunakan motor kemarin yang sengaja kutinggal di kampus ini. Sedangkan saat berangkat tadi aku dijemput oleh pak dosen kesayangan.
Saat keluar dari gerbang kampus, sedan biru seperti sengaja mengejarku. Kendaraan itu melaju begitu kencang. Aku teringat akan pembicaraan dua orang tadi. Sedikit perasaan takut membuatku terus menurunkan kecepatan dan menepi. Meskipun akhirnya aku oleng dan rebah.
bruuuuk
Aku jatuh dari motor dan sedan biru tadi terus pergi meninggalkanku. Aku tahu siapa pemiliknya. Siapa lagi kalau bukan Gendis? Apakah di dalamnya ada Lingga juga?
Beruntung aku memperlambat laju motornya. Sehingga aku tak mendapatkan cidera yang berarti meski pun hempasan motor tadi lumayan membuat lututku gemetar. Beberapa mahasiswa pejalan kaki membantuku mendirikan kembali motor yang rebah tadi.
"Kamu tidak apa kan?" tanya salah satu oranh baik itu.
__ADS_1
"Iya, aku tidak apa, makasih ya." Mataku menangkap sosok Lingga di antara para pejalan kaki yang menonton kejadian ini. Lhoh? Jadi dia membatalkan rencana dengan Bu Gendeng tadi? Ah, aku merasa khawatir. Apa Bu Gendis berniat mencegatku di ujung jalan?
Lingga menyadari bahwa aku melihatnya. Dia terlihat cukup kacau dengan hidung dan mata terlihat merah. Dia segera beranjak dan meninggalkanku, tetapi bola mataku terus melihat punggung Lingga yang terus menjauh.
Sebenarnya, apa yang terjadi dengannya? Apakah ini masih berhubungan dengan suami Mbak Reina, atau dengan Bu Gendis?
Ah, aku harus berhati-hati. Motor kulajukan di jalur tengah kota agar sedikit lebih aman. Apa yang aku khawatirkan benar-benar terjadi. Ada beberapa motor tampak terus mengikutiku.
Saat melintasi area sepi, kendaraan yang tadi mengikuti melaju semakin kencang untuk mendahuluiku. Motor-motor tersebut melaju bagai angin dan mencegat aku yang sendirian di sini. Padahal, rumahku sudah tidak terlalu jauh.
Aku menghentikan kendaraan. Helm yang tadi terpasang, aku lepas dan kupegang erat dalam genggaman. Para pengendara itu mulai turun melepas helm mereka.
"Boss ... Ternyata anak kecil." ucap salah satu dari mereka.
"Ah, gua kagak peduli, Yang penting dia adalah orang yang harus kita tangkap! Kita sudah dibayar untuk menghancurkan dia. Tangkap dia! Lalu kita santap bersama-sama!" Seringai tak lepas dari mulutnya.
Mereka mulai mendekat padaku. Dan aku mulai memasang ancang-ancang agar tulang-tulang keras yang ada di tubuhku kembali berguna.
"Apa kamu takut, bocah kecil?"
"Kalian salah, Om! Saya bukan bocah kecil seperti yang kalian kira! Kalian akan mengetahui bagaimana kekuatan emak-emak setelah melawan saya!"
Para manusia bayaran itu tergelak mendengar ucapanku. Tanpa membuang waktu aku langsung berlari dan menghempaskan helm SNI ini pada salah satu kepala anggota mereka.
Orang yang mendapat pukulan mendadak tadi, seketika membelalakan mata dan jatuh.
"Bagaimana, Om? Masih disangka bocah lemah?"
Aku pun mulai menumpukan kedua tangan pada aspal yang sudah tidak lagi panas. Lalu kumainkan kaki untuk menjatuhkan satu orang lagi dengan memberikan tendangan pada dagunya.
"Kurang ajar!" Boss pun turun tangan dan memerintahkan untuk berpencar mengelilingiku.
Dari arah buta tak terlihat olehku, satu orang jatuh tepat di kaki. Ada yang datang dan bukan orang yang aku sangka.
"Kamu baik-baik aja kan, Dek?"
*
*
*
*
*
*
Ayuk kakak, mampir juga pada karya teman Author di bawah ini.
Napen: Ana Azzura
Judul: Terpaksa Menjadi Wanita Pemuas
__ADS_1