
Tiba lah di saat Nesya harus melahirkan, di saat itu pula Inke akan kembali keluar dari dusun. Aku lihat kedua mertua sudah siap menemani proses bersalin Nesya.
Sepertinya, proses bersalin tidak akan lama. Seperti saat nonton drama-drama di televisi, melahirkan cuma tinggal mengeden, dan anak sudah menangis begitu saja.
Kalau begitu, aku akan mencoba memperbaiki hubungan dengan Inke dulu. Orang tua Nesya sudah ada kan? Mungkin tak akan masalah bila aku tinggal. Nanti tinggal diazankan saja, itu mah gampang.
Aku segera berlari menuju arah rumah Inke. Rumah Inke adalah salah satu dari lima rumah yang paling bagus, berdiri kokoh secara permanen di dusun ini. Selain itu, rumah warga di sini rata-rata terbuat dari papan dan kebanyakan dengan warna alami kayu bewarna coklat.
Di depan rumahnya telah berdiri jeep wrangler milik ayahnya. Sungguh hebat bukan? Di dusun dengan ekonomi kelas menengah ke bawah seperti ini, keluarga mereka memilikinya.
Aku intip kiri kanan muka belakang, suasana masih terlihat sepi. Inke seperti bolak-balik memperhatikan benda-benda yang akan dibawanya untuk kelengkapan peralatan hingga semester depan.
Mumpung sepi, aku segera menarik Inke ke arah belakang rumahnya. Meskipun dia sedikit meronta, namun dia masih mengikutiku.
"Apalagi sih? Kamu kan lebih memilih dia? Kenapa masih mencari aku?"
__ADS_1
"Aku akan menceraikan dia nanti setelah kamu tamat sekolah. Sekarang, biarkan dia menjadi istriku. Sambil menunggu kamu kembali ke sini."
Dia mencabikan bibir dan menggelengkan kepala. "Abang urus Nesya aja sanah! Aku sudah tidak berminat padamu. Dari pada aku menikah muda, mending usai tamat aku kuliah saja."
Inke berjalan meninggalkanku begitu saja. Aaah, kenapa dulu aku tidak kuliah juga? Kalau aku kuliah, pasti akan sukses dan kaya. Tidak akan memiliki istri bodoh macam Nesya.
Tiba-tiba aku teringat dia sedang proses melahirkan. Ya sudah lah ... bagaimana pun juga dia bisa jadi mesin penghasil uang bagiku. Aku cukup menjepit rokok di jemari, duduk di beranda memainkan game. Sungguh akan sulit menemukan wanita yang seperti itu.
Aku harus bagaimana ya? Seperti apa pun juga dia adalah tempat untuk aku membuang segalanya, meskipun dia sudah tidak secantik beberapa waktu lalu. Nanti kalau bosan, aku bisa membuangnya sesuka hati.
Sepanjang perjalanan, orang-orang melirikku dengan tajam, berlalu sambil berbisik melirik ke arahku. Itu tidak terjadi sekali dua kali saja. Namun, semua orang berlaku sama.
"Wooi, kau sungguh suami bia dab!" ucap tetanggaku itu.
Aku segera mengejarnya. Enak sekali dia mengatakanku bia dap? Aku tarik kerah kaos lusuh yang dikenakannya. "Apa kau bilang? Ulangi sekali lagi!"
__ADS_1
"Suami bia..dab!"
buuughh
buuughh
Kepalan tanganku langsung mendarat dua kali di wajahnya. Dan beberapa orang melerai perbuatanku. Aku meronta melepaskan diri dengan nafas memburu.
"Apa maksudmu?" suaraku terdengar cukup lantang hingga bisa membangunkan manusia harimau yang tertidur.
"Jelas bini sedang bertaruh nyawa melahirkan anak yang terlilit tali pusar, kau malah mencari wanita lain. Kalau aku tahu dari dulu, aku akan menghalangi pernikahan kalian!"
Ucapannya itu sungguh membuatku kesal. Aku berencana mendaratkan kembali kepalan ini. Namun, ditahan oleh mereka.
"Dari pada kau menghajar orang seperti ini, lebih baik kau temani Nesya bertarung nyawa. Seharuanya kau biarkan dia caesar di kota. Namun, kau malah melarangnya." Bapak yang ada di antara kami menengahi perkelahian tadi. Dia menggelengkan kepala.
__ADS_1
Tanpa memgatakan apa-apa, aku segera pergi pulang. Nesya pasti menceritakan ini kepada semua orang. Ini sungguh tidak bisa dibiarkan. Dari pada aku kesal, lebih baik aku buka ponsel untuk main game kembali.
Terserah lah ... Mau hidup atau mati aku tak peduli. Syukurin! Jadi istri tetapi malah tidak bisa jaga rahasia suami.