
"Siapa sih? Mencurigakan banget?" ucap salah satu mahasiswa yang melihatku sangat tertutup, sehingga tak satu pun bisa mengenalku.
"Penguntit ya?"
Gertakan itu mengagetkanku yang sedang diam-diam bersembunyi memperhatikan pergerakan suamiku. Di belakang ada beberapa mahasiswa yang aktif dalam himpunan mahasiswa, kebetulan seangkatan denganku telah mengelilingiku.
"Cepat katakan, kau ini siapa? Kenapa mengawasi Pak Rendra sampai seperti ini?"
Akhirnya balutan pasmina yang menutupi ujung kepala hingga perut, aku lepaskan. "Ini aku!" ucapku sedikit gusar merasa kesal mereka menggangguku saja.
"Owalaaah, ternyata temen ranjangnya?" celetuk salah satu dari mereka yang memperhatikanku dari kepala hingga ujung kaki.
"Wiiih, bininya yang ngawasin sampai sebegitunya? Takut amat ya suaminya digodain mahasiswa lain?" gumam yang lain.
"Aku tidak mau berdebat, aku hanya ingin memgawasinya. Sudah, kalian bubar aja sanah!"
Lalu, mereka tak juga berhenti memperhatikan keadaanku yang sudah membuncit. Tatapan mereka terlihat sungguh tidak sedap dipandang mata.
"Kenapa lagi?"
"Ah, engga ... hanya saja setelah sekian waktu tidak melihatmu, ternyata sudah berbadan dua aja."
__ADS_1
Aku melihat ada salah satu mahasiswa yang sibuk memainkan jemari dan matanya menerawang ke atas langit. "Bukannya kalian baru menikah? Kenapa hamilnya udah gede aja?" ucapnya.
"Ssstt!" Yang lain memberik kode.
"Mungkin sudah DP duluan," bisik yang lain sambil cekikian dan aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas.
"Ssttt!" Kode yang lain menyadari tatapanku yang fokus kepada temannya yang bergibah tadi.
"Bubar! Bubar!" ucap yang lain.
Akhirnya semua bergerak dengan lirikan penuh arti di ujung mata mereka. Sementara bagiku yang sudah tau apa yang ada dalam pikirannya, hanya bisa mengelus dada dan mengusap janin yang ada di dalam rahimku.
"Sabar ya, kehidupan Ibu kalian ini memang tidak mudah. Namun, kali ini tidak seberat dulu kok."
Ya, bagaimana pun suamiku sudah tidak bisa lagi memimpin jurusan ini. Suamiku sakit, ditambah ia tidak bisa lagi melihat dengan baik.
Dari luar tak terdengar apa pun aktivitas Mas Aren di dalam ruangan. Hening bagai tak berpenghuni. Perlahan aku tarik gagang pintu dan mendapati ruangan tersebut masih seperti biasa, bersih tanpa debu.
Ah, apa yang aku pikirkan. Tentu saja ruang kerja suamiku selalu bersih. Toh ada karyawan khusus kebersihan sudah digaji untuk membersihkan ruangan kerja milik para dosen ini.
"Ekhem ...."
__ADS_1
Sebuah deheman membuatku tersentak kaget, tetapi aku berdiam diri berlaga seakan tidak ada orang. Aku lirik ke arah belakang, ternyata suamiku telah bersidekap dada memandang dengan hampa.
"Waah, ternyata tak ada orang. Padahal tadi kupikir istriku ada di sini." Mas Aren melangkah menuju kursi kehormatannya. Diam-diam aku berpindah tempat memberikan dia jalan.
Mas Aren menduduki kursinya dengan hati-hati sedikit canggung. Tangan ini terasa cukup was-was ingin mengantarkannya langsung agar dia duduk di sana dengan selamat. Namun, kali ini aku memilih peran yang berbeda. Ingin menjadi mata, tetapi tak kuasa menyampaikannya secara langsung.
Setelah suamiku duduk dengan tenang di kursi kerjanya, suasana hening pun melanda ruangan sempit ini. Namun, aku mematung tanpa gerak, agar ia tidak curiga lagi padaku.
"Sepertinya hidungku sedikit bermasalah. Entah kenapa aroma istriku seakan selalu berada di sisiku," gumamnya.
Ekspresinya saat berbicara sendiri itu terlalu kiyowo menurutku, hal ini sontak membuatku geli dan susah menahan tawa. Aku pun terus berusaha membuyarkan pikiran supaya tak lagi merasa geli melihat tingkahnya.
Kegiatan di kampus pun diam-diam aku ikuti. Saat
Hal ini terus terjadi dalam beberapa waktu yang terus berjalan tanpa aku sadari masa itu semakin dekat. Peran menjadi CCTV hidupnya ini sungguh terasa mengasyikkan. Aku membantu membukakan pintu yang tadinya tertutup agar ia bisa lewat dengan mulus, membukakan pintu pagar, menyiapkan segala hal remeh yang sering ia lupakan.
Hal ini aku lakukan setiap hari tanpa sadar sudah menjalaninya entah berapa lama.
Pada pagi hari, setelah mandi, Mas Aren yang masih mengenakan handuk terlihat berdiri di depan cermin. Biasanya dia memang begitu walau ia tidak bisa melihat. Ia memiliki kebiasaan mencukur kumis dan jenggot di cermin kamar, bukan yang ada di kamar mandi. Jadi, kebiasaan itu terus terbawa meski penglihatannya bermasalah.
"Kenapa, Mas? Mau cukuran lagi?" tanyaku yang memperhatikan tindak tanduknya seakan memandangi dirinya dengan seksama.
__ADS_1
Dari dalam bayangan cermin, aku melihat netranya menangkap keberadaanku, dan seakan lurus menatap diriku. Ia seperti melihatku dari kepala hingga ke kakiku yang sudah membengkak. Lalu, tatapannya seakan lurus pada perutku yang sudah begitu besar hingga aku sendiri tidak bisa mengikat tali sepatu, atau melihat kakiku sendiri tanpa melihat pantulan pada cermin.
Apakah suamiku benar-benar sudah bisa melihat?