Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
53. (PoV Alan)


__ADS_3

(Maaf jika banyak typo ... nanti kalau sudah keluar dari dusun akan aku revisi sekaligus tambah 2 bab lagi. Authornya mau nengok kebun kopi milik keluarga Nesya dulu 😂)


Aku buka galeri foto-foto lama, di saat aku, Nesya, dan Elena masih tinggal di atap yang sama.


Aku perbesar kembali foto-foto tersebut, fokus pada mantan istriku. Di sana dia terlihat sangat kacau. Aku telah menghancurkan dia selama hidup bersamaku.


Setelah kami berpisah, dia terlihat sangat cantik. Ya, dia persis seperti gadis yang pernah membuatku jatuh cinta hingga yakin memutuskan untuk menikahinya.


"Apakah kamu lebih bahagia di saat kita tak lagi bersama? Betapa buruknya aku sebagai suamimu."


🎵 jeng jeng jeng 🎵


Tanda panggilan masuk berbunyi di ponselku yang baru. Itu adalah panggilan dari Dian. Saat ini kami sedang pisah ranjang.


📳"Alan! Kapan kamu pulang?"


"Hmmm ... ternyata kamu masih menungguku pulang?"


📳 "Kamu itu suamiku, wajar aku menunggumu. Atau, jangan-jangan kamu rujuk lagi dengan mantan istrimu itu setelah kita berpisah?"


"Kamu jangan bawa-bawa nama Nesya dalam perpisahan di antara kita. Ini semua murni kesalahanmu! Kamu membohongiku! Kamu sudah menjebakku."


📳 "Jadi kamu beneran tidak mau pulang?"


Suaranya mulai terdengar mengancam. Ya, begitu lah dia ... dia ingin menguasaiku dengan harta yang dimilikinya. Baru kali ini aku merasakan uang tak bisa memberikanku kebahagiaan.


📳"Jika nanti malam kamu masih belum kembali juga, jangan salahkan aku jika semua kartu keuanganmu aku blokir."


Ada perasaan gentar menyeruak dalam dadaku. Namun, ego ku ikut menolak di saat menyadari bahwa tiada henti dia memanfaatkan ketakutanku akan penarikan segala harta yang dimilikinya.


Aku harus bagaimana?


Diriku sudah tidak ada harganya lagi bagi Dian. Dia memanggilku hanya sebagai pengasuh anaknya berkedok sebagai ayah. Hahaha, aku sering sekali menertawakan diri sendiri, berhasil ditipu mentah-mentah oleh wanita itu.


Bahkan, aku berpisah dengan Nesya di saat aku menyadari sangat mencintainya, karena ulah Dian itu lah. Memang tak sepenuhnya bukan salah Dian, ada aku yang memiliki kesalah sebesar 85%, yang bekerja sebagai pe muas has rat wanita.

__ADS_1


Aku hanya lelaki bodoh, yang tidak memiliki skill apa pun selain di ranjang. Di ranjang pun menjadi jago setelah menikah dengan Nesya. Dulunya, aku hanya berpikir sebagai cara agar aku bisa mendapatkan uang, untuk menyumpal mulut Nesya yang dahulu menurutku terlalu nyinyir.


Dulu aku merasa berada di posisi yang teramat tinggi. Nesya mencintaiku, aku berpura-pura terpaksa menerima cintanya. Dia memberikan segala hal yang bisa diberikan kepadaku, karena kala itu dia hanya gadis dusun, terlalu polos, mendekati bodoh.


Kini, dia tampak semakin elegan berkali lipat dibanding saat hidup bersamaku. Aku hanyalah sumber derita baginya.


Hmmmffff ... aku hanya bagai pesakitan yang menunggu semua fasilitas yang saat ini aku gunakan, dicabut kembali oleh si pemiliknya.


Dian, hanyalah titipan sementara yang memang membagi segala kenyamanan yang dia punya. Akan tetapi bukan untuk bisa aku cintai selamanya.


Ponselku kembali mengeluarkan tanda panggilan masuk. Masih dari Dian, kali ini adalah panggilan video. Tanda hijau aku geser dan tampak Dilan tengah menangis bersama baby sitter yang dibayar oleh Dian.


📳"Alan, apa kamu tidak kasihab melihat Dilan terus menangis seperti ini? Dia itu kangen sama kamu, papanya."


"Ooh, papanya? Aku pikir kamu hanya menyewaku sebagai pengasuhnya?"


📳 huwaaa ... huwaaa ... huwaaa


Suara tangisan Dilan membuat hatiku ikut terasa pilu.


Aku tak tahu harus berkata bagaimana lagi. Rasanya sedikit enggan untuk kembali bersamanya. Namun, aku kasihan pada Dilan yang dulunya kukira benar-benar anak kandung.


Apa aku harus kembali ke rumah itu? Saat ini, aku ingin sekali rujuk dengan Nesya. Aku ingin menunjukan kesungguhanku pada Nesya. Bukan hanya itu, aku akan mencurahkan segala kasih sayang yang didapat Dilan, untuk anakku Elena.


📳 "Kenapa hanya diam? Aku mohon, Lan. Nanti aku akan memberikan uang yang lebih besar dari biasanya."


Uang? Aku memang butuh uang. Aku butuh pekerjaan.


📳 "Asal kamu mau kembali ke rumah ini menjadi suamiku, dan papa bagi Dilan."


"Aku mau ke sana, hanya sebagai pengasuh Dilan saja. Perceraian kita harus segera diurus."


📳 "Alaaah! Kamu itu jangan sok jual mahal! Ingat! Dulu itu kamu hanya seorang gi go lo yang aku angkat jadi suami!"


"Oh, gitu ... silakan cari gi go lo yang lain untuk kamu angkat jadi suami barumu!"

__ADS_1


Aku akan menekan tanda merah hendak menutup panggilan ... tetapi ...


📳 "Papaaaaa ... Papaaaaa ...."


Terdengar suara Dilan memanggil Papa. ini adalah kata pertamanya dan itu adalah panggilan untukku. Aku tutup panggilan itu langsung bergerak menuju rumah Dian.


Seandainya saja yang aku rawat dengan sepenuh hati itu adalah Elena, mungkin semuanya tak akan seperti ini. Meskipun aku tahu bahwa Dilan hanya anak yang membuat Dian menjebakku, tetapi ... aku sayang padanya.


Aku kendarai mobil yang masih menjadi milikku ini. Dian memang tak memedulikan ini, lagian mobil ini dia belikan memang untukku, kepemilikannya atas namaku.


Jika terjadi suatu hal yang tak diinginkan, aku akan menjualnya. Beberapa waktu mengendarai, akhirnya sampai di rumah Dian.


Seharusnya jam segini Dian sudah berangkat bekerja. Namun, Dilan yang rewel memaksanya untuk izin tidak masuk kantor.


Dian menyambut kedatanganku dengan segala kesemrawutannya. Aku teringat pada penampilan Nesya dulu yang tak ada bedanya seperti Dian saat ini.


Beberapa waktu, aku berhasil menenangkan Dilan. Dian pun terkulai karena akhirnya Dilan sudah tertidur karena lelah menangis.


"Jadi, bagaimana? Apa kamu mau menceraikanku? Kamu cukup membayarku sebagai pengasuh Dilan."


Dian menatapku memijit keningnya. Sepertinya sudah beberapa malam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. "Jadi kamu mau meninggalkanku yang sudah mengangkat derajatmu sebagai pria berkelas?"


"Jadi kamu berpikir seperti itu? Bahkan, aku merasa tak ada bedanya dengan baby sitter yang memberi pelayanan exclusive di atas ranjang. Kamu tahu, dosa apa yang aku tanggung selama ini?"


Dia menatapku dengan nanar. "Dosa? Lalu jadi gi go lo berganti wanita tiap malam kamu pikir tidak dosa! Seharusnya kamu bersyukur! Aku lah yang mengangkat kamu dari kehi na an itu! Bukan malah jadi sok suci seperti ini."


Ucapan Dian barusan menyadarkanku. Aku masih tak ada beda dengan gi go lo seperti dulu. Meskipun telah menikahinya, tetapi seharusnya ha ram untuk kusentuh.


"Jadi bagaimana keputusanmu? Kamu mau bercerai, atau melaksanakan akad nikah ulang denganku?" tanyanya.


"Aku rasa, keputusanku sudah bulat. Aku ingin menceraikanmu. Jika kamu benar-benar membutuhkan aku untuk Dilan, kali ini kamu bayar aku sebagai pengasuh."


Dia menatap tajam padaku. "Jadi karena pelakor itu membuatmu bulat meninggalkanku?"


"Pelakor?" Siapa yang dimaksudnya?

__ADS_1


"Mantan istrimu tak ada bedanya dengan pelakor."


__ADS_2