Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
90. Biarkan semua orang tahu


__ADS_3

Jantungku berdegup kencang menunggu Pak Arendra di dekat mobilnya. Atau, kendaraan kami pisah saja? Aku naik motor, dia naik mobil?


Sebuah sedan biru yang aku kenal, berhenti di sebelah mobil milik Pak Arendra. Aku lihat wanita yang sudah membuat pinggangku sakit, turun dari kendaraannya.


"Heh, kamu!" Dia berjalan mendekatiku tetapi mulutku bungkam tak ingin menjawab panggilan indah itu.


"Kamu masih berani mendekati Rendra ya? Ngapain kamu bersandar pada mobilnya?"


Pertanyaannya masih tidak bisa aku jawab. Tak mungkin aku mengatakan bahwa aku akan makan berdua dengan calon suamiku—Arendra Gautama— pria yang dia kejar.


Lalu, Bu Gendis mendorongku. Dia mengambil alih posisi yang tadi aku tempati. Saat ini, dia yang bersandar pada pintu mobil ini.


Apakah aku boleh melakukan hal yang sama? Langkah kaki ingin bergerak membalas perlakuannya, tetapi hatiku mulai bekerja. Di sini, dia adalah seorang guru. Guru adalah orang yang harus dihormati dan dijaga kehormatannya.


Apa mungkin aku batalkan saja rencana makan siang bersama Pak Arendra? Aku berputar kembali ke tempat terakhir bertemu tadi. Ternyata, Pak Arendra tengah membicarakan hal serius dengan Ketua Program Studi Akuntansi di jurusan kami.


"Kamu, mau mempermainkan putri saya?" Suara itu lah yang aku dengar saat sampai di sana.


Di parkiran sana, ada seorang dosen muda yang masih perawan tengah menantinya. Sementara, di tempat ini, ada perempuan yang sangat cantik, putri dari Pak Suhandi, juga menginginkannya. Semua wanita yang dekat dengannya memiliki karier yang bagus.


Sementara aku ini apa? Aku hanya wanita bodoh yang telah menjadi janda memiliki anak dalam usia yang sangat dini. Mungkin aku hanya akan membebani dan mempermalukan dia saja. Sepertinya, ada banyak yang lebih baik untuknya.


Pak Arendra telah menyelesaikan obrolannya dengan ketua prodi. Ah, aku tak ingin mereka mengetahui aku ini siapa. Sepertinya aku harus cabut duluan.


Aku kembali memutar badan hendak pergi. Namun, Pak Arendra menangkap tanganku dan menggenggamnya. Aku berusaha melepas, aku tidak ingin kami mendapat masalah karena ini.


"Rendra? Jadi, dia yang kamu maksud?" tanya Pak Suhandi.


"Benar, Pak. Dia lah calon istriku." Pak Arendra menundukan kepala kembali.


Wanita yang di samping Pak Suhandi semakin menangis tersedu. Tarikan tangan Pak Arendra membuatku terdorong masuk pada rangkulannya.


"Kamu harus tahan! Biarkan semua orang tahu. Karena hubungan kita bukan lah sebuah kesalahan."


Pak Arendra dengan lantangnya berkata seperti itu tanpa rasa malu. Apa aku saja yang merasakan beban itu. Lalu dia menarikku dalam sambil menggenggam tanganku.

__ADS_1


"Pak, kita makan sendiri-sendiri aja." bujukku yang masih melihat ke arah dua orang tadi menatap kepergian kami.


Pak Arendra terus menarikku berjalan ke arah kendaraannya terparkir. "Kenapa begitu? Apa yang membuatmu malu? Bukan kah kita sudah sepakat untuk merajut asa berdua?"


Semua mahasiswa mulai melihat ke arahku yang tengah bergandengan tangan dengan Pak Arendra. Ah, mau disembunyikan ke mana wajahku? Aku merasa masih belum siap.


"Tegakan wajahmu! Kamu bukan tersangka yang sedang ditangkap KPK!" titahnya.


"Sudah aku katakan sebelumnya bukan? Apa masih perlu aku ulangi?"


"I-iya. Hanya saja aku belum sanggup jika mereka semua mengetahui ini."


"Cuek aja! Kita akan menikah! Semua orang harus tahu bahwa kamu adalah calon istriku." Dia terus menarikku tanpa memedulikan setiap mata yang menatap ke arah kami dengan nanar.


Ada kekhawatiran lain yang menyelinap dalam hati. Saat kasus dulu yang menyeret nama kami berdua, semua mahasiswi yang ada di fakultas ini membenciku. Aku tak tahu lagi, nanti akan jadi bagaimana.


"Bu Gendis? Kenapa Anda di situ?"


Ternyata, wanita yang mendorongku tadi, rela berpanasan menunggu kehadiran pria yang tengah menggenggam tanganku. Bu Gendis fokus melihat ke arah genggaman tangan kami.


"Kalian?"


"Menurutmu Anda bagaimana dengan ini?" tanyanya tepat di hadapan Bu Gendis.


"Jadi benar, kalian memiliki hubungan tertentu?" Bu Gendis membuka kaca mata dan menatapku dengan mata tajamnya.


"Kami akan segera menikah dalam waktu dekat. Jadi, kalau tidak ada urusan dengan Bu Yenni, lebih baik Bu Gendis jangan main ke sini lagi. Bu Gendis mau undangan dari kami?"


Genggaman tadi semakin kueratkan. Memberi aba-aba agar dia jangan terlalu berlebihan.


"Kamu tenang saja! Aku tahu kamu sekuat apa. Apa dia yang membuat pinggangmu sakit seperti beberapa waktu lalu?" Aku menggelengkan kepala. Hal itu cukuplah menjadi urusanku dengan wanita ini.


Bu Gendis terlihat berkacak pinggang tersenyum tipis memandangku dengan wajah remehnya. "Hahah, jadi begitu saja kamu sudah mengadu pada Rendra? Ck ..."


Genggaman Pak Rendra kulepaskan. Ledakan amarah yang selama ini kupendam, akhirnya membuatku reflels mendorong tubuhnya dengan sangat kuat, seperti yang dilakukannya beberapa waktu lalu. Hingga semua orang yang berada di sekitar parkiran ini mulai memperhatikan kami bertiga.

__ADS_1


Bu Gendis bangkit menepuk kedua tangan dan bagian belakang yang kotor karena debu di pelataran parkir. "Kamu ini mahasiswa yang kurang ajar ya? Berani sekali pada saya? Walau saya bukan dosen di fakultas ini, kamu tetap harus menghormati saya!"


Lalu Bu Gendis menarik salah satu mahasiswa yang tadinya mulai menonton kejadian ini. Sementara, Pak Arendra membuka kunci dan menarikku untuk masuk ke dalam kendaraannya.


Aku lihat, Bu Gendis bertanya sesuatu kepada mahasiswa tadi. Akan tetapi mahasiswa yang tidak aku kenal itu menggelengkan kepala. Lalu Lingga datang mendekati Bu Gendeng. Mereka seakan membicarakanku, tetapi entah apa. Kendaraan bergerak menuju tempat yang memang agak jauh dari kampus.


*


*


*


Perkuliahan siang ini terasa begitu panas. Pasti karena peristiwa tadi. Semua orang yang ada di ruang ini melirikku dengan wajah yang membuat perasaanku menjadi tidak enak.


Ini bukan hal yang pertama kali bagiku. Aku sudah pernah berada di posisi ini. Kali ini pasti akan sama. Aku pasti bisa menghadapinya. Seiring berjalannya waktu, semua pasti akan berlalu.


Sepulang kuliah, Lingga dan kawan-kawannya mendekatiku yang sudah bersiap melajukan motor hendak pulang. Dengan wajah beringas, salah satu teman Lingga menarikku yang telah menyalakan motor.


"Katakan kepada kami! Apa hubunganmu yang sebenarnya dengan Pak Rendra?"


Aku lihat wajah mereka satu per satu, termasuk Lingga. Lingga membuang mukanya di saat netra kami saling bertemu.


"Cepat jawab!" bentak temannya itu.


"Katakan ajian apa yang kamu gunakan untuk menarik Pak Rendra?"


Helm yang tadinya sudah terpasang di kepala, kulepas dan kugantungkan di atas spion. Mesin yang telah menyala, aku matikan kembali. Aku turun dari motor berjalan ke arah mereka.


Kali ini tak akan sama seperti dulu, karena aku yang sekarang bukan aku yang dulu. Kujepit dagu wanita yang tadinya menantangku.


"Kalian benar-benar ingin tahu bagaimana cara menakhlukan hati seorang Arendra Gautama?" Setelah itu kudorong dengan kasar hingga membuat anggotanya yang berada di belakang ikut terdorong.


"Kau ini benar-benar tidak tahu diri ternyata!" Wanita teman Lingga yang tidak kuketahui namanya dengan impulsif mencoba menyerangku.


Dengan mudah, tangan yang ingin mencakar itu kutangkap dan kutekuk lalu kutarik hingga mencekik lehernya sendiri.

__ADS_1


"Sekarang kalian sudah tahu kan?" Wanita itu kudorong kembali. Dia terlihat mulai sesak. Aku tak ingin dia mati di tempat ini.


"Oh ya, aku ingin kalian tahu bahwa aku akan segera menikah dengan dosen yang kalian idolakan itu! Setelah ini, jangan pernah coba-coba mendekati calon suamiku lagi!"


__ADS_2