Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-34


__ADS_3

Apa? Mas Aren pergi? Mas Aren tidak mengatakan satu apa pun padaku.


"Oh, iya. Aku lupa." ucapku menahan perasaan yang sebenarnya sudah bergetar ingin menangis.


Mak menatapku dengan wajah khawatir. "Beneran?" Mak memastikan apa yang baru saja aku ucapkan.


Aku mengangguk berusaha mengulas senyuman selebar mungkin. "Tadinya aku ingin memberikan sesuatu dulu sebelum dia pergi. Namun, sepertinya ia terburu-buru."


"Ooh, ya udah." Mak memegang bahuku sejenak. "Sepertinya kamu lelah, wajahmu terlihat sangat pucat. Lebih baik kamu istirahat dulu," ucap Mak.


Aku melirik sisi kiri dan kakan, lalu menebak keberadaan Elena dan Bapak. Tak terdengar suara mereka yang biasanya sangat ramai bila bermain berdua.


"Elena lagi dibawa datuknya jalan-jalan," jelas Mak yang sudah memahami maksud yang aku cari.


Aku mengangguk, sudah tidak sanggup lagi menahan diri masuk ke dalam kamar. Aku tutup pintu dan mengunci kamar. Tali tas yang terjepit di ketiak, kulempar asal karena sudah tidak kuat menaham mendung di hatiku.


Tadinya, aku ingin menghempaskan diri begitu saja ke atas ranjang. Namun, aku teringat, aku membelai bagian rahim yang baru saja mendapat kepastian bahwa sebenarnya aku positif hamil kedua, di dalamnya ada dua kembar yang akan hadir delapan bulan lagi di dunia ini.


Aku beringsut naik ke atas kasur menumpahkan segala kekacauan yang ada di dalam hati dan pikiranku. Kenapa Mas Aren, bisa begitu saja pergi tanpa mengabariku sedikit pun. Air mata ini, terus mengalir tak mampu lagi aku bendung.


tok


tok


tok


"Ibuk? Ibuk?"


Aku mendengar suara Elena memanggilku. Aah, sepertinya aku ketiduran dan tidak tahu semenjak kapan. Aku bangkit bergerak membukakan pintu bagi gadis kecil yang memanggil-manggil ibunya.


Saat pintu dibuka, ternyata Elena sudah rapi dan wangi, sepertinya ia baru saja selesai mandi. Matanya melirik dengan wajah herannya.


"Ibuk, kenapa pintunya dikunci?" tanyanya melirik ke bagian dalam, ia mencari sosok lain yang biasanya juga ada di dalam kamar ini.

__ADS_1


"Papa udah pulang, Buk?"


Aku segera menggandeng tangannya menuju sofa mengajaknya duduk di depan TV. "Papa lagi pergi kerja, Sayang."


"Lalu kenapa Ibuk tutup pintu? Biasanya Ibuk tutup pintu kalau malam sama papa. Papa kan lagi nggak ada?"


Aku berusaha memberikan senyuman semanis mungkin di hadapan putriku yang akan menjadi kakak ini. Akan tetapi, aku belum bisa mengatakan kepada Elena bahwa ibunya ini sedang mengandung dua adik sekaligus. Karena, beberapa waktu yang lalu, ia terlihat masih belum menginginkan seorang adik.


Mungkin, lebih baik tidak usah mengatakan apa-apa kepadanya. Biar nanti ia paham sendiri di saat perutku semakin membesar.


"Iya, tadi Ibuk capek banget, Nak. Jadinya ga tahu Ibuk ketiduran pulang sekolah. Tadi Elena pergi jalan-jalan sama Datuk, kan?"


Elena mengangguk. Aku pun pamit kepada Elena untuk membersihkan diri. Malam pun menjelang dan aku dicecar oleh sejuta pertanyaan di mana ayah sambungnya.


Meskipun merasa sedikit enggan, ada rasa kecewa menggelayut dalam diri, akhirnya aku mengambil ponsel yang masih belum keluar dari dalam tas semenjak pulang tadi. Mataku terbuka lebar melihat riwayat panggilan tak terjawab mencapai puluhan kali.


Ternyata, Mas Aren sudah menghubungiku sebanyak itu. Ah, aku ini kenapa sih? Kenapa malah sibuk dengan pikiranku sendiri?


Aku pun melakukan panggilan pada suami yang tidak diketahui berada di mana. Namun, panggilan itu tidak kunjung dijawab juga. Aku telah mencoba menghubungi beberapa kali, tetapi tanpa jawaban.


"Buk, kok gak jadi menelepon papa? Elena kangen sama papa."


Aku tatap Elena yang memasang wajah bingungnya. Tanganku sudah aktif mengusap kepala dan menaikkannya ke atas pangkuanku.


"Sepertinya papa sedang sibuk bekerja, Sayang. Nanti kita coba lagi ya?"


Sepanjang malam aku tidak bisa tidur, terakhir kali melakukan panggilan, ponselnya sudah tidak aktif lagi. Perasaanku sungguh bercampur aduk karena tiada kepastian ini.


Esoknya di kampus, aku pun mencari informasi ke mana suamiku pergi, tetapi aku tidak bisa menanyakannya secara langsung. Jika aku menanyakan secara langsung, mereka pasti akan menertawakan suamiku yang tidak memberi kabar.


Bagaimana pun, aku harus menjaga nama baik suamiku. Namun, itu sungguh menyulitkanku dalam mendapatkan informasi akan keberadaannya.


Aku mencoba menghubunginya lagi, tetapi ponselnya belum aktif juga. Oke, Nesya! Positif thinking! Mungkin dia lupa nge-chas atau apa. Aku memutuskan menunggu, hingg akan pulang nanti. Jika masih belum, berarti terpaksa harus bertanya, meski semua orang tau bahwa aku istri yang tidak becus.

__ADS_1


Dalam ruangan kelas, aku tidak bisa fokus. Kebetulan sekali yang mengajar hari ini adalah Bu Yenni. Kepalaku sedang dipenuhi pertanyaan keberadaan Mas Aren. Rasanya aku ingin lari dari kelas ini, mau mencari keberadaannya dan menyusulnya dengan segera.


"Nesya!" Suara Bu Yenni begitu lantang menggema hingga ke penjuru ruang perkuliahan.


Aku yang sedari tadi hanya menunduk corat-coret tidak bersemangat, akhirnya terkesiap kaget saat namaku dipanggil dengan suara lantang dan garang.


"Nesya? Apa kamu mendengar pertanyaan saya?" tanya Bu Yenni dengan menekankan suaranya.


"I-iya, Bu?"


"Apa jawabannya?"


Aku lirik kiri kanan tidak paham apa yang dimaksud Bu Yenni. Bu Yenni terlihat berdecak menatapku dengan tajam.


"Mengapa terkadang auditor tidak dapat mendeteksi kecurangan yang terjadi saat proses audit?!"


"Oh-ooh-oooh, i-itu." Ku tarik nafas dalam-dalam. Aku memiliki catatan ini. Kuperhatikan kembali raut Bu Yenni yang menatap tajam melipat kedua tangannya, seakan tak sabar menunggu untuk mencecarku jika aku tidak bisa menjawabnya dengan benar.


Kupejamkan mata mencoba mengingat materi yanh diberi Bu Yenni sebelumnya. "Bismillah ...."


"Mengapa hal tersebut tidak dapat terdeteksi oleh auditor? Hal ini disebabkan kecurangan mungkin melibatkan skema yang canggih dan terorganisasi secara cermat yang dirancang untuk menutupinya, seperti pemalsuan, secara sengaja gagal mencatat transaksi, atau penyajian keliru yang disengaja kepada auditor."


Semua hening mendengar penjelasan dariku. Bu Yenni terlihat membuang mukanya. "Suamimu itu hanya bertugas dua malam, ke ibu kota provinsi sebelah. Kamu jangan sedih berlebihan seperti itu!"


"Apa kamu paham?"


"I-iya, Buk. Terima kasih."


Jadi suamiku ke sana? Jika dua malam, berarti esok udah kembali? Namun, perjalanan ke sana kan banyak begal. Bukannya lega perasaanku malah semakin bercampur aduk.


Aku segera mengeluarkan ponsel. Pesan chat yang sedari tadi ku kirim belum masuk juga. Apa yang harus aku lakukan?


Saat kuliah dengan Bu Yenni selesai, aku segera mengangkat peralatanku tergesa ingin segera keluar dari tempat ini. Namun, benda yang ada di tangaku berceceran tidak mau masuk ke dalam tas.

__ADS_1


"Kamu kenapa Nesya? Dari pagi ku perhatikan terlihat lesu dan matamu sembab begitu?"


__ADS_2