Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
70. Indera keenam


__ADS_3

"Kamu jangan asal berpikir buruk tentangku!"


"Ah, emangnya saya berpikir apa?"


Apakah Pak Arendra memiliki indra keenam atau ilmu cenayang dan sejenisnya? Kenapa dia bisa membaca pikiranku?


"Apa pun yang kamu pikirkan, jika itu sesuatu yang buruk, hentikan lah! Jika tidak, kamu akan membuatku sedih!"


Waduh, jangan-jangan memang benar, ya?


"Hentikan!"


Apa yang harus aku lakukan. "Ooh baik lah, Pak."


Bang Alven hening memperhatikan obrolan kami. "Kenapa, Bang?"


"Aku tak menyangka kalian sedekat ini?"


Apa lagi ini? "Aku tak pernah merasa dekat, biasa aja kok."


Setelah itu aku fokus kepada Bang Alven. "Segitunya mau pergi gak cerita sama sekali."


"Hmmm--"


"Pokoknya harus berangkat! Kamu jangan menyiakan kesempatan yang ada!"


"Tapi, Ma--"


"Harus pokoknya!" Bu Jenie ternyata setegas ini pada pendidikan anaknya.


"Kalau aku punya kesempatan, pasti akan aku ambil juga. Langka banget orang dusun bisa kuliah sampai S-2 ... Bisa kuliah begini saja rasanya sudah bersyukur banget." ucapku.


Bang Alven menatapku beberapa waktu, lalu beralih pada Pak Arendra. Kakaknya itu membalas menatap Bang Alven, adiknya lalu berpindah netra menatapku.


"Apaan itu, pandang-pandangan di tengah orang ramai?" gumam ayah dari dua orang yang mirip bagaikan dua anak kloning.


Pak Arendra hendak bergerak mengambil air mineral yang ada di nakas samping brangkar. Dengan cepat aku segera mengambilkan minuman tersebut dan menyerahkannya. Aku rasa dia cukup gugup.


Dia terlihat kesulitan membuka tutup botol. "Sini, biar aku buka," tawarku dan terulas sebuah senyuman di bibirnya.


Namun, belum jadi kubukakan, botol air tersebut direbut oleh Bang Alven. "Ih, manja! Gini aja gak bisa?" Tutup botol tersebut dibuka oleh sang adik dan diserahkan kepada saudaranya secara langsung.


Dengan wajah kesal, tangan yang tidak sakit menyambut air yang dibukakan oleh Bang Alven tadi.


"Kalian ini sejak kapan berantem terus?" tanya Bu Jenie.


"Benar juga, biasanya mereka berdua selalu akur, bisa dikatakan hampir tak pernah bertengkar." timpal sang suami.

__ADS_1


Masa sih tidak bertengkar? Rasanya, setiap melihat mereka berdua, selalu saling sindir. Selalu saling tak mau mengalah. Namun, aku tak ingin mengungkapkan isi kepalaku. Cukup amati, dan nikmati ... meskipun membuat otakku pusing.


"Nesya, apa kamu memiliki saudara?"


"Saudara yang bagaimana maksudnya Mb--"


"Ma!" sela mereka berdua serempak.


"Iya, itu maksudku."


"Kayak kakak, adik, sepupu atau lainnya?" terang Bu Jenie.


"Ooh, untuk sementara aku belum memiliki saudara, Tante ... sepertinya aku belum bisa memanggil Tante Jenie dengan Mama." Aku lirik kedua bersaudara itu.


Bang Alven mengangguk dan Pak Arendra memainkan dagunya. "Boleh lah, dari pada kamu memanggil Mama dengan Mbak? Aku langsung merasa kamu seumuran dengan Mamaku." ujar Pak Arendra dan sementara Bang Alven mengangguk setuju.


"Aku sudah meminta Mak agar memiliki anak lagi, tetapi mereka menolak."


Kedua pria itu menggeleng serempak membentuk tanda silang memadukan kedua tangan mereka. Mereka terlihat keberatan.


"Kenapa tidak boleh?"


"Kasihan Mak kamu. Masa di usia udah separuh baya malah hamil dan melahirkan lagi?" ucap Bang Alven.


"Mak aku masih tiga puluh enam tahun kok."


"Aman, tahun ini aku baru dua empat," gumamnya pelan, tetapi masih bisa kudengar dengan jelas.


"Waaah ... muda banget Mak kamu Nesya?" Bu Jenie melihatku dengan wajah tak percaya. Bu Jenie memandang wajah suaminya sejenak lalu berganti pada anak mereka yang sulung.


"Bahkan, hanya beda tipis sama putra sulung kami." tambah Bu Jenie.


"Di du--"


"Ibuk ... Ibuk ... Ibuk ...." Terdengar suara tangisan Elena membuatku menghentikan dialog. Alhamdulillah gadis kecilku telah bangung. Jadi kami tidak memerlukan perawatan lanjutan.


Aku langsung memeluk Elena dan menaikannya pada pangkuanku. "Anak Ibuk sudah bangun. Nyenyak boboknya, Sayang?"


Elena mengangguk dan dia terlihat heran melihat orang yang berada pada instalasi gawat darurat itu terlalu ramai. "Tangan Papa kenapa, Buk?"


"Tadi Papa main pisau, Nak. Jadi membuat Papa terluka kayak gitu. Nanti Elena jangan main pisau sembarangan ya? Nanti bisa luka kayak gitu." Bohong seperti ini boleh nggak ya?


"Papa tidak apa-apa kok, Sayang. Bener kata Ibuk, Elena jangan main pisau sembarangan ya?" Pak Arendra mendukung kebohonganku.


Elena pun mengangguk dengan wajah sedikit takut. "Elena tidak mau main pisau. Nanti Elena luka." Sekarang Elena sudah bisa berbicara dengan baik. Tak ada lagi bahasa cadel khas bayinya dulu. Bahkan, saat ini dia benar-benar cerewet.


"Nah, pinterr ...." Pak Arendra mengacungkan jempol yang sehat kepada Elena. Elena pun memberi jempol kepada Pak Arendra. Sementara, Bang Alven membisu melihat keakraban kedua orang ini.

__ADS_1


*


*


*


Beberapa waktu pun berlalu. Bang Alven datang dengan penampilan yang terlihat lain dari biasanya yang casual. Kali ini dia begitu rapi, mengalahkan kakaknya yang cuma kemejaan kemana-mana. Bang Alven pakai jas, persis kayak yang mau kawinan.


"Mau nikah, Bang?" candaku. "Bahkan dulu wisuda gak begini." Karena aku juga hadir saat dia wisuda. Cuma pakai kemeja dan dasi, tanpa jas.


"Aa-- hmm ...." Keringat terlihat membasahi dahinya.


"Kenapa Om Aven ke sini, Bu?" Elena baru saja bermain dengan karyawan yang ada di bagian pengeringan.


"Tanya sendiri sama Om-nya? Udah nggak panggil Om Alven, 'Papa' lagi?" Biasanya dia selalu salah menduga Bang Alven dengan Pak Arendra.


Elena menggelengkan kepala. "Om Aven bukan, Papa. Papa baik, Om Aven sombong. Om Aven ngga mau bicara dengan Elena."


Elena sembunyi di belakang ku. Dia mengintip Bang Alven mencoba melihat reaksi Bang Alven. Ternyata, pria ini mengeluarkan sapu tangan dan menyeka keringat yang telah jatuh membasahi wajahnya.


"Abang kenapa?"


"Ekhem ... apa aku mengganggu? Mana pakaian bersih yang kemarin aku titip ke sini?" Bang Alan tiba-tiba nimbrung. Dia selalu datang dengan gaya tak ada masalah di antara kami.


"Bentar!" Aku ke belakang mencari cucian milik Bang Alan. Ternyata pakaian Bang Alan masih dalam proses setrika.


Aku segera membuka papan setrikaan yang lain, membantu menyetrika agar pakaian yang baru selesai setengah bagian bisa selesai dengan cepat.


gubrak


"Ayaaah!" Elena menjerit setelah terdengar suara suatu benturan atau sesuatu yang jatuh.


Aku mengubah mode setrika ke bagian paling minim. Setelah itu aku ke bagian depan di mana orang-orang tadi aku tinggalkan.


Tampak dua orang gulang-guling saling hajar di sana. "Hey! Kalian ini kenapa? Jangan berantem di sini dong! Sekalian naik ke atas ring MMA aja kalau merasa jagoan begini!"


Namun, mereka masih gebug-gebugan dan sungguh membuatku murka. Aku langsung mencari lidi yang aku buat sendiri dari pelepah pohon kelapa. Lidi ini sengaja aku buat guna untuk mengusir kucing yang suka tiba-tiba kencing sembarangan.


Kali ini aku gunakan untuk kedua pria dewasa itu. Kupecutkan pada pan tat kedua nya.


plak


plak


plak


"Kalian pikir ini di mana, hah? Sekalian aku daftarkan MMA secara online, mau?"

__ADS_1


*MMA\= mix martial art ... silakan gugling kalau belum paham.


__ADS_2