Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
37. (Kembali PoV Nesya)


__ADS_3

Lagi-lagi bertemu dengannya. Kenapa dunia ini terasa begitu sempit? Bahkan, Elena terus memanggil-manggil ayahnya. Aku duduk di antara brangkar Elena dan brangkar anak Bang Alan.


Melihat tubuh mungil anaknya yang ditusuk oleh jarum tersebut membuat perasaanku terenyuh. Aku belai kepala Elena yang tadinya diberikan obat dari bagian du bur, untuk segera menurunkan suhu tubuh Elena.


Elena terus saja menangis usai Bang Alan ingin merebutnya dariku. Elena selalu menyebut dan menanyakan ayahnya. Entah kenapa akhir-akhir ini Elena selalu menangis memanggil Bang Alan? Padahal, dulunya Elena tidak begitu dekat dengan ayahnya.


Apa karena melihat ayahnya selalu membawa mobil, setelah kami tidak lagi bersama? Entah lah ...


Beberapa waktu kemudian, saat suhu tubuh Elena sudah lebih baik, dokter yang jaga di unit gawat darurat tersebut memberi izin anakku untuk pulang. Namun, kemana kedua orang tua dari anak yang malang ini? Kenapa mereka lama menghilang?


Elena mulai bergerak, matanya terbuka dan langsung duduk karena takut. Dia langsung melompat dari brangkar dan memelukku.


"Ibuk ... Ibuk ... Ibuk ...." Elena membenamkan wajahnya dalam dekapanku.


Aku segera mengusap punggungnya. "Tenang, Sayang. Ibuk ada di sini. Elena jangan nangis lagi "


Dari arah luar, terdengar keributan antara pria dan wanita. "Katakan! Dilan anak siapa?" Itu adalah suara Bang Alan.


"Anak kamu lah!" Suara perempuan tidak kalah lebih keras dibanding Bang Alan.


"Tidak! Mana mungkin jika anak aku, darahnya tidak cocok denganku. Oke jika tidak cocok denganku, tetapi kenapa tidak cocok juga denganmu? Kau sudah menjebakku selama ini!"


Terdengar suara tawa yang semakin lama semakin dekat. Saat ini mereka tepat berada di pintu masuk unit gawat darurat. Sang wanita menatapku dengan nyalang, dan nafas memburu.


Dia berjalan mendekat dan menarikku yang sedang duduk memeluk Elena. Dengan susah payah kutahan tubuh Elena agar tidak terjatuh karena tarikan wanita gila dengan topeng ayu ini.


"Kau! Pasti kau sudah memengaruhi Alan kan? Kau ingin kembali pada Alan kan?" Dia menarik lenganku, lalu mencoba mendorongku. Beruntung Bang Alan berhasil menangkap tubuh kami berdua hingga tidak jadi jatuh.


Secara tidak sadar aku serahkan Elena pada Bang Alan. Aku segera mendekati wanita gi la itu. Mencengkram pakaiannya tanpa rasa takut sama sekali.


"Apa? Kau pikir aku bodoh, Tante gila? Ambil saja dia! Aku tidak butuh dia! Aku lebih bahagia saat kau berhasil merebutnya dariku! Karena beban hidupku berkurang drastis!"


Aku dorong juga tubuhnya dengan sekuat tenaga yang aku punya. Namun sayang, tubuhku tidak sekuat dia. Tubuhnya tidak bergerak sama sekali.


Akan tetapi, semua itu sudah cukup bagiku dan hendak beranjak darinya. "Aaauuuwww." Dia menarik rambutku.


"Kau ya, anak kecil tak tahu diri. Berani sekali kau!"

__ADS_1


Aku pun mundur dan segera menangkap rambut panjang yang di-smoothing itu. "Aaauuuwww!" Dia pun berhasil kubuat berteriak kesakitan.


"Ahahaha, bagaimana? Sakit?" Suaraku keluar dengan nada geram.


Matanya nyalang semakin menarik rambutku, dan aku pun turut semakin menarik rambutnya. Terdengar langkah cepat beberapa orang dari arah luar.


"Apa-apaan ini? Sudah kami peringatkan! Kalian harus tertib di tempat ini!"


Para security tersebut berusaha melerai kami. Kepala ku terasa luar biasa perih akibat tarikan tangannya terhadap rambutku. Begitu juga sebaliknya, aku tak akan menyerah melakukan hal yang sama. Aku akan sangat puas jika rambut-rambut tersebut lepas dari kepalanya.


Seorang perawat membawa gunting rumput memamerkan kepada kami yang masih asik memegang rambut milik lawan.


"Oooh, kalian tidak mau berhenti? Baik lah ... Akan kami hentikan secara paksa!" Perawat tersebut menggerakan gunting rumput tersebut ke arah rambut kami.


Secara refleks, aku melepas rambut wanita s*alan itu. Begitu juga dengannya, dia melepaskan rambutku yang sudah layu akibat diani aya oleh genggamannya.


Aku segera mengambil Elena dari tangan Bang Alan. Namun, Elena tidak mau lepas dari pelukan ayahnya itu. "Elena, ayo kita pulang!"


Elena melihat ke arah brangkar di sebelah tempat dia tertidur tadi. "Adik Ayah. Ada adik Ayah. Ada adik Ayah." Elena kembali membuat ruang emergensi ini heboh.


Apakah ini yang membuat Elena terus uring-uringan?


Elena merosot turun dari gendongan Bang Alan dengan sendirinya. Lalu memelukku masih dalam tangisannya. "Ayah ga cayang Eyena."


Aku segera membawa Elena pergi meninggalkan ruang ini. Obat-obatan untuk Elena sudah berada di tanganku. Aku tidak peduli lagi dengan semua yang ada di tempat ini. Aku pergi tanpa pamit pada siapa pun.


"Dek, Dek ...!" Terdengar suara Bang Alan terus memanggilku.


Aku segera mempercepat langkah dan meninggalkan mereka semua menuju ke rumah sekaligus toko yang kami tempati.


*


*


*


"Baik lah, perkuliahan kita usaikan sampai di sini. Saya akan mengirimkan tugas yang harus Anda semua laksanakan dalam grup chat untuk kelas ini." Ucap dosen yang selalu mencari gara-gara denganku itu.

__ADS_1


Sementara otakku sudah dipaksa untuk pulang mengingat keadaan Elena yang belum terlalu pulih. Begini lah rasanya, kuliah di saat kita sudah jadi seorang ibu. Pikiranku jadi bercabang dan ini membuatku tidak bisa berkonsentrasi dengan materi sama sekali.


"Lingga, aku balik duluan ya!"


"Lho, kenapa buru-buru amat?" Lingga memasang wajah heran.


"Iya, ada yang sakit di rumah."


"Siapa?"


"A-a----dikku." Aku belum bisa jujur kepada semua temanku. Mereka pasti bingung dan aku takut mereka akan menjauhiku.


"Oh, ya udah. Aku masih harus ke perpus. Kamu hati-hati ya?"


"Baik lah, dahh!" Aku segera berjalan dengan langkah cepat, setengah berlari dan ada yang menarik dan menahan langkahku.


Semua orang memperhatikan kami berdua. Dengan sesopan mungkin aku mencoba melepaskan tangan orang itu.


"Mau ke mana?" Dia mendelik dan bersidekap dada.


"Saya harus pulang, ada yang sakit!"


Alisnya naik sebelah. "Siapa sakit?"


"A--a--adikku, Pak."


Dia melengos. "Oooh, adik ... Adik apa aan---"


Mulut pria terpelajar itu segera aku bekap. Semua orang melihat ke arahku yang sudah berlaku tidak sopan kepada pria yang dielukan oleh para mahasiswi ini. Aku segera menariknya menuju ke tempat yang cukup sepi.


"Saya mohon kepada Anda, Pak ... tolong rahasiakan semua ini." Kedua tangan aku tangkupkan tepat di depan hidungnya.


"Oooh, gitu." Dia mengeluarkan catatan kecil yang ada di dalam kantongnya. "Berarti kamu menambah list hutang. Hmmm ... berapa kilo gratisan ya?"


Pak Arendra membuatku semakin pusing. Aku tinggalkan dia yang sibuk dengan pikirannya itu.


"Siapa yang beri izin kamu pergi? Transaksi kita belum selesai. Hutang kamu ditambah denda karena tidak menghargai seorang dosen!"

__ADS_1


__ADS_2