Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
84. Tak cukup sekedar terima kasih


__ADS_3

*Terima kasih buat kritikan yang mengingatkan Author pada alur yang masih jalan di tempat 🤣🤣 sepertinya ada yang nunggu sesuatu dari sesuatu nih ya ... Author lagi coba keluar dari gaya kepenulisan action, jadi suka mangkrak kalau cuma sekedar menulis romansa biasa. Mungkin ada yang berkenan mampir pada cerita action yang author tulis? DETEKTIF MUDA dan CEO PLAYBOY TERJERAT NONA HACKER*


...💖💖💖...


(BELUM SEMPAT EDIT YA KAK, HABIS NULIS LANGSUNG UP. LAGI ADA KERJAAN PENTING)


Aku baru mulai terbangun karena efek obat-obatan yang diberikan pihak rumah sakit. Ternyata, ada sebuah tangan yang menggenggam jemariku dengan erat.


"Uh ..." Rasa sakit di bagian pinggang masih terasa, meskipun sudah tidak seperti tadi.


Saat aku buka mata, ternyata ada sosok yang mendekat padaku. "Bagaimana dengan keadaanmu?" bisiknya.


Aku mengangguk mencoba memaksakan tersenyum untuknya yang sudah mengantarkanku ke rumah sakit. "Terima kasih, Pak. Maafkan aku yang sudah sangat merepotkan Bapak." Aku mencoba melepaskan genggaman tangannya.


Akan tetapi, pria itu malah semakin erat menggenggamku. "Terima kasih? Semuanya tak cukup jika hanya sekedar terima kasih."


Aku berusaha melepaskan tangan dari genggamannya. Namun, genggaman itu terlalu erat.


"Jadi, apa yang Bapak inginkan?"


"Apa kamu mau menikah denganku?"


Apa? Menikah? Dia sedang tidak ngelindur kan?


"Bagaimana? Apa kamu bisa memenuhinya?"


"Bapak jangan bercanda!"


"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?" Netra Pak Arendra tak henti menangkap setiap gerakan kecil yang aku buat.


"Jadi yang serius itu seperti apa? Aku harus bagaimana?"


Aku mengelak dari bola mata yang lurus tak berpindah menatapku. Ada perasaan aneh di dalam hati saat dia seperti ini. "Jangan lihat aku seperti itu!"


drrrt


drrrt


Getaran ponsel Pak Arendra membuat dia melepaskan genggaman pada tanganku. Dia nama si penelepon dan tersenyum.


"Ini dari Kadis, semoga saja ada berita baik soal yang kamu ajukan kemarin." Dia bangkit bergerak sedikit menjauh menerima panggilan.


Oh ya, mana Kak Vina dan Elena? Bukan kah tadi mereka ada di sini? Aku segera mencari ponsel yang tak tahu berada di mana. Namun, pinggang rasanya sangat sakit.


Terlihat perawat mendekat padaku. "Bagaimana sekarang Mbak?"


"Masih susah bergerak, Sus." Rasanya, aku ingin membalas dosen gendeng itu. Namun, aku takut dia malah membuat berita yang tidak enak. Hmm ... sepertinya harus memikirian cara yang cantik.


Pak Arendra muncul kembali dengan wajah sumringah. "Sepertinya usulan kamu diterima. Namun, sekolah di sana statusnya baru percobaan. Jadi, untuk sementara akan dipantau dulu oleh dinas."


"Nanti status awalnya SMKS. Katanya, mereka akan meninjau terlebih dahulu perkembangan sekolah terlebih dahulu dalam tiga tahun ke depan." terang Pak Arendra.


"Benar kah, Pak?" Aku segera bangkit, tetapi ... "Aaaggh ..."


Pak Arendra membantuku untuk duduk. "Seharusnya kamu tak perlu bangkit. Aku hanya memberikan info ini kepadamu."


"Pak, terima kasih."


"Cuma itu aja?" Keningnya terlihat sedikit berkerut.

__ADS_1


"Lalu gimana lagi?"


"Terima ajakanku untuk menikah denganmu."


"Tapi aku ingin fokus pada masa depan. Menikah bukan menjadi prioritas utamaku saat ini."


"Apa kamu tidak tahu, menikah termasuk pada sunah rasul, sebagai panutan kita dalam menjalani kehidupan." Dia malah menceramahi aku.


"Bapak sendiri belum menikah tuh. Aku sudah pernah, dan pernah gagal. Hingga membuatku merasa tidak tertarik lagi untuk mengulangi kesalahan yang sama."


"Nah, ini ... aku sudah ingin menikah denganmu. Untuk apa? Agar bisa menemani di segala sedih dan bahagiamu. Nah, bagaimana denganmu? Masih kukuh untuk tidak menerimaku?"


Aku tatap wajah Pak Arendra yang tak berkedip sama sekali saat menyatakan semua. "Jadi, Bapak ingin menikah bukan karena cinta?"


"Apa kamu tidak merasakan bahwa aku mencintaimu?"


degh


Aah, aku harus bagaimana? Sebenarnya, aku ragu. Aku takut semua lelaki akan sama seperti Bang Alan. Lagi pula, aku telah memiliki Elena. Aku ingin nasib Elena tidak sama sepertiku yang hancur hancur karena kebobrokan.


"Kenapa diam? Katakan lah apa yang kamu pikirkan."


"Aku ini janda--"


"Lalu apa hubungannya dengan janda?" selanya dengan cepat.


"Bapak bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku."


"Jadi menurutmu aku harus mendapatkan wanita yang seperti apa? Seperti Gendis?"


Dengan refleks kepala kugelengkan. "Jangan dia!"


"Katakan apa yang terjadi antara kamu dan dia?"


"Kamu tidak memercayaiku?"


"Tapi, aku ini hanya gadis bo--"


Telunjuknya telah menempel di bibirku. "Kamu tahu, kamu tidak bodoh. Buktinya kamu ingin membangun sekolah lebih tinggi di dusun. Sebagian orang tak akan peduli permasalahan yang banyak terjadi di sana."


"Karena aku merasakan sendiri. Sebenarnya sekolah itu tidak mahal. Hanya saja, lokasi yang jauh membuat semua terasa mahal. Apalagi, jika kemampuan mereka tak jauh beda seperti keluargaku. Hingga, menikah adalah jalan terakhir bagi kami wanita-wanita dusun."


"Mulai hari ini kita kerjakan semuanya berdua. Aku akan selalu di samping kamu. Tentunya kamu harus jadi istriku dulu dong. Kalau enggak, ya ogah ... Silakan semuanya kamu urus sendiri." guraunya.


"Iih, kekanakan!"


"Biarin. Biar aku tak dibilang jomblo lagi."


*


*


*


Beberapa hari kemudian, di saat akhir pekan, Pak Arendra memaksa untuk masuk dusun. Katanya ingin memantau lokasi yang akan dijadikan SMK di dusun secara langsung.


Akhirnya kami berdua memutuskan masuk dusun menggunakan motor trail yang cocok untuk kondisi jalan di sana. Ini adalah kali pertama aku kembali ke dusun setelah terakhir rebutan Elena dengan orang tua Bang Alan.


"Kamu pegangan yang erat! Ini pertama kali aku mengendarai motor masuk dusun kamu yang terkenal itu." ucapnya saat kami akan mulai mendaki tanjakan yang sangat terjal.

__ADS_1





Perjalanan berat yang sudah lama tak kulewati ditempuh bersama Pak Arendra. Pegangan pun harus dengan kuat. Saat pendakian yang terjal, terpaksa harus memeluknya. Jok motor yang sangat sempit, membuatku harus menempel padanya.


Giliran menurun, harus berpegangan pada bagian belakang agar tidak semakin menempel padanya. Perjalanan luar biasa dengan seorang yang belum pernah masuk dusun. Saat turunan terjal, tanah masih basah karena hujan, membuat Pak Arendra tak bisa mengendalikan lagi motornya.


braaakk


Motor rebah dan kami terjatuh. Beruntung semuanya tanah, motor melaju pelan, hingga tidak meninggalkan cidera yang berarti.


"Pak, balik aja yuk?" ucapku kasihan kepadanya.


"Kamu gimana? Pinggangnya sakit lagi? Sorry ya? Ini pertama kali menempuh jalur kayak ini."


"Aku aman. Makanya tadi aku ragu, Bapak yang maksa masuk pakai motor. Harusnya kita naik mobil Kades aja."


"Kira-kira berapa kilo lagi?" Pak Arendra menegakan motornya kembali.


"Sekitar lima kiloan lagi, Pak. Setelah itu kita masuk jalan desa yang berbatuan."


Pak Arendra memotret beberapa kali dengan ponselnya. Memperlihatkan kondisi jalan saat ini. Setelah itu dia kembali naik ke motornya. "Lanjutkan! Udah dekat!"


"Yakin?"


Dia mengangguk dan aku segera naik kembali ke atas motor. "Gimana, Pak? Masih ada harapan nggak ya pembangunan SMK baru?"


"Kita lihat nanti!"


Perjalanan dilanjutkan dan akhirnya sampai juga di desa. Semua mata masyarakat dusun melihat ku dengan heran. Dusun yang tidak terlalu besar, membuat kami semua saling mengenal. Jika ada orang baru, dengan seketika akan jadi omongan warga.


Aku segera mencari Kepala Desa dan membicarakan maksud kehadiran kami di desa ini. Kepala Desa menyambut keinginanku dengan suka cita.


"Kira-kira ada lahan kosong yang bisa dijadikan sebagai lokasi sekolah, Pak?"


"Tentu ...." Kades mengajak kami menuju lokasi yang dianggap bisa digunakan sebagai lahan untuk sekolah.


"Ini, tanah milik Juned, tetapi terbengkalai tanpa ada pengolahan. Saya akan segera menanyakan pada pihak yang bersangkutan. Apakah bersedia menghibahkan tanah ini untuk pembangunan sekolah."


Setelah itu, kami menuju rumah warga yang dikenal kaya raya, masih ada hubungan dengan temanku yang bernama Inke dan Nina. Kades menyampaikan maksud kedatangan kami.


"Jadi, tanah itu untuk sekolah?" tanya orang bernama Juned terdengar sedikit keberatan.


"Iya, jadi kapan lagi desa kita memiliki sekolah kejuruan. Jadi, anak-anak kita tidak perlu sekolah jauh-jauh keluar lagi."


"Boleh ... asal dibeli dengan harga tinggi!"


*


*


*


Haloo..mampir ya di karya sahabat Author


Napen: ALYA AZIZ

__ADS_1


Judul: Salah Rahim



__ADS_2