Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S-2: 1. Istri bar-bar Pak Dosen


__ADS_3

Aku lihat waktu pada jam dinding sudah menunjukan pukul lima subuh. Namun, Pak Aren, eh ... maksudku, suamiku membuat diriku tidak bisa bergerak. Dia terus memeluk dan tidak memberi ruang agar aku bisa meloloskan diri.


Tubuh kami berada dalam selimut yang sama. Elena, tidur terpisah di ranjang berbeda meski dalam kamar yang sama. Karena Elena tidak mau tidur sendirian di kamar yang telah kami siapkan untuknya.


Bahkan, untuk tidur pun, dia tidak mau di ranjang tersebut. Dia belum bisa tidur tanpa aku keloni terlebih dahulu di kasur tempat biasa kami tidur berdua. Namun, setelah aku menikah, tentu saja banyak kebiasaan harus segera kami ubah.


Setelah Elena tertidur, maka papanya dengan cepat memindahkan gadis kecil berusia hampir lima tahun itu ke ranjang khusus untuknya. Setelah itu, suamiku lah yang minta dikelonin dan mengajakku olah raga di setiap malam.


Saat ini tubuh kami sama-sama tanpa sehelai benang pun, hanya teralas selimut yang menutupi hingga ke leher. Dia pun membuatku tak sanggup bergerak sama sekali. Kepalanya tersandar pada dada dan menahanku dalam pelukannya.


"Sayang, Yang?" bisikku tepat pada telinganya.


"Hmmmf, apa?"


"Ayo mandi! Ini kita bisa terlambat sholat subuhnya." bisikku kembali ke telinganya.


Dia mengangkat kepala mencoba membuka mata. "Aah, gimana kalau sekali lagi menjelang mandi?"


"Ah, jangan. Tadi malam udah berapa kali coba?"


"Aku mau lagi, aku masih pengen. Seandainya dari dulu kita menikah ya, mungkin aku tidak segila ini." Tangannya mulai bergerilia pada tubuh polosku dan dia kembali mendapat apa yang diinginkan.


Setelah itu kami mandi berdua serta sholat subuh berjemaah. Seperti biasa aku segera menuju dapur, dan tak beberapa lama terdengar suara Elena bangun. Suamiku langsung menggendong Elena duduk di ruang tengah dan menemaninya.


"Papa dan Ibuk udah mandi?" Elena memperhatikan kami dengan wajah menyelidik. Rambut panjangku masih cukup basah, dan aroma papanya sangat wangi.


"Udah dong, kan orang tua pinter mandinya harus pagi."


Mendengar ucapan Mamas (panggilan mesraku padanya) aku hanya bisa menahan senyum dan menyerahkan kopi untuknya, dan segelas susu untuk Elena.

__ADS_1


cuuup


Bibirnya langsung menyambar bibirku. "Makasih, Sayang." ucapnya.


Elena tersentak menutup matanya. "Iiiiih maluuuuu." ucap bocah itu tetapi tetap mengintip lewat sela jemari mungilnya.


Mamas pun mengecup kening Elena. "Iiiih, acem ..." candanya."


"Kan Elena belum mandi, tapi Elena masih cantik kok." ucapnya sambil membulatkan bibir.


"Siapa dulu dong papanya? Jadinya anak Papa selalu cantik."


Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Mamas, yang sangat memanjakan Elena. Aku pun melanjutkan tugas menyiapkan sarapan.


Mamas membantuku memandikan Elena. Usia pernikahan kami baru satu minggu, dan pagi ini adalah hari pertama kami berangkat ke kampus, setelah resmi menjadi suami istri.


*


*


*


"Aaahhh." Ada sesuatu yang mendarat di kepalaku. Lalu benda itu terjatuh ke lantai. Tampak sepotong tahu goreng yang baru saja mendarat di kepalaku.


Aku lihat sekeliling, ternyata tampak sekumpulan mahasiswi tertawa cekikikan merasa puas melihat ke arah ku. Tahu itu aku pungut kembali, aku bangkit dan mendekati mereka.


"Siapa yang melempar ini?"


Mereka semua kembali terkekeh memandangku dengan wajah remeh.

__ADS_1


Aku tarik bungkusan gorengan yang ada di meja depan mereka. Aku memilih beberapa rawit lalu ditusuk ke dalam tahu yang tadi aku pungut. Dagu gadis yang kukira menjadi tersangka ditarik kasar membuatnya membuka mulut. Tahu berisi tusukan rawit tersebut ku sumpal masuk ke dalam mulutnya.


Kawan-kawan sekitarnya mencoba melepaskan gadis itu dari tanganku. Namun, aku buka mata selebar mungkin, membuat mereka langsung menciut.


Dia meronta ingin mengeluarkan tahu tersebut, tetapi aku tahan sehingga mau tidak mau mengunyah tahu itu. Wajahnya mulai merah kepedasan, dan baru lah aku lepas.


Akan tetapi, air mineral yang akan dia minum aku rebut dan dilempar ke dalam tong sampah.


"Begitu lah jika kamu berani main-main denganku. Meski kalian semua seniorku, jika tidak ada otak, aku tak segan menyikat kalian!"


Setelah itu, aku melangkahkan kaki dan pergi. Sejenak aku lirik kembali ke arah sana, terlihat gadis tadi yang baru aku hukum marah-marah pada anggota lainnya.


Aku pun lanju melangkahkan kaki, ternyata malah masuk ke dalam pelukan seseorang. Mataku langsung liar melirik kiri kanan.


"Malu ah, jangan begini di depan umum." Aku berusaha melepaskan diri.


"Anak orang habis kamu apain?" tanyanya sembari bersidekap dada.


"Mereka yang mulai duluan kok. Masa, aku sedang asik membuka ponsel dilempar tahu goreng?" ucapku beralasan.


"Mulai hari ini kamu harus banyak sabar yaaa. Karena aku tidak mau ada yang mengatakan kamu sebagai istri bar-bar Pak Dosen."


...****************...


Yuhuuuu ... Aku hadir lagi membawakan sesi kedua cerita ini, semoga aja suka ya kakak semua. Level kemarin yang jatuh, hari ini udah naik jadi level 6, hehehe.


Oh ya, mampir juga yuk pada cerita teman Author.


Napen: Nirwana Asri

__ADS_1


Judul: Kekasihku Pria Amnesia



__ADS_2