Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
S2-2. (pov Alvendra)


__ADS_3

Akhirnya foto ibu satu anak itu kulempar masuk ke dalam tong sampah. Hal ini lah yang awalnya membuatku takut meninggalkan Nesya. Ternyata, dia malah memilih kakakku dibanding aku.


Apakah Mas Aren benar-benar mencintai Nesya? Tak akan ada orang lain yang bisa mencintai Nesya setulus aku. Aaah ... Harus kah aku terus kalah dari kakakku itu?


Aku memilih tidak pulang untuk menyaksikan hari sakral bagi kedua pengantin tersebut. Aku hanya bisa memberi alasan ada ujian yang tidak bosa ditinggalkan.


Aku pikir pernikahan itu akan tertunda jika aku tidak datang. Ternyata, mereka tetap menggelarnya, meskipun tanpa kehadiranku.


Hatiku terasa hancur, kenapa di saat aku mulai mengerti sesuatu bernama cinta, malah putus sebelum tersambung seperti ini? Malam ini aku tidak bisa tidur sama sekali. Namun, aku berjanji setelah malam ini tidak akan lagi memikirkan apa pun tentang Nesya.


Nesya adalah istri dari saudaraku. Ya ... hanya itu, tidak lebih.


Keesokan harinya aku ke kampus dengan perasaan yang berat. Ada beberapa orang yang kulewati dan tersenyum kepadaku. Akan tetapi sesaat kemudian senyuman itu berubah jadi wajah kebingungan, aku tak menoleh sama sekali kepada mereka.


Aku masuk ke ruang kelas memilih posisi paling belakang. Dosen datang dan siapa pun datang hanya bagai angin datang dan pergi tanpa menerpaku sama sekali. Perkuliahan pun usai, semua mahasiswa keluar dari kelas dengan gerakan capat.


Hanya aku yang berada di posisi sama tanpa berpindah ke mana pun. Perkuliahan berikutnya berlanjut, dan euforia sakitnya patah hati ini membuat semuanya terasa sama, hambar. Orang-orang berlalu lalang, hadir dan pergi bagai angin—yaa ... Angin.


buuughhh


"Awwww!" Teriakan seorang gadis yang terjatuh di hadapanku membuyarkan lamunanku. Sejenak gadis itu melirikku dengan kesal.


Aku bergeser beberapa langkah ke samping dan kembali melanjutkan perjalanan untuk pergi. Tak beberapa lama melangkah, sebuah tarikan pada ransel yang ada di punggung membuatku tertahan.

__ADS_1


"Heh, lu itu laki apa banci hah? Udah jelas gue jatuh karena elu, bukannya ditolongin, malah lu ngacir gitu aja?" ucapnya.


Aku lirik sejenak bergerak melihat kondisi celana bagian belakang tampak sedikit kotor karena debu pada lantai. Aku bantu membersihkan sisa debu yang melekat di bagian belakangnya dengan menepuk-nepuknya hingga memastikan tidak ada lagi debu pada pan*tat gadis itu. Anehnya gadis itu tersentak dan tertegun dengan sejenak.


"Apa yang lu lakuin sialan?"


plak


plak


plak


plak


"Maaf. Aku lupa bahwa kamu adalah seorang wanita." Kedua tangannya aku lepaskan memilih untuk pergi.


Aku mendengar ada gerakan cepat dari arah belakang. Aku lirik kembali ke arah belakang melihat gadis itu berlari melompat hendak memberikan tendangannya padaku.


Aku yang bergeser melihatnya, membuat tendangan itu kehilangan target dan dia pun menjadi oleng. Aku menyambutnya dan kami berdua terjatuh dalam keadaan berpelukan.


Namun tanganku menyangga sesuatu yang terasa begitu aneh dan kenyal. Refleks, mata ini memandang itu dengan seketika.


"Apa yang kau lihat laki-laki kurang ajaaaar?"

__ADS_1


buuughhh


Pukulannya mendarat kembali padaku. Kali ini lokasinya pada ulu hati dan tentu rasanya sangat sakit. Namun, sebagai laki-laki aku harus bisa menjaga imej, tak mungkin dong pukulan seorang wanita membuatku oleng.


Gadis itu mulai bergerak melepaskan diri dari pelukanku. "Lu nyari kesempatan ya Anjiiirrr?" Gadis itu bangkit dan meninggalkanku dengan wajah cemberut.


"Gadis aneh." Hanya bisa meringis sembari menahan rasa sakit di bagian berutku.


Kenapa setelah patah hati yang dalam, aku malah mengalami kejadian aneh bersama gadis bernama Zizi ini?


Aku bangkit dan bergerak pulang dengan sehari ini semua terasa datar. Akan tetapi, aku baru teringat sesuatu yang tidak datar. Ada sesuatu di tanganku yang bulat dan kenyal. Dada gadis itu bertopang pada tanganku.


"Ternyata seperti itu rasanya."


*


*


*


Malam hari saat mengerjakan tugas yang diberi dosen, aku terinhat kembali kejadian tadi siang. Hal ini refleks membuatu melihat pada tangan yang sama.


"Astaga. Otakku? Apa yang terjadi dengan otakku?"

__ADS_1



__ADS_2