
*Maafkan Author yang biasa nulis adu jotos mulu 😂😂😂 Pengen adegan geluuud mulu kan akunya*
"Bapak ini seorang dosen lho? Nanti orang lihat dan berpikir macam-macam di antara kita, Bapak bisa rugi sendiri."
Wajah pria itu merah padam antara menahan sakit, dan menahan kentut.
"Sudah ya, Pak! Saya harus menyiapkan segala hal sebelum ke kampus! Bapak juga harus mengajar kan? Saya akan menutup pintu toko dulu. Nanti biar Kak Vina atau Bang Jojo saja yang membukanya."
Aku pun mencoba menahan esmosi. Jadi begini lah dia aslinya. Kenapa selama ini dia bermain drama di hadapanku? Apa yang diinginkannya?
"Ibuuuuuk ...." Ternyata, gadis kecilku sudah bangun dan turun ke lantai bawah. Dia masih mengucek-ngucek mata dan mulai fokus melihat seseorang.
"Elena, ayo sini ...." Aku berjongkok bersiap memeluk Elena.
"Paaaapaaaaaa!" Namun, dia berlari menuju Pak Arendra dan memeluknya.
Pak Arendra langsung berubah 180 derajat. Wajahnya yang tadi persis orang saiko seketika tampak bagai papa-papa nan penyayang.
"Elena udah bangun yaaa? Nyenyak bobonya semalam?"
Gadis kecil yang ditanya menganggukan kepalanya sambil duduk di pangkuan dosen aneh yang berjongkok untuknya.
"Papa mau cuci baju?" tanya Elena kembali.
"Cini bajunya, Elena yang bawa." Menengadahkan tangan sembari memberikan senyuman lebar.
Aaah ... anakku, dia sudah pintar ilmu marketing, senyum, sapa, dan salam. Dia sudah terbiasa hidup dalam dunia percuci-cucian semenjak umur satu tahun, membuatnya menyangka semua yang datang ke tempat ini hanya untuk menggunakan jasa laundry.
Pak Arendra bangkit dengan penuh wibawa. Dia menggandeng Elena menuju arah luar. Aku ingin mencegat, tetapi takut membuat Elena khawatir seperti saat Bang Alan ikut naik ke bagian atas ruko ini.
Aku ikuti mereka, dan ternyata ... dia memang membawa pakaian kotor yang lebih banyak dari biasanya. Pria yang suka tiba-tiba itu, maksudku tiba-tiba aneh, tiba-tiba baik, tiba-tiba penyayang, mengeluarkan pakaian tersebut dari mobil.
Pakaian diangkat, dan dilemparkan tepat di hadapan kakiku. "Tolong cuci yang bersih, dan jangan lupa parfumnya harus more exclusive and more expensive. Silakan bayar pakai gajimu!"
Pakai gajiku? Ooh, iya ... dia bener-bener tidak tahu bahwa aku lah pemilik ini semua. Bahkan, ini saja dia tidak tahu. Bagaimana dengan kisah cintanya ya? Pasti tak ada yang betah lama-lama sama dia.
"Saya akan pergi." Lalu dia berjongkok memegang kedua pundak Elena.
__ADS_1
"Elena mau main ke rumah Papa lagi nggak?"
Gadis kecil itu menganggukan kepala tanpa menunggu persetujuan dariku. "Nanti Eyena mau ajak Tante Vina ke lumah Papa."
Pria itu mengacak rambut Elena, gemas. Lalu beranjak menatapku beberapa waktu. Apalagi yang dipikirkannya? Semoga bukan sesuatu yang bisa membuatku susah.
Seseorang tiba-tiba muncul dengan menggunakan style joging. "Waaah, sekarang laundry-nya buka pagi banget ya?"
Seseorang memecah kecanggungan di antara aku dan Pak Arendra. Kami berdua serempak menoleh ke arah orang tersebut.
"Bang Alan?"
Dia tampak menyunggingkan senyum lebarnya kepadaku. Aku ... masih terhipnotis melihat senyuman itu. Oh, hati ... kamu harus kuat! Ingat! Jangan jatuh pada lubang yang sama! Aku terus menampar diriku agar tidak melupakan segalanya.
"Waah, ternyata aku salah. Jadi kalian sudah kangen-kangenan sepagi ini?" Bang Alan melihat Elena sedang berada di dekat Pak Arendra.
Oh, benar juga. Aku baru ingat bahwa kami berdua masih dalam drama menjadi sepasang kekasih.
"Kenapa joging di sini?" tanyaku.
"Oh, ya ... kamu belum tahu? Jojo belum menyampaikan bahwa aku sudah pindah rumah deket-deket sini?"
"Kamu berangkat pukul berapa ke kampus, Sayang?" ucap Pak Arendra menambah kepeninganku.
"Seperti biasa, Pak."
Bang Alan tersenyum tipis. "Kalian benar-benar sepasang kekasih nggak sih? Kenapa manggilnya kayak bapak dan anak begitu?"
Benar juga, lalu aku harus menjawab apa? Apa harus aku ceritakan juga dia adalah dosen di kampus.
"Iya, itu adalah panggilan kesayangannya kepada saya. Saya adalah Bapak, dan di adalah Ibuk. Bener kan, Buk?" Pak Arendra berdalih dengan segala kemampuan ngelesnya.
"Ayaaah, Eyena ikut lari ya cama ayah?" Kali ini gadis kecilku berlari mendekati ayahnya.
Bang Alan menggendong Elena dan membisikan sesuatu di telinga putrinya. Elena tampak tersenyum dan mengangguk kecil, turun dari gendongan Bang Alan.
Elena berlari mendekat padaku. "Buk, ayah ngajak Ibuk lari cama-cama."
__ADS_1
Aku pun berjongkok membelai poni gadis kecil itu. "Ibuk belum bisa lari hari ini ya, Nak. Ibuk mau sekolah dulu."
"Buk, ayo kita lari cama ayah." rengeknya mulai dengan jurus memaksa.
"Elena, ayo sini." Pak Arendra memanggil Elena mendekat kepadanya.
Elena berlari kecil mengejar Papa jadi-jadiannya. "Nanti, kita joging sama-sama akhir minggu ya?"
"Tapi Eyena mau cama Ayah dan Ibuk."
"Papa di umah aja main cama Datuk dan Nenek."
"Nanti Eyena ke cana cama Tante Vina."
"Eyena mau belenang di cana, boleh kan, Pa?"
Aku berjalan mendekati Elena. Aku tak ingin Elena terlalu dekat dengan pria aneh seperti Pak Arendra ini. "Elena, nanti berenangnya sama Ibuk aja."
"Kamu jangan sungkan begitu, Sayang. Jika dia dekat dengan Papa dan Mama akan mempermudah segalanya ke depan nanti." Tangan pria itu menyugar rambutku ke belakang telinga.
"Bangun tidur saja, kamu masih terlihat cantik ya?" Dia mencolek daguku membuatku ingin memuntahkan segala amarah.
Aku segera menangkap tangannya yang sudah bisa dikatakan tidak sopan ini. Aku membesarkan mata sembari mengancamnya meski tak satupun kata yang terdengar.
"Ekheeem ...." Bang Alan sengaja membuat kami memperhatikannya.
"Kali ini kalian boleh main-main, akan tetapi, aku tahu ... cinta yang dia miliki hanya untukku!"
Bang Alan menatap Pak Arendra. "Jika kamu bisa mengambil hatinya dalam kurun waktu satu bulan, aku akan benar-benar melepasnya. Jika sebaliknya, maka ... kamu harus meninggalkannya! Karena bagaimana pun juga, dia masih mencintaiku. Aku pun begitu."
Bang Alan melambaikan tangannya pada Elena dan melanjutkan acara lari paginya. Elena pun membalasnya dengan wajah polos. Dia yang sekecil ini harus menghadapi sesuatu yang berat meskipun dia sama sekali tidak memahami arti perpisahan.
"Papa ... Eyena mau belenang di umah Papa. Eyena mau belenang cama Ibuk juga yah?"
"Tentu saja boleh, Sayang ... tiap hari berenang di rumah Papa juga boleh kok. Ibuk tinggal di rumah Papa juga boleh kok."
Pak Arendra menatap kepergian mantan suamiku itu. "Papa mau bersiap pergi kerja ya? Elena baik-baik dengan Ibuk di rumah!"
__ADS_1
Elena mengangguk kembali. Pak Arendra masuk ke dalam mobilnya dan menurunkan kaca jendela.
Meskipun dia tidak mengatakan apa-apa, dia menatapku sejenak dan pergi. Aku kembali melihat ke arah Bang Alan yang sudah jauh dari tempat aku berdiri.