
*Maaf lama lagi ya Kakak semua ... Othor lagi menuntaskan suatu hal di dunia nyata ... Mohon doanya kakak readers yang baik hati ... semoga urusan yang akhir-akhir ini membuat kepala Author pusing bisa diselesaikan dengan segera ... aaamiiin ... Eehh ... sedih eiy ... folowers Nesya makin lama makin kurang ... wkwkwkwk*
"Coba ulangi, Pak? Apa yang dimaksud bangun berdua dengan Dik Nesya ini?" tanya Pak Kasman memasang pendengaran dengan baik.
"Membangun sekolah bersama maksud saya, Pak."
"Saya kira, Pak Rendra mau membangun keluarga bersama dengan Dik Nesya ini. Hahaha ... ternyata saya salah mendengar." Pak Kasman dengan beberapa orang yang ikut nimbrung pun tertawa bersama sembari melirik ke arah ku dan Pak Arendra.
Aku pikir, aku sendiri yang salah mendengar. Ternyata semua yang ada di sini juga mendengar yang sama.
"Mari, Pak ... bagaimana prosedur pengajuan pembangunan unit sekolah yang baru?"
Pak Arendra tanpa izin menarik tanganku mengikuti para pegawai dinas ini. Kami pun dihadapkan secara langsung pada Kepala Dinas dan beruntung masih diterima dengan baik.
"Ohh ... begitu ... baik lah ... kita akan mencoba mengajukan kepada pihak Kementrian Pendididikan atas harapan Saudari Nesya, untuk pendirian sekolah tingkat atas."
Lalu Kepala Dinas berpikir sejenak. "Bagaimana jika kita usulkan pembangunan SMK saja? Karena di kabupaten sana, sekolah kejuruan masih sangat minim, jadi memiliki potensi baru dan meningkatkan minat tamatan SMP untuk mendaftar di sana."
"Kalau tidak salah di sana kaya akan hasil pertanian kan, Saudari Nesya?" tanya Kadis.
"Benar sekali, Pak. Di sana banyak hasil pertanian terutama kopi yang masih bisa dikembangkan kembali."
"Nah, kebetulan sekali di kabupaten tersebut belum memiliki jurusan Teknologi Hasil Pertanian, dan di provinsi kita ini, baru ada satu sekolah yang mengusung jurusan tersebut. Hal ini bisa menjadi kunci agar sekolah tersebut semakin diminati oleh siswa tamatan SMP." ucap Kadis dengan wajah penuh minat.
"Benar juga, Pak. Pasti perkembangan sekolah tersebut sangat pesat. Di samping mengadakan jurusan THP tersebut, bisa diiringi dengan mengadakan jurusan Akuntansi, serta Pemasaran. Ini semua masih saling berkesinambungan, dengan harapan ... siswa tamatan SMA tersebut bisa mengaplikasikan ilmu yang didapat di tengah masyarakat." tambah Pak Arendra.
Waah, hal itu sama sekali tidak terpikirkan olehku. Hanya satu harapanku, yaitu masa depan anak-anak di dusunku tak sekedar jadi budak ranjang lagi. Mereka bisa melihat dunia luar selain dusun kami yang kecil. Mereka bisa merajut asa yang belum dicicipi oleh orang tua mereka dulu.
Beruntung hari ini malah bertemu Pak Arendra. Jika tidak, aku pasti akan bingung harus bagaimana.
"Tapi, tentu ... untuk uji pertama pengadaan unit sekolah baru calon sekolah harus memiliki calon kepala sekolahnya dulu."
Kepala sekolah? Siapa yang mau menjadi kepala sekolah untuk di sana?
"Bagaimana, Dik Nesya? Apakah sudah ada calon kepala sekolah untuk sekolah tersebut?"
Aku hanya bisa menggelengkan kepala. "Jika diperbolehkan, biar saya saja yang menjadi kepala sekolahnya, Pak."
__ADS_1
Namun, mata Kadis tersebut terlihat menyipit. "Kamu? Sudah tamat kuliah belum?"
"Belum sih, Pak. Dari pada pembangunannya batal karena tidak memiliki calon kepala sekolahnya, ya udah ... sini, Pak. Buat saya saja."
Aku mendengar suara tawa yang ditahan oleh Pak Arendra. Kepala Dinas terlihat tersenyum. Apakah caraku menyampaikannya kurang tepat?
"Ekhem ... mungkin sebaiknya kamu menyelesaikan kuliahnya dulu. Satu lagi, yang bisa menjadi kepala sekolah, mesti memiliki sertifikat pendidik. Ya, bisa dibilang mesti seorang guru yang telah memiliki pengalaman mengajar juga."
Mendengar penjelasan Kadis tersebut membuatku seketika menjadi ciut. "Yaah, tak ada satu pun yang bisa kupenuhi."
"Tapi, kamu bisa jadi pengawas pembangunan." ucap Pak Arendra.
"Ada ya, yang seperti itu?"
"Bisa ... karena nanti sebagai penyedia akan membutuhkan banyak informasi kepadamu yang mengajukan. Jadi, apa kamu bersedia?"
"Namun, saya tidak paham apanya yang harus diawasi, Pak. Saya tidak mengerti sama sekali takaran kekokohan atau apalah-apalah mengenai pembangunan."
"Hahah--"
"Nah, gini Dik Nesya, kami akan mencoba untuk menyalurkan aspirasimu, ke pihak yang lebih tinggi lagi. Nanti, akan saya laporkan lewat Pak Rendra segala perkembangan dan kendalanya."
Ternyata mesti menunggu lagi. Ya sudah, tidak apa. Padahal, aku berpikir semua tidak akan sesulit ini. Cukup mereka bilang mengizinkan atau tidak. Jika izin kekuar maka aku akan coba membangun sekolah sederhana. Jika tidak, silakan try again and again sampai mentok.
Namun, setelah mendatangi tempat ini, aku baru menyadari bahwa semua tidak mudah. Tidak segampang membalikan telapak tangan. Pertemuan yang membuat harapanku antara naik dan turun ini pun dituntaskan. Kami semua bersalaman.
"Duh, keren juga emak-emak yang satu ini ...." ucap Pak Arendra.
"Hah? Gimana, Pak?" Dia hanya menjawab pertanyaanku dengan sebuah senyuman. Dia terus mengikuti langkahku.
"Lhoh? Bukannya Bapak punya urusan? Saya mau keluar lho. Silakan Bapak bereskan urusan yang masih belum selesai itu." ucapku.
"Aku hanya ingin memastikan kamu tidak jatuh dari tangga saat menuju ke bawah nanti."
Ini sungguh alasan tak masuk akal dari membutku melihat tingkat keanehannya saat ini sudah berada di level delapan, berbanding sepuluh. Tinggal dua lagi, fix aku akan ikut aneh jika terus dekat seperti ini dengannya.
Ponselku bergetar, dah di layar tertulis nama kontak Bang Alven. Pak Arendra ikut mengintip dan membaca nama si penelepon.
__ADS_1
"Cih, ngabsen mulu? Udah melebihi pasangan suami istri saja."
Demi rasa hormatku kepada seorang guru yang selalu menjadi malaikat tanpa sayap, seseorang yang selalu muncul secara ajaib di saat aku membutuhkan, maka ... aku tidak menjawab julitannya tersebut. Lebih baik panggilan tersebut aku terima dengan segera dan langsung menempelkannya pada telinga.
"Hallo, Bang."
📳 "Bagaimana dengan pengajuannya?"
"Ternyata ribet sangat laah?"
"Bahkan Alven pun sudah kamu beri tahu. Kenapa aku tidak?" Pak Arendra menyela ucapanku dengan si penelepon.
📳 "Jadi, saat ini kamu sama Mas Aren?"
"Iya nih, kebetulan ketemu di sini."
"Kita kan sudah janjian sejak tadi malam." Pak Arendra mengucapkannya sembari membuang muka melihat ke sisi lain.
📳 "Ooh ... kalau--"
"Rendra?"
Sebuah sapaan dari seorang perempuan membuat suasana yang tiba-tiba heboh karena kedua saudara ini, kini menjadi senyap. Aku pun melihat sang perempuan tengah mengenakan pakaian seragam pegawai bewarna kaki hendak naik ke lantai atas. Sementara kami hendak turun ke lantai dasar saling berlawanan arah berada di atas tangga.
Jika aku lihat, mengkin dia seorang PNS atau guru yang ada urusan di tempat ini. Aku berpindah pada sosok yang dipanggil. Wajahnya seketika berubah kembali, dan tangan pria itu langsung merangkul pundakku.
"Ayo, Sayang ... kamu hati-hati ... sini aku bantu!"
Semua bulu yang ada pada tubuhku seolah berdiri karena geli. Dia mau akting di hadapan wanita ini? Siapa dia?
"Waaah, pantas saja Pak Rendra perhatian sekali dengan Dik Nesya. Ternyata kalian sepasang kekasih?" ucap Pak Kasman yang berada di belakang kami.
📳 "Apa yang terjadi? Kenapa Mas Aren berkata seperti itu? Kenapa kalian dikatakan sepasang kekasih?" ucap pria yang ada di seberang panggilan.
"Sudah ya, Sayang. Jangan menelepon saat menuruni tangga. Nanti kamu bisa jatuh. Kalau kamu jatuh aku kan jadi sedih." Ponselku direbut oleh Pak Arendra. Dengan tidak sopan dia menutup panggilan dari sang adik.
"Maaf ... permisi ... calon istriku mau lewat." Pak Arendra mendorong wanita tadi dengan dingin.
__ADS_1