Ternyata Suamiku Gigolo

Ternyata Suamiku Gigolo
50. Orang aneh


__ADS_3

"Nesya ...." Sebuah panggilan membuatku terkejut dan aku langsung memperbaiki posisi.


dugh


"Aaauuuww ...." Kepalaku membentur sesuatu dan aku lihat siapa yang tengah kesakitan itu. Dia adalah pria yang membuatku membatalkan pindah karena sindirannya tadi.


Ternyata aku ketiduran, dan dia ... ngapain di belakangku?


"Bang Alven ngapain?" Kuusap kepala yang tidak terlalu sakit. Hidungnya pasti sangat kesakitan. Siapa suruh berdiri di dekatku. Iya ... pasti terlalu dekat. Mau apa lagi dia?


"Kamu yang ngapain tiba-tiba bangun? Bilang dulu kek!" Kenapa dia yang marah? Dia memijit-mijit hidungnya yang sakit. Syukurin! Ngapain juga dia bertingkah aneh seperti itu?


Lingga, sang pemilik suara yang membangunkanku tadi, menatapku penuh curiga. Kami berdua melihat saudara Pak Arendra beres-beres dengan muka merah, menahan rasa sakit. Lalu, dia pergi begitu saja tanpa permisi dan maaf.


"Kamu ngapain dengannya?" tanya Lingga mulai menginterogasiku.


"Gak tau juga. Tadi aku ketiduran saat membuat tugas. Nah, kamu bikin aku kaget dan dia udah berada di belakangku. Kamu lihat sendiri akhirnya kan?"


"Dia kayak mau meluk kamu tau?" Lingga duduk di bangku yang tadi diduduki oleh adiknya Pak Arendra itu.


"Memeluk? Nggak mungkin! Kami tak saling mengenal."


Lingga hening dengan wajah herannya. Seharusnya, aku yang lebih heran. Sebenarnya dia mau apa?


Aku pun pamit sejenak pada Lingga untuk mencuci muka. Lalu aku kembali dan Lingga sudah sibuk dengan tugas bejibun dari Pak Suhandi.


Beberapa waktu kami habiskan untuk mengerjakan tugas tersebut, hingga orang-orang perpustakaan mengusir kami semua keluar karena sudah masuk waktu istirahat siang. Begitu lah, pada jam istirahat, perpustakaan mesti dikosongkan. Buku-buku tadi, kami kembalikan ke posisi semula.


*


*


*


"Daah, aku pulang dulu!" Aku lambaikan tangan kepada Lingga dan kami berpisah menuju ke rumah masing-masing.


Suasana sore, dengan jalur pantai terasa sangat syahdu merayuku untuk singgah sejenak. Kali ini, aku memang ingin lewat jalur pantai. Meskipun hanya sekedar lewat, pantai membuat otakku sedikit tenang.


tiiiiin


tiiiiin


Sebuah motor sport tiba-tiba mepet hingga membuatku menepi. Akhirnya, aku memilih untuk berhenti. Sang pemiliki motor sport pun ikut berhenti membuka helm. Ternyata di balik helm fullface tersebut ada wajah Pak Arendra.


Kenapa lagi? Apakah aku melakukan kesalahan?


Dia turun dari motor dan menarikku untuk turun juga. Setelah itu langsung menarikku menyeberang jalan menuju ke arah pantai. Aku pun menarik tangan karena tidak suka diperlakukan kasar seperti ini.


"Pak, kenapa? Sakit tau!"

__ADS_1


Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong kemeja seperti sebuah memo persis beberapa waktu lalu. Dari kantong celana, dia menarik sebuah pulpen.


"List hutangmu bertambah!"


"Lhoh? Kok?"


"Aku mau kamu melunaskannya secepatnya! Kirim uang lima puluh juta ke rekeningku saat ini juga!" Dia menyerahkan catatan dengan tulisan HUTAAAANG Rp50 juta.


"Ini apa ya, Pak? Kenapa tiba-tiba bisa begini?"


"Saya tidak mau tahu. Nanti akan saya kirim nomor rekening akun keuangan saya!" Dia menatap deburan ombak tanpa menoleh lagi kepadaku.


"Aneh!" Aku lempar secarik kertas itu kembali kepadanya.


"Kamu dihukum!" ucapnya membuat langkahku terhenti.


"Kamu sudah selingkuh dengan adik saya! Setidaknya jika ingin selingkuh, jangan dengan saudara atau orang yang dekat dengan saya!" Usai berbicara seperti itu, dia beranjak pergi dan pergi.


Aku kejar dia. "Pak, sejak kapan kita memiliki hubungan istimewa? Saya pun tak merasa selingkuh dengan siapa-siapa."


Namun, dia seolah menutup telinga dan terus melangkah meninggalkanku. Aku pun mempercepat langkah, mendahului orang yang semakin waktu membuatku semakin pusing.


"DASAR DOSEN ANEH!!!"


"Dasar! Kakak adik yang aneh! Bu Jenie ngidam apa sih, saat hamil mereka?"


Aku bermonolog kesal menuju kendaraan yang tengah terparkir di seberang jalan. Dia masih berdiri di motor dan aku segera tancap gas. Aku kendarai motor ini dengan kecepatan yang tidak main-main.


"Ayoo, kita geluuud di jalanan!" Dia membuka kaca helm fullface miliknya.


Aku tak menanggapi dan menutup helm bogo yang aku pakai. Memilih berbelok ke arah luar dan berjalan pulang masuk jalur tengah kota. Dia tidak mengikutiku lagi.


*


*


*


brak


brak


brak


Usai Subuh keesokan hari, terdengar suara orang tengah menggedor pintu rolling toko yang ada di bawah.


brak


brak

__ADS_1


brak


Siapa ya? Kenapa jam segini sudah ada orang yang menggedor pintu toko? Apa ada orang..gila? Iih, ngeri ....


🎵 la la la 🎵


Nada dering ponselku berbunyi. Siapa yang menelepon? Aku pun bergerak menuju ponsel dan di layar tertulis dengan nama kontak Dosen Gilaaa.


Aku geser tanda hijau dan langsung menempelkan benda pipih ini di telinga. Namun, tak ada suara di seberang panggilan.


"Mungkin gilanya kumat." Aku tekan tanda merah dan panggilan berakhir.


🎵 la la la 🎵


Tanda panggilan kembali berbunyi. Aku ulangi proses yang sama, dan di seberang masih hening yang sama.


"Pak, kalau iseng seperti ini, saya tutup ya? Jangan jahil seperti anak muda begini, Pak."


📳"Kamu sungguh sangat tidak sopan!"


"Jadi Bapak sudah sopan kah kira-kira?"


📳 "Kamu ini memang ngeselin ya? Cepat ke bawah! Saya sudah di bawah!"


"Jadi---" Panggilan sudah ditutup.


Jadi ternyata dia yang membuat kegaduhan di Subuh ini? "Ck!" Dia sungguh sangat kekanakan!


Aku pun melangkahkan kaki turun dan membuka pintu rolling toko. Aku intip kiri kanan, tetapi tak terlihat satu orang pun. Aku pun bergerak keluar, suasana pagi yang masih gelap dan dingin membuatku cukup tergidik.


"Mana orangnya?"


Sebuah tangan tiba-tiba menarikku dan mendorongku masuk ke dalam toko dengan mulutku dibekap oleh tangannya. Aku dorong orang yang terlihat semakin aneh itu.


"Kenapa sih, Pak? Kayak yang mau jadi maling aja, tau gak?"


Dia kembali mendorongku hingga terpojok di dinding. "Kamu membuat kesabaran saya hilang!"


Aku dorong kembali, tetapi tubuhnya terlalu kuat terus memojokanku. "Bapak kenapa? Istighfar, Pak! Istighfar!"


Dia menyunggingkan senyum dingin. "Kamu mau main-main dengan saya? Kamu benar-benar membuat saya ingin mencuci hatimu hingga bersih!"


"Lhah? Cuci hati apa sih? Bapak ini kok aneh gini?" Aku injak jempol kaki dia dengan sekerasnya.


"Aaaauuuww!"


Lalu aku dorong hingga aku berhasil lepas darinya. Kedua tangan ku letakkan di pinggang layaknya jagoan.


"Maaf ya, Pak! Di sini laundry! Tempat cuci pakaian, bukan tempat mencuci hati! Mencuci hati itu wudhu, Pak! Istighfar! Bukan pagi-pagi gedor toko orang kayak gini!"

__ADS_1


"Bapak ini seorang dosen lho? Nanti orang lihat berpikir macam-macam di antara kita, Bapak bisa rugi sendiri."


__ADS_2