
"Memangnya dia memberi apa kepadamu?"
Enak sekali hidupnya? Ini sungguh sangat mengejutkan? Seumur-umur Bang Alan memberiku duit, dengan uang yang didapat dari hasil ... hmmmfff ... Kenapa aku malah merasa iri?
"Dia membelikan ini." Lingga memamerkan sebuah ponsel yang bisa dikatakan memiliki harga lumayan.
Aku berusaha menata hatiku. Aku tidak boleh iri! Iri hanya untuk orang yang tidak bisa bersyukur. Namun, melihat benda yang diberikan Bang Alan yang baru mengenalnya beberapa bulan itu, hmmm ... aku tidak boleh begini.
Ingat!
Dia yang sekarang, bukan dia yang dulu. Bukan kah saat ini aku sudah bahagia menjalani hidup dengan pria yang benar-benar mencintaiku? Aku pun sangat mencintai suamiku.
Jangan sampai gara-gara benda itu saja membuatku jadi seperti ini. Aku juga bisa membelinya sendiri kok, hmmm ... lagian ponselku tidak jelek-jelek amat kok.
"Hoy!" Lingga menepuk lenganku membuatku sedikit kaget.
"Iya, Ga?"
"Kenapa malah bengong lihat ini?" Lingga menaikan sebelah alisnya.
"Aku menunggu pendapatmu sebagai orang yang pernah bersamanya cukup lama. Dia itu bagaimana? Kamu malah bengong begini."
"Hmmm, lumayan lah. Kami berpisah karena sebuah keadaan," ucapku berbohong. Aku tidak pernah memberitahukan kepada siapa pun pekerjaan Bang Alan yang membuatku memutuskan untuk mengakhiri kisah dengannya.
Termasuk suamiku, Mas Aren. Aku tidak pernah menceritakan kepadanya bagaimana kisah kami dahulu.
"Gitu ya?" Lingga seperti tidak puas dengan jawaban yang aku beri.
__ADS_1
"Tapi, entah kenapa saat dia memberikan ini, aku merasa tidak nyaman? Dia terus saja mengucapkan tabungannya habis, simpanannya tidak ada, harus bekerja keras lagi, bla bla bla ... tentu saja membuatku merasa tidak nyaman saat menggunakannya."
Lingga merenung memandang ponsel itu dengan lesu. Kenapa aku merasa kesal ya, Lingga seperti itu?
"Seharusnya kamu seneng lho, dapat ini dari dia. Aku aja nggak pernah diberi yang seperti ini dulunya." Aku bangkit bersiap untuk menuju ruang kuliah pagi ini.
Tidak mungkin juga aku mengatakan segala keburukan Bang Alan selama menjadi suamiku. Dahulu segalanya aku yang urus. Dari hal terkecil hingga terbesar Bang Alan, aku yang belikan. Aku rasa itu bukan sesuatu yang pantas untuk aku ceritakan. Aku memilih untuk bungkam.
"Eh, tunggu!" Lingga berlari mengikutiku menuju ruang perkuliahan.
*
*
*
Pada malam hari usai makan malam, Elena bermain sejenak dengan Elena. Bapak juga duduk bersama mereka. Sementara aku membersihkan segala sisa kekacauan di dapur bersama Mak.
Aku lirik suamiku yang sedang asik bersenda gurau dengan Elena dan Bapak. Seakan mengetahui aku memperhatikannya, Mas Aren malah turut serta melihat ke arahku.
Aku segera membuang muka berkonsentrasi mencuci peralatan yang terbongkar saat masak. Sementara Mak menyapu dan membersihkan bagian lain rumah ini.
Aaaah, aku lirik ponselku yang seperti sudah karatan. Aku mau dibelikan juga. Lingga aja yang cuma pacaran dapat ponsel baru?
Setelah cengkrama malam usai, kami masuk ke kamar. Mas Aren terlihat terus memerhatikan aku dengan tatapan lurus. Aku memainkan ponsel membolak-balikinya dengan tak jelas.
"Kenapa dengan hapenya? Ada pesan masuk? Atau bingung mau belanja online?"
__ADS_1
"Mas, menurutmu hapeku gimana?" Aku mengambil ponsel Mas Aren yang tergeletak begitu saja pada nakas di samping ranjang.
"Waaah, hape kamu bagus banget ya? Berapa belinya?"
Mas Aren menarik ponselny yang aku mainkan. Dia memutar-mutar ponsel itu masih dengan raut yang mengerut penuh tanda tanya. Tiba-tiba saja punggung tangannya meraba keningku yang tidak panas.
"Apaan sih? Yang sakit itu ini." Aku menunjuk bahuku yang sudah mulai membaik.
"Aku pikir kamu sakit, tiba-tiba menjadi aneh seperti ini."
"Loh? Kok aneh sih? Aku kan memuji hapemu."
Mas Aren menatap ponselnya dengan lekat sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Bagus apanya ini hape? Ini sudah tiga tahun berada di tanganku."
O-ow ... Hmmm ... sepertinya aku salah langkah. "Masa sih? Masih keren banget ini lho? Ini lihat hapeku, ram nya kecil banget. Kalau tiap download aaaplikasi yang baru, hapeku selalu memberontak."
Mas Aren tertawa kecil. "Emangnya kayak apa dia memberontak." Mas Aren manarik dan mendekapku dari belakang.
"Ini, katanya memori tidak cukup. Jadinya aku un-instal lagi." terangku.
"Jadi???" Mas Aren seakan membaca sesuatu di balik pancinganku.
"Nggak, aku hanya curhat kok."
"Kamu mau hape baru?" tanyanya.
"Enggak kook, hapeku masih bagus kok?" elakku tiba-tiba merasa canggung dengan tebakannya yang sangat tepat sasaran.
__ADS_1
"Kamu mau yang kayak apa? Bilang aja! Tapi syaratnya harus full service tiap malam."
"Tapi aku lagi datang bulan."