Terpaksa Menikah Karena Perjodohan

Terpaksa Menikah Karena Perjodohan
Kamu Ngga Usah Menjawab


__ADS_3

Ane menatap ke arah Dewo sambil mengeluarkan senyum licik di wajahnya, entah apa yang ada di pikiran Ane sehingga Ane mengeluarkan senyuman licik tersebut dengan tatapan mengarah ke arah Dewo yang sedang menatap ke arah depan dengan tatapan kosong.



Kini Ane mendekatkan tubuhnya ke tubuh Dewo lalu tanpa permisi dan tanpa aba aba Ane langsung berteriak dengan sangat keras sekeras kerasnya di telinganya Dewo, membuat Dewo yang sedang melamun langsung membubarkan dan membuyarkan lamunannya bahkan saking kagetnya Dewo menerima teriakan Ane yang secara tiba tiba hampir saja Dewo melayangkan tinju kepada Ane, namun semua itu dapat di tepis oleh tangannya Ane.


"Dewo kenapa kamu diam saja dari tadi ayo lebih baik kita berdua pulang saja" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang di telinganya Dewo, membuat Dewo hampir saja mengeluarkan jurus pamungkasnya yaitu menonjok wajahnya Ane, namun langsung di tepis oleh Ane sambil kedua matanya Ane menatap Dewo dengan tatapan sangat tajam.


"Dewo kamu pasti mau menonjok wajahnya mama pakai tangannya kamu yang ini kan tapi sayangnya mama hebat karena bisa menepis tangannya kamu yang mau mendarat di wajahnya mama" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang sambil kedua matanya Ane menatap nyalang ke Dewo serta tangannya Dewo juga di pegang Ane dengan sangat kencang membuat Dewo meringis menahan sakit yang dia rasakan akibat ulah tangannya Ane yang memegang tangannya Dewo dengan sangat kencang.


Dewo sudah membuka mulutnya bersiap untuk menjawab tendangan dari Ane lebih tepatnya perkataan dan teriakan dari Ane, namun sebelum Dewo menjawab terdengar suara yang tak asing di telinganya Dewo, suara siapa lagi kalau bukan suara Ane yang mendahului suara Dewo, membuat Dewo menutup kembali mulutnya karena takut ada gajah masuk, memangnya gajah muat di mulutnya Dewo, muat kalau gajahnya di potong potong menjadi kecil terlebih dahulu.

__ADS_1


"Dewo kamu ngga usah menjawab perkataan dari mama karena mama sudah tahu jawaban dari kamu, pasti kamu mau bilang kalau kamu tidak ingin menonjok wajahnya mama, jadi kamu ngga usah jawab omongan mama" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang melebihi kerasnya toa sambil Ane menatap nyalang ke Dewo, sedangkan Dewo hanya memutar bola matanya malas.


Setelah Ane menunggu selama beberapa puluh jam kelamaan dong lebih tepatnya Ane menunggu selama beberapa puluh menit, namun Ane tak mendengar suara jawaban dari Dewo, satu patah kata pun bahkan satu huruf saja tidak terucap dari mulutnya Dewo membuat Ane melototkan kedua matanya ke arah Dewo.


Ane sangat emosi dengan kelakuan Dewo sehingga kini tatapan Ane sangat horor dan sangat menusuk kepada Dewo, sedangkan Dewo yang melihat tatapan mautnya Ane hanya menaikan satu alisnya, bingung sendiri Dewo menyikapi kenapa Ane menatap Dewo dengan tatapan yang sangat menusuk.


"Dewo mama jadi semakin yakin kalau kamu itu sudah terserang penyakit tuli dan budeg akut, lebih baik kita berdua pergi sekarang juga ke poli perut lho ngapain ke poli perut, maksudnya mama lebih baik kita berdua sekarang langsung ke poli THT" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang sedangkan Dewo membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut yang menganga mendengar omongan lebih tepatnya mendengar teriakan dari Ane.


"Dewo jangan bilang kamu ngga mendengarkan semua omongan dan semua teriakan mama yang mengajak kamu ke poli THT sekarang juga" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang sambil kedua matanya melotot ke arah Dewo, sedangkan Dewo hanya menggelengkan kepalanya sambil menahan malu, sungguh Dewo sangat malu mendengar teriakan Ane secara tidak langsung Ane memberitahukan kepada semua penghuni dan pengunjung supermarket bahwa Dewo adalah orang tuli dan budeg sampai tidak mendengar suara teriakan Ane yang sangat kencang dan sangat keras.


Ingin sekali Dewo rasanya menonjok wajahnya Ane, namun Dewo mengurungkan niatnya bukan karena takut kepada Ane, tapi Dewo sadar status yang dia sandang yaitu cuma sebagai anak dari Ane, sehingga Dewo tidak berani menonjok wajahnya Ane.

__ADS_1


"Dewo ngapain kamu masih diam di tempat mama sudah melangkahkan kaki mama untuk menuju ke parkiran karena mama sudah bilang ke kamu kalau kita berdua ke poli THT saja buat memeriksa telinganya kamu yang sudah budeg dan tuli" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang sambil kedua matanya Ane melotot ke arah Dewo sedangkan Dewo dengan cepat menggelengkan kepalanya.


Tanpa menjawab apapun Dewo hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah Dewo membuat Ane geram sekali dan ingin sekali menghajar dan memberikan bogeman mentah kepada Dewo, namun Ane tidak akan melakukan itu karena Dewo adalah anaknya sekaligus penerus dari perusahaan miliknya dan suaminya, walaupun Dewo sendiri sudah punya perusahaan lewat jerih payah Dewo sendiri.


"Dewo ayo kita berdua ke poli THT kita berdua pulang dari sini sekarang juga" lagi dan lagi Ane berteriak dengan sangat keras dan sangat kencang sampai kalau semut dan kecoa bisa bicara pasti akan protes kepada Ane supaya mengecilkan volume suaranya.


Namun lagi dan lagi juga Dewo hanya menggeleng gelengkan kepalanya dengan mantap melihat gelengan kepala dari Dewo membuat Ane membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut menganga, sungguh Ane tak menyangka kalau Dewo tidak menjawab perkataannya lebih tepatnya Dewo tidak menjawab teriakannya Ane malah Dewo hanya menggeleng gelengkan kepalanya saja.


Karena Ane tersulut emosi membuat Ane langsung menatap Dewo dengan tatapan nyalang namun tatapan Ane tidak di ketahui oleh Dewo, karena Dewo sedang fokus menggeleng gelengkan kepalanya.


"Dewo mama itu bertanya sama kamu kenapa kamu ngga jawab pertanyaan mama malah kamu cuma menggeleng gelengkan kepalanya kamu doang, kayak orang yang lagi dugem, heran mama sama kamu cuma jawab omongan mama itu gampang dan gratis tanpa di pungut biaya sepeserpun tapi kamu ngga mau" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang sambil kedua matanya Ane mendelik ke arah Dewo sedangkan kedua matanya Dewo terbelalak lebar dengan mulut melongo.

__ADS_1


Sungguh Dewo juga emosi kepada Ane karena dari tadi Dewo menjawab dengan gelengan kepala itu karena Ane yang menyuruh Dewo supaya jangan menjawab omongan dari Ane.


__ADS_2