
Dewo yang hatinya ingin sekali cepat kelar dari semua masalah, membuat Dewo kini bergegas berjalan melangkahkan kedua kakinya menuju ke tumpukan pakaian yang tergeletak di lantai.
Ane masih syok dan kaget mendengar jawaban Dewo, sehingga kini Ane berusaha mencerna semua perkataan Dewo, setelah beberapa detik kemudian Ane baru paham maksud perkataan Dewo.
Kini Ane menatap ke arah Dewo, betapa terkejutnya Ane, bukan karena Dewo berubah menjadi pangeran kodok, atau menjadi gajah, atau menjadi aladin, namun yang membuat Ane terkejut adalah Dewo sudah tidak ada di tempatnya.
Ane menyapu semua ruangan kamar Dewo, sehingga kini kedua matanya Ane menangkap Dewo yang sedang berjalan ke arah tumpukan pakaian yang ada di lantai, melihat itu membuat Ane semakin geram dan tersulut emosi, bahkan mungkin kepalanya Ane sudah mengeluarkan asap yang mengepul gara gara emosi.
"Dewo kamu jangan jadi anak durhaka, kenapa kamu langsung pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban mama, keterlaluan sekali kamu, kamu ngga sopan Dewo karena langsung pergi tanpa menjawab omongan mama" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang, Ane menuangkan isi hatinya walaupun dengan suara teriakan.
Dewo yang sedang sibuk berjalan buru buru menghentikan langkah kakinya, bukan hanya itu saja namun Dewo juga terlonjak kaget bahkan jantung Dewo hampir melompat dari tempatnya, hampir saja jantungnya Dewo jatuh ke lantai.
Kini Dewo memegang kedua dadanya berusaha meredam semua amarah yang ada di hatinya, sungguh Dewo sangat kesal sekali dan emosi sekali mendengar suara teriakan Ane.
Dalam hatinya Dewo berpikir kalau dirinya serba salah, Dewo ingin protes dan menjawab semua omongan Ane, takut nanti Ane semakin kesal dan emosi, bukan hanya itu, namun yang Dewo sangat takutkan adalah Ane akan berceramah 24 jam non stop tanpa iklan dan tanpa henti, bahkan ceramah Ane dengan cara berteriak.
__ADS_1
Bisa di bayangkan kalau Ane teriak selama 24 jam non stop, sehingga Dewo mengambil keputusan yaitu menuruti perintah Ane dengan cara memunguti pakaian dan celana miliknya yang ada di lantai, sehingga tanpa menjawab perkataan Ane, karena Dewo tak ingin memancing keributan dan membuat Ane berteriak yang akan merusak telinganya.
"Mama sebenarnya aku itu ngga mau jadi anak durhaka, tadi aku ngga jawab" perkataan Dewo belum selesai sudah di potong oleh Ane.
"Dewo mama ngga mau dengar alasan dari kamu, mama sangat yakin tadi kamu sengaja tidak menjawab semua omongan mama jadi" kini perkataan Ane lebih tepatnya teriakan Ane yang di potong oleh Dewo.
"Stop mama" lagi dan lagi perkataan Dewo di potong oleh Ane.
"Dewo kamu aneh banget deh, ini itu lagi di rumah, ngapain kamu bilang stop segala kayak lagi di rambu rambu lalu lintas saat rambu menyala merah, atau kayak lagi jalan jadi tukang parkir" teriak Ane dengan suara yang sangat keras dari sebelumnya.
Karena Dewo tak mampu menampung suara Ane, membuat Dewo menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, sungguh suara teriakan Ane sangat menggangu telinganya, bukan hanya itu saja, tapi suara teriakan Ane hampir merusak gendang telinga Dewo.
Tanpa babibu lagi Ane langsung berjalan dengan langkah cepat ke arah Dewo, kini Ane akan menumpahkan segala emosinya ke Dewo, gara gara melihat kelakuan Dewo yang menutup kedua telinganya Dewo.
Setelah Ane berjalan cepat selama beberapa menit, kini Ane telah sampai di samping Dewo, membuat Ane tersenyum licik karena memikirkan ide briliant yang akan membuat Dewo membuka kedua telinganya.
__ADS_1
Ane menatap ke arah Dewo sekilas, lalu tangannya Ane terulur ke arah telinga Dewo untuk menjewer telinganya Dewo, mendapat jeweran di telinganya, membuat Dewo mengeluarkan jurus kagetnya berupa teriakan.
"Aaaaaaaahhhhhhhhhh" teriak Dewo dengan sangat keras dan sangat kencang, sungguh kepalanya Dewo merasakan sakit dan pedas.
Ane yang mendengar suara teriakan Dewo, membuat Ane terlonjak kaget, bahkan melepaskan jeweran di telinganya Dewo.
Kini Ane menatap nyalang ke arah Dewo, sungguh Ane kesal dengan kelakukan Dewo yang berteriak tiba tiba, membuat jantung Ane hampir saja menggelinding ke lantai.
"Dewo kamu apa apaan sih bikin kaget mama, kamu ngga usah teriak teriak bikin kaget saja, mama itu ngga tuli dan ngga budeg, jadi tanpa kamu teriak mama sudah dengar omongan kamu" teriak Ane dengan suara yang lebih keras dan lebih kencang dari teriakan Dewo.
Sementara Dewo yang mendengar suara teriakan Ane langsung bergeser dari tempat dirinya berdiri, sungguh Dewo kaget menerima teriakan Ane.
Kini Dewo menatap ke arah Ane yang sedang menatap dirinya dengan tatapan nyalang ke arah Dewo, sehingga Dewo menggaruk garuk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Aku itu ngga bikin mama kaget, tapi aku cuma mengeluarkan jurus suara teriakan aku refleks kaget akibat teriakan mama" sahut Dewo sejujur jujurnya tanpa ada kebohongan sedikitpun, memang Dewo berteriak karena kaget mendapat jeweran dari Ane.
Ane langsung melototkan kedua matanya ke arah Dewo, sungguh Ane kesal karena di tuduh oleh Dewo penyebab Dewo berteriak.
"Dewo kamu ngga usah fitnah mama, ingat mama ngga pernah menyuruh kamu berteriak, justru malah mama menyuruh kamu membereskan semua pakaian kamu dan semua celana kamu yang ada di lantai, tidak pernah menyuruh kamu berteriak, jadi jangan mengkambing hitamkan mama dan menjadikan mama alasan kamu berteriak" teriak Ane dengan sangat lantang, dan tatapan membunuh yang tertuju ke arah Dewo.
Sementara Dewo memutar kedua bola matanya malas, sungguh Dewo bingung dengan Ane, sebenarnya Ane itu polos, oon, atau apa, masa tidak paham dengan maksud Dewo.
__ADS_1
"Aku itu ngga pernah fitnah mama, aku berbicara kenyataan, kalau mama yang menyebabkan aku tadi berteriak seperti itu, mama memang bisanya cuma nyuruh doang, termasuk semua pakaian dan semua celana aku yang mama berantakin, ujung ujungnya aku yang di suruh bereskan semua pakaian dan semua celana aku, sebenarnya aku ngga mengkambing hitamkan mama dan aku juga ngga mewarnai kambing dengan warna apapun, intinya menurut aku mama yang malah membuat aku berteriak seperti tadi, aku bicara fakta bukan alasan memang faktanya mama yang membuat aku berteriak kayak tadi, titik no debat no ngomel no protes" ketus Dewo sambil menatap tajam ke arah Ane, sementara Ane membalas dengan menatap Dewo dengan tatapan tak kalah tajam.
Sungguh Ane tak terima di bilang dan di tuduh kalau dia penyebab Dewo berteriak seperti tadi.