
Sungguh kapasitas otaknya Dewo berpikir kalau Ane mengajak Dewo ke suatu tempat untuk berpacaran, sementara Dewo hanya menanggapi perkataan Ane dengan senyum masam.
Ane menatap ke arah Dewo seakan menelisik apa yang ada di hatinya Dewo, sedetik kemudian Ane buka suara bukan buka selimut.
"Ayo Dewo lebih baik kita berdua pergi sekarang" ucap Ane memecahkan keheningan yang tercipta beberapa menit ke belakang.
Mendengar suara Ane yang menggelegar di telinganya Diran, membuat Diran membuang semua lamunannya yang tadi hinggap di kepalanya, lalu Diran fokus menatap ke arah Ane dan bersuara.
"Mama mau mengajak Dewo kemana ?" pertanyaan itu muncul dari mulutnya Diran.
Sungguh Diran penasaran akan kemana Ane mengajak Dewo, dari pada berpikir tentang hal negatif kepada Ane membuat Diran memberanikan diri untuk bertanya secara live dan secara langsung ke Ane.
Ane yang tadi sibuk menatap ke arah Dewo kini kedua matanya Ane langsung menatap ke arah Diran, tentunya dengan tatapan tajam yang mampu membuat bulu kaki Diran merinding, maksudnya membuat bulu kuduk Diran merinding.
"Papa ngga usah banyak tanya, mending papa makan saja sana, pasti papa capek habis pulang kerja tapi papa ambil makanan sendiri, jangan campuri urusan mama" ketus Ane setengah berteriak sambil menatap tajam ke arah Diran, bahkan tatapan Ane setajam silet.
Diran menggaruk garuk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali sambil memikirkan kata yang tepat, sementara Dewo sebenarnya penasaran Ane akan mengajak Dewo kemana.
__ADS_1
Namun Dewo malas untuk sekedar bertanya seperti itu ke Ane, Dewo takut kalau Dewo menanyakan hal itu ke Ane akan membuat Ane besar kepala, mungkin sebesar gajah kepalanya.
Diran sedetik kemudian sudah menyiapkan pertanyaan buat Ane, Diran harap Ane mau menjawab pertanyaan darinya supaya Ane mendapat hadiah, koq jadi seperti kuis mendapat hadiah, maksudnya supaya Diran tahu Ane akan pergi kemana.
"Papa baru satu kali bertanya ke mama kenapa mama menuduh papa banyak bertanya, papa masih kenyang mama tadi papa juga sudah memesan makanan go food dan sudah papa makan sampai habis, papa capek tapi papa pengin tahu mama mau mengajak Dewo kemana, papa sama sekali ngga campuri urusan mama dengan saos, sambal, tomat, cabe, atau jenis apapun" jelas Diran dengan nada selembut mungkin.
Ane yang jengah mendengar perkataan dari Diran sejak tadi, membuat Ane berpikir untuk memberitahu kemana dia akan mengajak Dewo pergi.
"Papa sebenarnya mama mau mengajak Dewo ke poli THT, soalnya saat mama sama Dewo di supermarket mama sering mengajak bicara ke Dewo tapi Dewo diam saja seperti orang tuli dan budeg, makanya mama mau memeriksakan telinga Dewo ke poli THT" jelas Ane sejelas jelasnya kepada Diran, sementara kedua matanya Diran terbuka lebar mendengar perkataan dari Ane.
Dewo langsung menggeleng gelengkan kepalanya mantap sambil menatap ke arah Diran, itu sebagai isyarat bahwa Diran jangan percaya omongan Ane.
Diran menduga kalau Dewo itu tidak tuli dan budeg, karena sejak Diran sampai rumah dan berbicara dengan Dewo, jawaban Dewo juga nyambung dan ngga melantur, itu sudah menjadi bukti buat Diran bahwa Dewo itu tidak terkena penyakit tuli dan budeg.
Sungguh Ane yang mempunyai perasaan sensitif, membuat Ane tersinggung dengan perkataan Diran, dalam hatinya Ane berpikir bahwa Diran tak percaya dengan Ane.
"Papa menuduh mama sedang membohongi papa ? atau papa sedang memfitnah mama yang tuli dan budeg ngga mendengar suara jawaban Dewo di supermarket ?, mama sangat yakin kalau Dewo tak menjawab omongan mama saat di supermarket, mama yakin kalau Dewo itu terkena penyakit tuli dan budeg" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang, bahkan teriakan Ane membuat jantung Dewo dan Diran kompak berpacu lebih cepat akibat kaget.
Diran bingung memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab perkataan sang istri, hingga tiba tiba Dewo bersuara.
__ADS_1
"Mama papa itu tahu kalau aku ngga tuli dan ngga budeg makanya papa ngga membolehkan mama sama aku ke poli THT" sahut Dewo dengan nada tegas, mendengar perkataan Dewo membuat Ane mendelik ke arah Dewo.
"Dewo kamu itu tuli dan budeg jadi ngga usah memgelak, akui saja kalau kamu tuli dan budeg ngga usah malu, jalan satu satunya itu kita berdua ke poli THT untuk mengobati penyakit telinga kamu yang tuli dan budeg" bentak Ane suaranya sangat menggelegar di telinga Dewo dan Diran.
Dewo memutar bola matanya malas, sementara Diran semakin yakin kalau Dewo itu tidak tuli dan budeg, buktinya Dewo bisa menjawab perkataan Ane dan jawabannya nyambung dengan perkataan Ane.
Sedetik kemudian Diran terpikir oleh suatu hal, membuat Diran mengangkat sebelah bibirnya ke atas membentuk sebuah ukiran senyuman.
"Mama sebaiknya ke poli THT di undur saja, lebih baik kita bertiga siap siap buat ketemu sama sahabat kita berdua dan anak sahabat kita berdua" jelas Diran sambil menatap ke arah Ane.
Ane kini memijat pelipisnya sendiri, sungguh Ane bingung dalam situasi ini, dalam hatinya Ane juga ingin bersiap untuk bertemu Aya sang sahabat, tentunya dengan suami Aya dan anaknya Aya, sesuai dengan perjanjian mereka berempat.
Namun di sisi lain Ane juga tidak mungkin bertemu dengan Aya sang sahabat dengan keadaan Dewo tuli dan budeg, mengingat Aya itu calon mertua dari Dewo.
Maka dari itu Ane tadi memutuskan untuk mengajak Dewo ke poli THT, supaya penyakit tuli dan budeg Dewo bisa sembuh, dan tentunya Dewo tidak membuat malu Ane dan sang suami gara gara Dewo tuli dan budeg.
Dewo yang cepat tanggap dan paham dengan pembicaraan Diran yang menyuruh untuk bersiap siap, membuat Dewo sedetik kemudian berkata.
"Mama lebih baik jangan menunda pergi ke poli THT, soalnya aku mau periksa telinga aku, lagian kalau nanti kita bertiga bertemu dengan sahabat mama dan sahabat papa dalam keadaan aku yang tuli dan budeg, pasti nanti sahabat mama dan sahabat papa akan menertawakan mama dan papa gara gara punya anak tuli dan budeg, jadi lebih baik ayo ke poli THT sekarang" ajak Dewo dengan tegas sambil menggoyang goyangkan lengan Ane.
Ane nampak berpikir untuk beberapa saat, sementara Diran menatap nyalang ke arah Dewo, seakan Diran mengerti apa isi hatinya Dewo saat ini.
__ADS_1