Terpaksa Menikah Karena Perjodohan

Terpaksa Menikah Karena Perjodohan
Papa Ganti Pakaian Di Kamar Lain


__ADS_3

Ane kini menatap bungkus plastik yang ada di tangannya, tiba tiba Ane mengeluarkan senyum lebar di wajahnya, sungguh Ane merasa sangat bahagia saat ini.



Kedua matanya Ane kini menatap ke arah Diran, sekarang Diran sudah berdiri di samping ranjang empuk miliknya.



Ane yang tak mau membuang waktu ke tempat sampah, maksudnya tak mau membuang waktu terlalu lama kini Ane mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Papa mama mau ganti pakaian sebaiknya papa ganti pakaian di kamar lain" ucap Ane dengan nada ketus sembari Ane menatap nyalang ke arah Diran.


Diran yang tadi menatap ke arah bungkus plastik yang ada di tangannya, kini langsung menatap ke arah sumber suara yaitu Ane.


"Papa juga mau ganti pakaian, kan tadi mama yang menyuruh papa ganti pakaian makanya" perkataan Diran belum selesai sudah di potong oleh Ane.


Ane tersulut emosi mendengar jawaban dari Diran, sungguh Ane tak menyangka kalau Diran akan menjawab hal seperti itu kepada Ane.


"Kalau papa mau ganti pakaian, sebaiknya ganti pakaian di kamar mandi saja jangan di sini, oh ceritanya papa ngga terima kalau mama menyuruh papa ganti pakaian dengan pakaian yang mama belikan, harusnya papa bahagia dan bersyukur karena mama perhatian sama papa yang wajahnya jelek" bentak Ane dengan suara sangat lantang dan sangat keras.


Suara Ane sangat memekakan telinga Diran, bahkan hampir saja gendang telinga Diran rusak akibat suara Ane yang sangat berisik dan keras.



Diran menelan ludahnya secara kasar, bingung cara menjelaskan salah paham kepada Ane, namun Diran akan mencoba untuk tetap menjelaskan.


"Papa mau ganti pakaian di sini, sebaiknya kita berdua ganti pakaian bareng saja biar lebih hemat waktu, papa cinta sama mama jadi apapun keinginan mama pasti papa lakukan, termasuk papa juga terima saat mama menyuruh papa memakai pakaian yang mama belikan buat papa, sekarang papa juga bahagia dan bersyukur karena mama perhatian ke papa, walaupun wajah papa jelek tapi mama cinta ke papa buktinya mama perhatian ke papa" jelas Diran panjang kali lebar melebihi panjangnya rel kereta api.


Ane langsung melototkan kedua matanya ke arah Diran, Ane emosi mendengar ocehan Diran.

__ADS_1


"Papa jangan fitnah karena mama sama sekali ngga cinta ke papa, jadi jangan besar kepala mending besar perusahaan saja" lagi dan lagi Ane membentak Diran.


Ane hanya bisa mencerna kalimat terakhir dari Diran, padahal tadi kalimat Diran itu panjang kali lebar kali luas, kalau pidato mungkin orang yang mendengar akan tidur karena kelamaan mendengar ceramah Diran.



Diran tersenyum miring mendengar jawaban dari Ane, sementara Ane mendelik ke arah Diran.


"Papa ngga fitnah sama sekali, papa bicara fakta dan tidak hoax, buktinya setelah papa menikah sama mama sekarang mama sudah punya dua anak, artinya mama sudah cinta ke papa dan anak anak mama itu tanda bukti cinta kita berdua" jelas Diran tanpa dosa sama sekali, bahkan Diran sekarang sedang tersenyum lebar.


Ane membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut yang menganga, sungguh Ane tak menyangka kalau Diran bisa membahas anak anak Ane tanda bahwa Ane cinta kepada Diran.


"Papa itu aneh gimana mama ngga hamil kalau setiap hari setelah menikah papa kerja lembur bikin anak sama mama, lebih tepatnya papa memperkosa mama, walaupun mama menolak berhubungan intim tapi papa memaksa melakukan hubungan intim, wajar kalau mama hamil dan punya anak, itu artinya mama ngga mandul dan sehat wal afiat" bentak Ane dengan suara yang sangat memekakan telinga.


Mendengar suara Ane yang sangat menggelegar membuat Diran menghapus senyum lebar di wajahnya, kini Diran menggaruk garuk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.




Suara itu berasal dan bersumber dari Ane sang istri, sehingga Diran menelan kembali kata kata yang akan di ucapkan tadi.


"Mama mau ganti pakaian jadi papa pergi dari kamar, soalnya mama ngga mau ganti pakaian bareng papa, enak papa dong menikmati tubuh bahenol mama" ketus Ane menatap nyalang ke Diran.


"Papa juga mau ganti pakaian juga mama, kenapa mama ngga mau ganti pakaian bareng, padahal mama sama papa sudah sering telanjang bulat satu sama lain, mama juga boleh menikmati tubuh seksi papa ngga papa larang lho" sahut Diran sembari menaik turunkan alisnya menggoda Ane.


Namun bukannya Ane tergoda dengan Diran, namun yang ada Ane malah semakin murka kepada Diran.


"Papa sebaiknya ganti pakaian di kamar lain, kalau papa sama mama ganti pakaian bareng yang ada papa bakal memperkosa mama, sehingga acaranya bukan cuma ganti pakaian doang, tubuhnya papa biasa saja ngga seksi sama sekali" teriak Ane dengan sangat lantang.

__ADS_1


Jantungnya Diran hampir copot mendengar suara Ane, sementara Ane melototkan kedua matanya ke arah Diran.



Diran kaget dan syok mendengar ocehan Ane, Diran di tuduh memperkosa Ane, tapi bukankah kalaupun Diran memperkosa Ane tidak dosa dan sah sah saja karena mereka berdua sudah terikat tali pernikahan.



Kini pikiran Diran sibuk dan berkelana ke perkataan Ane tentang pemerkosaan, dalam hatinya Diran apa salahnya kalau Diran memperkosa Ane karena Diran suami Ane.



Saat Diran sibuk dengan kemelut pemikirannya sendiri, terdengar suara yang menggelegar di telinga sangat familiar.


"Papa kenapa masih diam, jangan jangan papa berniat untuk memperkosa mama lagi, buruan pergi dari kamar karena mama mau ganti pakaian" teriak Ane dengan sangat keras.


Teriakan Ane mampu menghapus semua lamunan Diran, kini Diran langsung membuang dan menghapus lamunannya tadi.


"Papa sedang berpikir makanya papa diam, sebenarnya papa ngga pernah memperkosa mama ka---" perkataan Diran belum selesai sudah di potong oleh Ane.


"Mama tahu pasti papa sedang berpikir tentang hal hal mesum, papa ngga usah memgelak karena sudah ada buktinya kalau papa memperkosa mama, buktinya mama punya anak, dasar papa tukang maksa" sahut Ane dengan nada sinis.


Diran membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut yang menganga.


"Papa bukan memikirkan hal mesum tapi papa sedang memikirkan pemerkosaan yang mama bicarakan ta___" lagi dan lagi perkataan Diran belum selesai sudah di potong oleh Ane.


"Kenyataannya papa itu memperkosa mama, buruan papa keluar dari kamar ini, atau papa ngga bakal dapat jatah selama sebulan" ancam Ane dengan nada ketus.


Tanpa pengulangan lagi kini Diran langsung melangkahkan kedua kakinya ke arah pintu kamarnya.

__ADS_1


Setelah Diran melangkah selama beberapa menit, kini Diran sudah sampai di samping pintu lalu dia membuka pintu kamarnya, menurut Diran itu keputusan terbaik di banding tak mendapat jatah dari Ane.


__ADS_2