
Diran menatap nyalang ke arah Dewo, Diran juga tahu alasan kenapa Dewo memaksa Ane untuk tidak menunda pergi ke poli THT.
Sebenarnya bukan itu saja alasan Diran menatap nyalang ke Dewo, Diran itu emosi gara gara Diran sejak tadi menangkap Dewo yang menggoyang goyangkan lengan Ane.
Ane masih nampak berpikir jalan mana yang harus di ambil, lebih tepatnya keputusan yang mana yang harus di ambil.
Dewo masih menggoyangkan lengan Ane, Dewo berpikir lebih baik jadi pergi ke poli THT di banding harus bertemu dengan sahabat sahabat Ane dan Diran.
Dalam hatinya Dewo berpikir lebih baik Dewo berakting dan drama berpura pura budeg dan tuli di depan dokter yang akan menangani Dewo nanti.
Dewo lebih baik ke poli THT di banding Dewo harus bertemu dengan para sahabat sahabat Ane dan Diran, karena Dewo sudah tahu pasti Dewo ujung ujungnya akan di jodohkan dengan anak dari sahabatnya Ane dan anak dari sahabatnya Diran.
"Dewo benar papa kamu, lebih baik kita berdua undur saja ke poli THT nya, lebih baik kita berdua sekarang siap siap buat ketemu sama sahabat mama dan sahabat papa saja" jelas Ane sambil menyunggingkan senyum sangat manis di bibirnya.
Dewo membelalakkan kedua matanya sangat lebar mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya Ane, sungguh Dewo sangat mengharapkan kalau Ane tak jadi mengurungkan ke poli THT, supaya Dewo tidak bertemu dengan para sahabat dari Ane dan Diran.
__ADS_1
Diran langsung mengeluarkan senyum lebar di wajahnya, sungguh Diran merasa bahagia dan puas mendengar jawaban yang di keluarkan oleh Ane.
"Ma ma mama lebih baik kita berdua pergi ke poli THT sekarang saja, soalnya aku takut kalau kita berdua tidak secepat-cepatnya pergi ke poli THT, nanti penyakit budeg dan tuli aku akan semakin parah" jelas Dewo dengan nada terbata bata.
Dewo merutuki mulutnya karena berbicara terbata bata, namun Dewo bangga dengan otak yang di miliki, karena otaknya Dewo bisa mencari alasan yang tepat dan masuk akal.
Ane buru buru langsung menatap ke arah Dewo, sementara Diran tersenyum masam setelah mendengar ocehan Dewo.
"Dewo walaupun kamu ngga pergi ke poli THT sekarang, papa yakin penyakit budeg dan tuli kamu tidak akan bertambah parah, apalagi kamu sekarang pendengarannya sudah membaik, buktinya kamu nyambung menjawab semua omongan papa dan mama, ini acara sangat penting, karena mama sama papa ingin bertemu dengan sahabat mama dan sahabat papa, jadi kamu jangan merusak moment ini" sahut Diran tentunya dengan senyum lebar yang masih mengembang di wajahnya.
Dewo mendelik ke arah Diran, Dewo tahu kalau Diran memang sengaja menyuruh Ane mengurungkan niatnya ke poli THT, gara gara Diran ingin menjodohkan Dewo dengan anak sahabat Diran dan anak sahabat Ane.
"Dewo sepertinya apa yang di katakan papa kamu ada benarnya juga, lebih baik kita berdua pergi ke poli THT besok saja, mama juga bisa merasakan kalau telinga kamu memang sudah membaik, mama mengobrol apapun juga kamu bisa menjawab dengan obrolan yang mama bicarakan" jelas Ane sambil menatap intens ke arah Dewo.
Dewo hanya tersenyum kecut mendengar jawaban yang terucap dari mulut Ane, Dewo kini pasrah kalau dia dan Ane tak jadi ke poli THT.
Namun jangan harap Dewo tidak mengadakan negoisasi dengan Ane dan Diran, karena kini Dewo sedang memaksa otaknya supaya mencari alasan yang tepat supaya Dewo tak ikut bersama Ane dan Diran untuk bertemu dengan sahabat Ane dan Diran.
__ADS_1
Setelah beberapa detik berpikir, kini Dewo sudah menemukan alasan yang tepat supaya tidak ikut bersama dengan Ane dan Diran.
"Alhamdulillah mama papa telinga aku sudah bisa mendengar dengan baik sekarang, tapi karena baru sembuh lebih baik aku istirahat di rumah saja, aku ngga ikut bertemu dengan sahabat mama dan sahabat papa" Dewo memberikan alasan yang menurut Dewo logis.
Ane dan Diran kompak menatap ke arah Dewo, tentunya dengan tatapan tajam mereka berdua yang di layangkan ke Dewo.
"Dewo karena telinganya kamu sudah membaik, kamu harus ikut dengan mama dan papa untuk ketemu sahabat mama dan sahabat papa serta anak sahabat mama dan anak sahabat papa, kamu itu cuma tuli dan budeg bukan demam, jadi walaupun kamu baru sembuh kamu tetap bisa pergi bersama mama dan papa ke restoran" teriak Ane dengan kedua matanya yang menatap tajam ke arah Dewo.
Diran juga melakukan hal yang sama persis dengan Ane, sementara Dewo memutar bola matanya malas lalu berkata.
"Tapi aku pengin istirahat tidur di rumah, apalagi aku dari kemaren lembur terus dan kurang istirahat jadi aku mohon sama mama dan papa jangan paksa aku buat ikut bertemu dengan sahabat mama dan sahabat papa" jawab Dewo memang tak sepenuhnya berbohong.
Memang beberapa hari ke belakang Dewo sering di sibukkan dengan banyak dokumen, itu menyebabkan Dewo lembur dan kurang beristirahat.
"Dewo kamu jangan banyak alasan, pokoknya kamu harus ikut bertemu dengan sahabat mama dan papa, kalau kamu tidak mau ikut dengan mama dan papa untuk bertemu sahabat mama dan papa di restoran, kamu ngga akan dapat harta warisan dari papa" ancam Diran sambil menaikkan ratusan milyar oktaf.
Kedua matanya Dewo terbuka lebar mendengar ancaman yang di keluarkan oleh Diran, sungguh Dewo tak menyangka kalau Dewo mempunyai papa dan mama yang hobi dan jago mengancam ke Dewo.
"Aku ngga banyak alasan papa, aku emang niat istirahat karena kecapekan, papa sama mama hobi banget maksa aku dengan mengunakan ancaman buat aku, pantas kalian berdua bisa menikah karena mempunyai pemikiran yang sama yaitu main mengancam doang" cibir Dewo sambil menatap ke arah Diran dengan tatapan mengejek.
"Dewo mama tahu kamu banyak uang bukan banyak alasan, kamu istirahatnya setelah ketemu sama sahabat mama dan sahabat papa saja nanti, kita berdua bukan hobi mengancam tapi kamu yang bandel ngga menurut apa kata mama dan papa, makanya mama dan papa gunakan ancaman buat kamu, karena dengan cara itu pasti kamu akan menuruti semua perintah mama dan papa" bentak Ane dengan suara sangat keras dan sangat lantang.
__ADS_1
Teriakan Ane membuat Dewo dan Diran kompak terlonjak kaget, bahkan bergeser dari tempat mereka berdua berdiri.
"Sebaiknya kita berdua siap siap sekarang saja biar ngga terlambat" ajak Diran supaya Ane tak mengeluarkan suara teriakan lagi.