Terpaksa Menikah Karena Perjodohan

Terpaksa Menikah Karena Perjodohan
Untuk Memeriksakan Telinga Kamu


__ADS_3

Ane tetap melenggang pergi menjauh dari Dewo, sedangkan Dewo hanya bisa menatap ke arah punggung Ane yang perlahan menjauh, sungguh Dewo ingin sekali berlari mengejar Ane, bukan hanya mengejar tapi Dewo ingin sekali menyeret paksa tangannya Ane untuk pergi dari supermarket ini.



Namun Dewo mengurungkan semua niatnya, karena berbagai hal yang menyelimuti dan mengelilingi otaknya, pertama kalau Dewo berlari mengejar Ane takut Dewo di tuduh tebar pesona oleh semua pengunjung supermarket, dan yang lebih parah lagi Dewo bakalan di cap sebagai orang yang masa kecilnya kurang bahagia sampai berlari larian di supermarket.



Kedua kalau Dewo berlari mengejar Ane dan menyeret paksa tangannya Ane, Dewo takut Ane akan berteriak sekencang kencangnya da sekeras kerasnya, itu akan menimbulkan gaduh dan fitnah orang orang yang ada di supermarket, pasti banyak yang mengira Dewo akan memperkosa Ane sampai Ane berteriak dengan sangat keras dan sangat kencang.


"Mama gue sejak kapan terserang penyakit tuli dan budeg, pasti gara gara mama gue menuduh gue budeg dan tuli jadi mama gue yang budeg dan tuli kayak sekarang, padahal gue sudah berteriak sekencang kencangnya tapi mama gue ngga dengar teriakan gue, gue harus gimana dong ini supaya bisa cepat pulang dari supermarket" kata Dewo sambil mengusap wajahnya secara kasar dengan kedua tangannya, sedangkan Ane yang mendengar umpatan Dewo yang mengatakan Ane budeg dan tuli lagi dan lagi menghentikan langkahnya.


Ane bukan hanya menghentikan langkahnya saja, namun Ane juga berbalik badan sehingga kini menghadap Dewo, lalu Ane berjalan dengan sangat cepat ke arah Dewo, namun entah mengapa walau Ane sudah melangkahkan kakinya dengan cepat, namun Ane belum sampai juga di depan alias di hadapan Dewo.


__ADS_1


Karena Ane yang sudah sangat tersulut emosi dan geram dengan tuduhan Dewo, Ane tanpa ragu mengeluarkan suara yang di jamin membuat semua orang akan menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, saking kerasnya suara yang di keluarkan oleh Ane.


"Dewo mama itu ngga budeg dan tuli, jadi jangan sembarangan menuduh mama seperti itu, yang budeg dan tuli itu sebenarnya kamu bukan mama" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang, kini Ane tetap melangkah mendekat ke arah Dewo, sementara Dewo yang sedang di landa pusing ratusan juta keliling, mendengar teriakan yang sangat menggema dari Ane, bahkan hampir saja teriakan Ane merusak gendang telinga Dewo, membuat Dewo membuka kedua tangannya yang sejak tadi menutupi wajahnya.


Setelah Dewo membuka kedua tangannya dari wajahnya, kini Dewo melihat bahwa Ane sedang berjalan mendekat ke arahnya, harusnya Dewo bahagia karena Ane yang di tuju mendekat ke Dewo, namun entah mengapa Dewo malah kesal dan marah dengan Ane yang berjalan mendekat ke arah Dewo, karena Dewo malu Ane menuduh Dewo budeg dan tuli apalagi sambil berteriak seperti tadi, bisa di pastikan bahwa semua orang yang ada di supermarket pasti akan mendengar semua teriakan Ane.


"Mama ngga usah teriak teriak aku ngga budeg dan ngga tuli, jadi tanpa mama teriak aku pasti dengar semua omongan mama" ketus Dewo dengan menaikkan suaranya ratusan milyar oktaf sedangkan Ane tersenyum kecut mendengar ocehan Dewo.


Kini Ane sudah ada di hadapan Dewo, lalu Ane menatap nyalang ke arah Dewo, namun Dewo tak mau kalah dari Ane, karena Dewo kini menatap tajam ke arah Ane, sungguh Dewo malu dengan sikap Ane yang bar bar dan suka berteriak di tempat umum seperti di supermarket ini, Dewo sudah tidak bisa menghitung berapa kali Ane berteriak teriak.


Dewo baru menyadari bahwa Ane pasti akan di percaya oleh banyak orang, karena memang Dewo sudah berkali kali di ajak bicara oleh Ane namun Dewo tidak mendengar dan tidak menjawab omongan Ane, sehingga Dewo berpikir pasti banyak orang yang mengira dirinya budeg dan tuli.



Kini Dewo sedang memutar otaknya untuk berpikir supaya Dewo cepat pergi dari supermarket yang membuat malu dirinya gara gara ulah Ane, namun sepertinya Dewo tidak punya pilihan lain selain mengajak Ane pulang atau ke poli THT seperti keinginan Ane.

__ADS_1


"Mama sebaiknya kita berdua pulang sekarang, pasti kalau papa pulang mama belum pulang dia cariin mama, kasihan papa habis kecapekan bekerja terus langsung mencari mama gara gara ngga ada di rumah" bujuk Dewo dengan menggunakan jurus modusnya, sementara Ane dengan cepat menganggukkan kepalanya mantap itu membuat Dewo menerbitkan senyuman lebar di wajahnya.


Sungguh Dewo tak menyangka Ane akan mau di ajak pulang tanpa melakukan drama apapun, namun sedetik kemudian senyuman lebar yang terpancar di wajah Dewo luntur saat Ane berkata.


"Dewo sebaiknya kita berdua memang harus cepat pulang dari supermarket, tapi sebaiknya kita berdua langsung ke poli THT untuk memeriksakan telinga kamu yang budeg dan tuli, kalau papa mencari mama pasti papa bakalan telpon mama, nanti mama bilang ke papa keberadaan kita berdua supaya dia ngga repot repot mencari mama" jelas Ane dengan suara tegas dan tatapan mengarah ke Dewo, sedangkan Dewo membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut menganga lebar.


Dewo bingung apakah dirinya harus tetap berada di supermarket, atau Dewo ikut Ane ke poli THT untuk memeriksakan telinganya Dewo yang di tuduh Ane tuli dan budeg, padahal kenyataannya memang Dewo dari tadi melamun sehingga tak mendengar semua omongan Ane dan tak menjawab omongan Ane.


"Mama tapi sebenarnya aku ngga budeg dan ngga tuli jadi sebaiknya kita berdua langsung pulang saja ke rum" perkataan Dewo belum selesai tapi sudah di potong oleh Ane.


"Dewo pokoknya kita berdua ke poli THT atau kita berdua tetap berada di supermarket akan pulang malam saat supermarket akan tutup" ancaman Ane membuat Dewo menatap tajam ke arah Ane.


"Mama nainnya ngancam doang oke kita berdua ke poli THT walaupun aku ngga budeg dan ngga tuli" ketus Dewo sambil menatap nyalang ke Ane, sementara Ane langsung mengeluarkan senyum lebar mendengar jawaban Dewo.


"Ayo Dewo kita berdua berangkat ke poli THT sekarang" ajak Ane tanpa melunturkan senyum lebar di wajahnya lalu Ane berjalan ke arah parkiran, sedangkan Dewo mengikuti jejak kaki Ane walaupun rasanya kesal dengan Ane yang mengancam seperti tadi.

__ADS_1


__ADS_2