Terpaksa Menikah Karena Perjodohan

Terpaksa Menikah Karena Perjodohan
Memikirkan Wajah Mama Yang Cantik Jelita


__ADS_3

Ane sangat syok dan kaget mendengar jawaban dari Diran, sungguh Ane tak menyangka kalau yang membuka pintu adalah Diran sang suami.



Ane pikir tadi yang membuka pintu adalah sosok hantu, tapi kenyataannya terucap dari mulutnya Diran bahwa Diran yang membuka pintu kamar miliknya Ane.



Kini Ane menatap tajam ke arah Diran, sementara Diran menggaruk garuk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.



Sungguh Diran takut dengan tatapan tajam yang di layangkan oleh Ane kepadanya, sementara berbeda hal dengan apa yang di pikirkan Ane, karena Ane tak menyangka kalau yang membuka pintu adalah Diran.


"Papa jangan bohongi mama, karena mama tahu papa jawab kayak gitu supaya mama ngga takut lagi kan dengan sosok hantu yang membuka pintu kamar ?" selidik Ane sambil menatap nyalang ke arah Diran.


Diran buru buru menggeleng-gelengkan kepalanya, sungguh Diran memang sedang berkata jujur, bukan karena berbohong kepada Ane supaya Ane tak takut dengan sosok hantu yang membuka pintu, namun kenyataannya memang Diran yang membuka pintu bukan sosok hantu tersebut.


"Papa itu bicara fakta mama, bukan bicara gosip belaka, kenyataannya memang papa yang tadi membuka pintu kamar bukan sosok hantu" jelas Diran dengan sangat hati hati.


Ane masih merasa syok setelah lagi dan lagi Diran menjawab dengan jawaban yang tak Ane inginkan, kini Ane berpikir apakah di rumahnya tidak dapat hantu, kenapa malah tadi yang membuka pintu adalah Diran sang suami Ane, bukan sosok hantu.


"Menurut papa apakah di rumah ini ada sosok hantu ? kenapa sosok hantu tersebut belum pernah menampakkan diri di depan kita ?" cerca Ane bertubi tubi sambil memicingkan satu mata ke arah Diran.


Diran melongo mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutnya Ane, sungguh Diran tak menyangka kalau otaknya Ane itu cerdas dan cermat, kenapa Ane malah jadi lomba cerdas cermat, maksudnya Ane itu cerdas dan pintar.


 Diran membulatkan kedua matanya mendengar perkataan Ane, sungguh Diran tak menyangka kalau Ane sampai berpikir kalau di rumah ada hantu, padahal Diran tak merasakan apapun.


Setelah hampir kurang lebih lima menit Ane menunggu jawaban Diran, namun Ane sama sekali tak mendengar jawaban dari Diran, lebih tepatnya Diran tak menjawab perkataan Ane.



Diran kini sedang asyik dan sibuk dengan dunianya alias lamunannya, sungguh Diran bingung cara menjawab perkataan Ane.


__ADS_1


Ane menatap tajam ke arah Diran, sungguh Ane tersulut emosi gara gara kelakuan Diran, karena rasa emosi yang bertumpuk tumpuk seperti tumpukan kardus, membuat Ane mengeluarkan suara teriakannya.


"Papa kenapa diam saja ngga jawab perkataan mama, papa ngga tuli dan budeg kan ? cukup Dewo saja yang terserang penyakit tuli dan budeg jangan menular ke papa, mama malu kalau papa sama Dewo tuli dan budeg" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang.


Sungguh teriakan Ane hampir merusak dunia, sehingga dengan buru buru Diran membuyarkan semua lamunannya yang tadi hinggap di kepalanya.



Bahkan Diran dapat menangkap dan mendengar dengan jelas suara teriakan Ane, sungguh Dewo syok dengan teriakan Ane.



Sebenarnya Diran bukan syok gara gara suara Ane yang berteriak, namun Diran syok karena mendengar tuduhan yang di layangkan oleh Ane kepadanya, sungguh Diran tak menyangka kalau Ane akan menuduh Diran itu tuli dan budeg.


"Papa ngga tuli dan ngga budeg mama, tadi papa sedang memikirkan" perkataan Diran belum selesai sudah di potong oleh Ane.


"Pasti papa sedang memikirkan hantu yang tadi membuka pintu kamar" teriakan Ane semakin melengking setengah oktaf dari yang tadi.


Diran membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut yang menganga, sungguh Diran kaget dengan tuduhan yang di keluarkan oleh Ane.




Diran kini menatap ke arah Ane yang sedang menatap tajam ke arahnya, sehingga Diran menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, melihat tatapan tak bersahabat yang di layangkan istrinya kepada Diran membuat Diran salah tingkah.


"Papa sedang memikirkan wajahnya mama yang cantik jelita, papa ngga pernah memikirkan orang lain termasuk sosok hantu yang membuka pintu" jelas Diran sambil menaburkan senyum manis yang terlukis di wajahnya.


Ane bukannya bangga dan menampilkan wajah merah merona seperti kepiting rebus akibat di puji dan di sanjung oleh Diran, malah Ane di buat geram dengan kelakuan Diran sang suami yang menurut Ane berlebihan memuji Ane.



Ane menatap nyalang ke arah Diran, membuat bulu katak Diran, maksudnya membuat bulu kuduk Diran merinding gara gara kelakuan Ane.


__ADS_1


Diran sangat bingung dengan situasi tegang yang menimpa dirinya saat ini, sungguh Diran ingin keluar dari situasi yang tegang dan mencekam seperti ini.



Ane kesal dengan Diran yang terkesan sedang becanda, padahal Ane sedang dalam mode serius.


"Papa ngga usah gombal ke mama, karena gombalan dari papa ngga mempan buat mama, memang wajah mama sudah cantik sebelum lahir, terus kalau papa tadi ngga memikirkan orang lain atau hantu yang membuka pintu papa kenapa ngga jawab omongan mama, apa jangan jangan papa terkena penyakit tuli dan budeg ketularan Dewo" bentak Ane dengan sangat panjang kali lebar melebihi panjangnya rel kereta api.


Diran dengan cepat menggelengkan kepalanya mantap, Diran tak berani berkata jujur kepada Ane, bahwa penyebab Diran hanya diam saja dan tak menjawab perkataan Ane gara gara Dewo sedang melamun.



Diran takut nantinya akan membuat Ane semakin marah dan semakin murka kepada Diran, dan tentunya akan menjadi boomerang buat Diran bisa tidak mendapatkan jatah dari Ane.



Ane menatap nyalang ke arah Diran, seakan Ane sedang menelisik apa penyebab Diran diam saja tadi.



Diran yang di tatap seperti itu oleh Ane membuat Diran mengeluarkan keringat panas, maksudnya Diran mengeluarkan keringat dingin sedingin es batu.



Sungguh Diran bingung menjawab omongan Ane, sehingga bukannya menjawab Diran malah melanjutkan lamunannya tadi yang belum selesai.



Ane yang telah menunggu selama beberapa menit, tapi Ane tak kunjung mendapatkan jawaban dari Diran, itu membuat Ane di landa dan di selimuti emosi.


"Papa kenapa diam saja, apa jangan jangan papa benar benar terkena tuli dan budeg, papa jangan bikin malu mama, cukup Dewo saja yang bikin malu mama gara gara terkena penyakit tuli dan budeg" jelas Ane dengan suara sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya.


Diran lantas membuyarkan semua lamunannya yang tadi mengisi kepalanya.


"Papa ngga tuli dan budeg mama, papa cuma tadi kurang fokus saja makanya papa ngga jawab omongan mama, papa rasa Dewo ngga terkena penyakit tuli dan budeg" sahut Diran menatap ke arah Ane, sementara Ane melototkan kedua matanya ke arah Diran.

__ADS_1


__ADS_2