
Dewo yang dengan jelas mendengar suara teriakan Ane, membuat Dewo menoleh ke arah Ane, sungguh Dewo syok dan kaget saat mengetahui kalau yang menjambak rambutnya itu adalah Ane.
Dewo pikir yang menjambak rambutnya itu adalah sang papa alias suaminya Ane, karena kesal dan geram istrinya di hina membuat papanya Dewo menjambak rambutnya Dewo, namun dugaan dari Dewo salah besar.
Karena ternyata yang menjambak rambutnya Dewo itu adalah Ane. Namun yang di pikirkan Dewo saat ini adalah bagaimana caranya membebaskan rambutnya dari jerat tangan Ane.
Sungguh rambutnya Dewo kini merasa pedas akibat jambakan Ane, kini Dewo buru buru memutar otaknya supaya Ane tidak menjambak rambutnya lagi.
"Mama jangan jambak rambutnya aku dong, lepaskan rambut aku mama" pinta Dewo dengan nada yang terdengar memohon, sementara Ane yang mendengar suara Dewo hanya tersenyum kecut lalu berkata.
"Dewo asal kamu tahu mama tidak akan melepaskan rambut kamu, bahkan walau kamu menangis darah juga mama tidak akan melepaskan jambakan mama di rambut kamu" ketus Ane sambil mendelik ke arah Dewo, sedangkan Dewo yang melihat tatapan membunuh dari Ane untuk dirinya, membuat Dewo menelan salivanya berkali kali.
Sungguh Dewo sangat ketakutan mendapatkan ancaman seperti itu dari Ane, membuat Dewo sangat di landa dan di selimuti ketakutan luar biasa.
Dewo kini memaksa otaknya untuk membantu mencari jalan keluar supaya Dewo bisa bebas dari jambakan tangannya Ane.
Setelah Dewo berpikir selama beberapa menit, kini Dewo telah menemukan ide briliant yang tiba tiba muncul di otaknya, sehingga membuat Dewo menerbitkan senyuman lebar di wajahnya.
__ADS_1
Ane yang melihat Dewo sedang tersenyum lebar, membuat Ane bingung dan heran dengan tingkah Dewo, dalam hatinya Ane sempat berpikir apakah Dewo tidak mendadak gila sampai tersenyum lebar seperti itu.
"Dewo ngapain tersenyum lebar kayak gitu, padahal aku sedang menjambak rambutnya Dewo, jangan jangan Dewo mendadak gila sehingga tersenyum lebar seperti itu, atau malah jangan jangan Dewo tak merasakan sakit karena jambakan di rambutnya Dewo kurang keras, sebaiknya aku tambah volume jambakan di rambutnya Dewo" batin Ane sembari menatap ke arah Dewo dengan tangan yang semakin keras menjambak rambutnya Dewo.
Dewo yang merasa rambutnya pedas sekali dan sakit sekali, akibat jambakan yang di berikan Ane di tambah menjadi sangat keras dan sangat kencang, sehingga Dewo mengeluarkan suara teriakan yang sangat keras akibat jambakan dari Ane.
"Aaaaaaaahhhhhhh" teriak Dewo dengan sangat keras dan sangat kencang, sementara Ane yang fokus menjambak rambutnya Dewo, langsung melepaskan jambakan tersebut setelah mendengar suara teriakan Dewo.
Bukan hanya itu saja bahkan Ane juga sampai bergeser dari tempat dirinya berdiri, sungguh Ane di buat kaget dengan teriakan Dewo, bahkan tangannya Ane kini ada di depan dadanya Ane.
Setelah Ane beberapa detik diam, akibat serangan yang di lakukan Dewo, kini Ane menatap nyalang ke arah Dewo, sungguh Ane kesal plus emosi plus marah plus kopi, kenapa jadi plus kopi, maksudnya Ane kesal plus emosi plus marah terhadap kelakuan Dewo.
Dewo belum menyadari tatapan yang membunuh yang di keluarkan Ane, karena Dewo kini sedang sibuk memegang rambutnya yang habis mendapat serangan jambakan mendadak dari Ane.
"Dewo kenapa kamu berteriak kayak gitu, mama ngga budeg dan ngga tuli, jadi ngga usah berteriak kayak gitu, bikin emosi dan bikin kaget saja" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang.
Dewo yang sibuk dengan dunianya sendiri, alias Dewo sedang melamun, mendadak Dewo membuyarkan dan membubarkan semua lamunannya.
Bukan hanya itu saja tapi Dewo juga sempat bergeser dari tempat dirinya berdiri, itu gerakan refleks karena kaget mendengar suara teriakan Ane.
__ADS_1
Kini Dewo menatap ke arah sumber suara, betapa kagetnya Dewo yang sedang di tatap oleh Ane dengan tatapan nyalang, kini Dewo menggaruk garuk belakang kepalanya yang tidak gatal, tujuannya untuk meredakan emosi kepada Ane.
Ane mendelik ke arah Dewo, sungguh Dewo tak tahu malu, itu yang ada di otaknya Ane, sedangkan yang ada di otaknya Dewo berharap supaya Ane cepat pergi dari kamarnya.
Dewo sedang mencari akal supaya bisa bebas tidur di kamar tanpa gangguan, namun sepertinya Dewo belum menemukan cara mengusir Ane dari kamarnya.
Dewo sudah berkali kali mencari akal namun Dewo belum memiliki ide sama sekali.
Ane melototkan kedua matanya ke arah Dewo, sungguh dirinya sangat emosi dengan Dewo, karena membuat dirinya kaget, bukan hanya itu saja namun Dewo juga tak menuruti keinginan Ane yaitu membereskan semua pakaian dan semua celana miliknya Dewo yang ada di lantai.
"Dewo kenapa kamu diam saja buruan kamu bereskan semua pakaian dan semua celana kamu yang ada di lantai" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang, sementara Dewo buru buru membubarkan semua lamunannya.
Kini Dewo hendak melangkahkan kedua kakinya mendekat ke arah pakaian miliknya yang ada di lantai, namun tiba tiba Dewo mendengar suara yang sangat familiar, dan tak asing di telinganya.
Suara siapa lagi kalau bukan suara Ane, membuat Dewo mengurungkan niatnya untuk melangkah ke tempat yang Dewo tuju.
"Mama tahu kamu diam saja pasti karena kamu ingin di tolong oleh Aladin, sadar Dewo kamu itu ngga punya botol ajaib jadi ngga bakalan bisa meminta tolong kepada Aladin, atau kamu ingin di tolong oleh Doraemon, ingat Dewo kamu itu bukan Nobita temannya Doraemon, oh jangan jangan malah kamu ingin meminta bantuan Dora, ingat Dewo kamu ngga kenal sama sekali dengan Dora, bahkan yang lebih parah lagi jangan jangan kamu mengharapakan bantuan ibu peri, ingat Dewo orang yang melahirkan kamu itu mama, bukan ibu peri, jadi mama yakin ibu peri juga ngga akan membantu kamu" teriak Ane dengan panjang kali lebar kali luas melebihi panjangnya rel kereta api, sementara Dewo membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut menganga.
Sungguh Dewo tak menyangka dirinya di tuduh berbagai macam oleh Ane, sementara Ane tersenyum mengejek ke arah Dewo, Ane sangat yakin tebakan yang di keluarkan oleh dirinya itu benar.
__ADS_1
Dewo yang tak mampu lagi menahan emosi yang memuncak di dadanya, membuat Dewo memberanikan diri untuk menjawab semua ocehan Ane.
"Mama jangan menuduh aku macam macam, alasan aku belum menuruti semua perintah mama adalah karena mama ceramah terus gimana aku mau melakukan semua perintah mama, jadi bukan gara gara yang mama tuduhkan tadi" ketus Dewo tanpa menoleh ke arah Ane, sementara kedua matanya Ane terbelalak lebar dengan mulut yang menganga.