Terpaksa Menikah Karena Perjodohan

Terpaksa Menikah Karena Perjodohan
Lantai Dapur Jadi Basah Kuyup


__ADS_3

Ane berjalan dengan sangat cepat ke arah dapur, bukan karena Ane ingin cepat menemui Dewo, namun Ane ingin cepat bilang lebih tepatnya, Ane ingin cepat menyuruh Dewo mengepel lantai dapur, sehingga Ane bisa secepatnya berdandan memakai make up di wajahnya.



Setelah Ane berjalan selama beberapa puluh tahun, kelamaan dong maksudnya setelah Ane berjalan selama beberapa puluh menit, kini Ane telah sampai di dapur, kedua matanya Ane langsung terbelalak lebar dengan mulut menganga menyaksikan adegan yang ada di depannya.


Sungguh Ane syok dan kaget karena Ane melihat lantai dapur sangat banjir karena genangan air, dan Ane juga melihat dengan mata kepalanya sendiri Dewo sedang mengepel lantai, dalam otaknya Ane itu berpikir kenapa lantai dapur bisa banjir.


"Dewo kamu apakan lantai dapur kenapa lantai dapur jadi basah kuyup lebih tepatnya lantai dapur jadi banjir kayak gini" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang melebihi toa, sementara Dewo yang sedang sangat sibuk mengepel lantai, langsung terlonjak kaget bahkan Dewo sampai bergeser dari tempat dirinya berdiri.


Kini Dewo kepalanya di penuhi tanduk yang sangat panjang, sungguh Dewo kesal dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Ane, dalam hatinya Dewo bukankah Ane punya mata buat melihat, jadi Ane pasti tahu jawabannya kalau Dewo itu sedang mengepel lantai, kenapa Ane masih bertanya kepada Dewo.

__ADS_1


"Mama kan punya mata jadi mama tahu kalau aku lagi mengepel lantai, kalau mengepel lantai pasti lantai basah kuyup dan banjir, kecuali kalau cuma di sapu doang pasti lantai tidak akan basah kuyup dan banjir, aku sudah besar jadi tahu anak kecil saja juga tahu kalau lantai di pel akan basah kuyup dan banjir" ketus Dewo panjang kali lebar melebihi panjangnya rel kereta api sambil menatap tajam ke arah Ane, sedangkan Ane juga ikutan membalas menatap nyalang ke arah Dewo.


Dewo berpikir kalau lantai di pel akan basah kuyup dan banjir, tapi kenapa malah Ane masih menanyakan hal itu, sedangkan Ane sangat kesal dengan jawaban Dewo, Ane juga tahu akan hal itu tapi maksudnya pertanyaan Ane tadi kenapa lantai dapur seperti tidak di pel pada umumnya, karena lantai lebih basah dan terdapat genangan air seperti banjir.


Karena kesal Ane mulai melangkah berjalan cepat ke arah Dewo, setelah beberapa langkah kini Ane sudah ada di sebelah Dewo, kedua matanya Ane membola saat melihat ember yang ada di sebelah Dewo kosong tak ada air yang tersisa di sana walau satu tetespun.


"Dewo air di dalam ember kemana, oh jangan bilang kamu cuma bawa ember kosong tanpa air, harusnya kamu bawa embernya itu yang berisi air, bukan ember kosong Dewo" tuduh Ane sambil menatap nyalang ke arah Dewo dengan nada berteriak, sedangkan Dewo membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut menganga.


Sungguh Ane heran kenapa Dewo malah menumpahkan seluruh air di ember ke lantai, dalam pikiran Ane apakah Dewo tidak tahu caranya mengepel lantai, bukankah kadang Dewo juga melihat Ane mengepel lantai, kenapa bisa tidak tahu cara mengepel lantai, itu yang ada di otaknya Ane.


"Dewo kenapa kamu malah menumpahkan semua air yang ada di ember ke lantai, harusnya kamu itu letakkan kain pel ke ember yang berisi air, lalu kamu memeras kain pel tersebut, setelah itu kain pel itu kamu gunakan buat mengepel lantai, itu cara mengepel lantai yang benar, memangnya kamu belum tahu cara mengepel lantai" bentak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang sampai hampir merusak gendang telinga Dewo, sementara kedua matanya Dewo langsung membola mendengar perkataan Ane.

__ADS_1


"Mama kenapa baru jelaskan cara mengepel lantai sekarang, harusnya mama jelaskan cara mengepel lantai itu sebelum aku menumpahkan air yang ada di dalam ember" sahut Dewo sambil meletakkan kain pel yang ada di tangannya ke ember yang kosong, sedangkan Ane memicingkan matanya lalu berkata.


"Dewo kamu benar benar tidak tahu cara mengepel lantai ? ngapain kamu meletakkan kain pel ke ember jangan bilang kamu menyuruh mama buat meneruskan mengepel lantai, mama ngga mau mengepel lantai, jadi sekarang kamu lanjutkan mengepel lantai" perintah Ane dengan tegas sambil menatap nyalang ke arah Dewo sekilas, lalu tanpa menunggu jawaban dari Dewo kini Ane langsung melenggang pergi berjalan menuju ke kamarnya, sementara Dewo hanya tersenyum masam mendengar perintah dari Ane, lebih tepatnya Dewo tersenyum masam mendengar paksaan dari Ane.


"Memang kenyataannya gue belum tahu cara mengepel lantai, lagian dari dulu yang mengepel lantai kan mama gue, dan mama gue ngga pernah mengajari gue mengepel lantai, kenapa jadi malah gue yang meneruskan mengepel lantai, padahal tadi mama gue yang menyuruh gue mengambil kain pel dan ember yang berisi air, gue kira yang mengepel lantai adalah mama gue, kenapa jadi malah gue yang mengepel lantai" gumam Dewo dengan sangat lirih sambil menatap ke arah lantai yang tergenang air.


Entah karena suara Dewo yang keras atau telinganya Ane yang sangat tajam melebihi tajamnya cangkul, Ane mendengar Dewo bergumam seperti itu, sehingga Ane yang sedang berjalan langsung buru buru menghentikan langkahnya.


Bukan hanya itu saja bahkan Ane membalikkan tubuhnya lalu menatap nyalang ke arah Dewo, Dewo yang sedang sibuk dan asyik memperhatikan lantai yang banjir, tak memperhatikan kalau Dewo sedang di tatap oleh Ane dengan tatapan yang sangat menusuk.


"Dewo buruan kamu pel lantai dapur, jangan malah kamu curhat ke kain pel, karena nanti kamu di tuduh orang gila gara gara kain pel ngga menjawab omongan kamu, atau kalau kamu ngga mau mengepel lantai jas yang mama beli buat kamu akan mama berikan ke papa kamu" ancam Ane dengan nada berteriak sekencang kencangnya tak lupa dengan tatapan nyalang yang di keluarkan oleh Ane kepada Dewo, sedangkan Dewo yang mendengar suara teriakan yang sangat menggangu telinganya langsung memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Mama ini juga aku mau mengepel lantai dapur, aku ngga curhat ke kain pel tapi aku sedang menumpahkan apa yang aku rasakan, aku juga tahu kalau kain pel tak akan menjawab omongan aku, mama dari tadi main ancam melulu" ketus Dewo tanpa di perintah dua kali Dewo langsung mengambil kain pel di ember lalu mulai mengepel lantai, sedangkan Ane menerbitkan senyuman lebar di wajahnya, lalu Ane berjalan ke arah kamarnya.


__ADS_2