
Ane merasa bahagia karena Dewo mau menuruti keinginannya, sehingga Ane tak bosan bosannya dan tak henti hentinya menerbitkan senyum lebar di wajahnya, sedangkan Dewo tetap menjalankan kedua kakinya menuju ke kamar mandi.
Setelah Dewo berjalan selama beberapa puluh jam, kelamaan dong maksudnya setelah Dewo berjalan selama beberapa puluh menit kini Dewo telah sampai di depan pintu kamar mandi, tanpa komando Dewo langsung membuka pintu kamar mandi.
Setelah pintu kamar mandi terbuka, kini Dewo berjalan melangkah menuju ke ember untuk menampung air seperti yang di inginkan Ane.
"Mama ngapain pakai menyuruh gue buat mengambilkan air buat mama gue, lagian salah mama gue kenapa mama gue ada di dekat gue, bukan hanya itu doang tapi mama gue mengagetkan gue dengan cara berteriak di sebelah gue, jadi wajar dong kalau gue menyemburkan minuman yang ada di mulutnya gue ke mama gue, kalau mama gue ngga mengagetkan gue juga pasti gue ngga akan menyembutkan minuman ke wajahnya mama gue" batin Dewo sambil tetap melangkah menuju ke sebuah ember yang tergeletak di kamar mandi.
Dewo kini sudah berada di depan ember yang masih kosong, kini Dewo langsung mengambil ember tersebut, lalu Dewo membawa ember tersebut ke shower, setelah Dewo melangkah selama beberapa menit kini sudah sampai di bawah shower, lalu Dewo menghidupkan shower setelah meletakkan ember di lantai, kini Dewo melipat kedua tangannya di depan dadanya, sambil kedua matanya Dewo menatap ke arah shower yang sedang mengguyur ember yang ada di depannya.
__ADS_1
Setelah beberapa puluh menit akhirnya ember yang di isi air terisi penuh, dengan gerakan cepat Dewo langsung mematikan shower, setelah itu Dewo membawa ember yang berisi air penuh ke ruang dapur, tempat dimana Ane berada saat Dewo akan pergi ke kamar mandi.
"Lebih baik gue bawakan air seember penuh, supaya gue ngga bolak balik di suruh mama gue, karena takutnya mama gue mau cuci muka dengan air porsi yang banyak, jadi dari pada mama gue menyuruh gue ambilkan air lagi mending gue membawa air dalam porsi banyak, soalnya gue yakin kalau mama gue kurang air pasti bakalan meminta ke gue, dan menyuruh gue mengambilkan air lagi, gue ngga yakin kalau mama gue mau mengambil air sendiri" batin Dewo sambil melangkahkan kakinya dengan tangan yang membawa ember berisi penuh dengan air.
Setelah Dewo melangkah selama beberapa menit, kini Dewo telah sampai di depan pintu kamar mandi, Dewo langsung melangkah keluar dari kamar mandi tanpa membuka pintu, karena memang saat Dewo masuk ke kamar mandi pintunya sengaja tidak Dewo tutup supaya Dewo tidak kerepotan dalam membukanya.
Tanpa menutup pintu kini Dewo melangkah berjalan mendekat ke arah Ane, sedangkan Ane yang melihat Dewo berjalan mendekat ke arahnya, tak mampu menyembunyikan senyuman lebar yang terpancar di wajahnya, sehingga kini Ane tersenyum dengan sangat lebar sambil menatap ke arah Dewo yang semakin mendekat ke arahnya.
"Mama airnya pasti ada di ember yang aku bawa pakai tangan, masa airnya ada di hidung itu namanya ingus" ketus Dewo sambil menatap tajam ke arah Ane setelah kini dirinya sudah tepat berdiri persis di depan Ane, sedangkan Ane langsung memudarkan dan melunturkan senyuman lebar yang terpancar di wajahnya.
Kini tatapan Ane juga tak kalah tajam dari tatapan Dewo ke Ane, karena kesal dan berat membawa ember yang berisi air, kini Dewo meletakkan ember tersebut ke lantai, tanpa mengalihkan tatapan tajam matanya Dewo ke Ane, sedangkan Ane melipat kedua tangannya di depan dada sambil membalas tatapan Dewo dengan tatapan tak kalah tajam.
__ADS_1
"Dewo katanya kamu airnya ada di ember yang ada di tangannya kamu, mana embernya perasaan tangannya kamu ngga bawa ember, pakai alasan embernya ada di tangannya kamu, buruan kamu ke kamar mandi lagi sana" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang setelah Ane melirik sekilas ke arah tangannya Dewo yang tak memegang apapun, sementara Dewo membulatkan kedua matanya setelah mendengar omongan Ane.
"Mama ngapain nyuruh aku ke kamar mandi ? aku tahu ini pasti alasan mama supaya aku ke kamar mandi, pakai alasan aku ngga bawa ember segala di tangannya aku sudah jelas jelas aku bawa ember di tang" perkataan Dewo belum selesai namun Dewo sengaja tak melanjutkan kata katanya, karena memang kenyataannya saat Dewo akan menunjukkan ember yang Dewo rasa ada di tangannya, Dewo malah baru menyadari bahwa ember tadi sudah di letakkan Dewo ke lantai.
Ane yang menyadari Dewo tak melanjutkan perkataannya hanya tersenyum mengejek, karena Ane tahu Dewo tak akan bisa melanjutkan perkataannya karena memang di tangannya Dewo tak ada ember, Ane melipat kedua tangannya di depan dada lalu Ane berkata.
"Dewo mana katanya kamu membawa embernya ada di tangannya kamu, buktinya tangannya kamu ngga bawa ember, kenapa kamu diam Dewo jangan bilang kamu tidak bisa melanjutkan kata kata kamu, karena kenyataannya kamu tidak membawa em" kini perkataan Ane yang terhenti setelah Dewo mengangkat ember dengan tangannya, tadi dengan gerakan cepat Dewo mengangkat ember tersebut.
Kini Dewo langsung menerbitkan senyuman lebar di wajahnya, karena Dewo merasa menang dan bisa membungkam Ane, tapi dugaan Dewo salah karena beberapa detik kemudian Ane langsung berteriak yang membuat telinganya Dewo hampir saja rusak gara gara mendengar suara teriakan Ane.
"Dewo kenapa kamu membawakan air sebanyak itu buat mama, tadi mama bilang nyuruh kamu mengambilkan air cuma buat cuci wajahnya mama bukan buat mandi, buruan kamu ke kamar mandi lagi, kamu buang air yang ada di ember, dan kamu membawa ke sini cukup ukuran satu gayung saja" teriak Ane sekencang kencangnya sambil kedua matanya Ane melotot ke arah Dewo, sementara Dewo membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut menganga.
"Dewo kenapa kamu diam saja buruan kamu ambilkan air buat mama ukuran satu gayung, jangan ukuran satu ember penuh" teriak Ane setelah Dewo masih diam mematung selama beberapa menit, setelah mendengar suara teriakan dari Ane, Dewo langsung membuyarkan dan membubarkan semua lamunannya.
__ADS_1
Tanpa menunggu Ane berteriak lagi kini Dewo melangkah sambil membawa air yang ada di ember, bukannya Dewo takut dengan Ane, hanya saja Dewo takut kalau telinga Dewo akan rusak karena mendengar suara teriakan Ane yang terus menerus.