Terpaksa Menikah Karena Perjodohan

Terpaksa Menikah Karena Perjodohan
Mata Rambut Maksudnya Mata Kaki


__ADS_3

Ane menatap ke arah Dewo sekilas, lalu Ane hendak berjalan meninggalkan Dewo seorang diri, namun Dewo bisa melihat gerak gerik Ane yang akan berjalan membuat Dewo panik, khawatir, dan cemas bercampur aduk jadi satu.



Bagaimana Dewo tidak cemas, tidak khawatir, dan tidak panik karena Dewo mendengar dengan jelas Ane tadi bergumam bahwa Ane akan mencari beberapa penjaga supermarket buat membopong tubuhnya Dewo ke mobil, memangnya Dewo tidak bisa jalan sampai Ane harus meminta bantuan para pegawai supermarket buat membopong tubuhnya Dewo.



Cuma gara gara Dewo di duga budeg dan tuli oleh Ane, karena Dewo tidak mendengar teriakan Ane yang sangat keras dan sangat kencang sampai Ane berniat menyuruh beberapa pegawai supermarket untuk membopong tubuhnya Dewo.


"Mama mau kemana ?" tanya Dewo dengan suara yang sengaja di keraskan sampai ratusan milyar oktaf, jujur Dewo geram dan emosi makanya tanpa ragu menaikkan suaranya sampai ratusan milyar oktaf, sedangkan Ane yang akan berjalan melenggang pergi namun mendengar suara teriakan dari Dewo tak bergeming dirinya tetap berjalan tanpa menoleh ke arah Dewo dan tak menjawab pertanyaan yang terlontar oleh Dewo.


Dalam pikiran Ane lebih baik dirinya melanjutkan misinya untuk mencari beberapa petugas supermarket untuk membopong tubuhnya Dewo ke dalam mobilnya Dewo, karena buat apa Ane menjawab pertanyaan Dewo karena Ane sudah bisa menebak walaupun Ane menjawab pertanyaan dari Dewo, pasti Dewo tidak mendengar karena Ane sudah menduga Dewo terserang penyakit tuli dan budeg akut.


"Lebih baik aku lanjutkan saja misi aku, yaitu mencari beberapa petugas supermarket untuk membopong Dewo ke dalam mobilnya Dewo, dari pada aku harus repot repot menjawab pertanyaan Dewo, aku yakin walaupun aku menjawab pertanyaan Dewo juga pasti Dewo ngga dengar omongan aku jadi cuma buang buang waktu dan cuma buang buang energi kalau aku menjawab pertanyaan dari Dewo" batin Ane sambil mengeluarkan senyum lebar di wajah cantiknya.

__ADS_1


Dewo melototkan kedua matanya ke arah punggung Ane yang masih dengan santainya tetap melangkah menjauh dari Dewo, tanpa berhenti walaupun satu detikpun.



Melihat tingkah Ane yang seperti itu membuat Dewo kesal, emosi, marah rasanya campur aduk, tapi walaupun Ane tidak menjawab pertanyaan dari Dewo, namun Dewo bisa menebak bahwa Ane akan mencari beberapa petugas supermarket untuk mengangkat tubuhnya ke dalam mobil Dewo.


"Aku heran sama mama aku, karena mama aku yang terserang penyakit tuli dan budeg, kenapa mama aku malah ngatain aku bahkan menuduh aku tuli dan budeg akut" kata Dewo sambil mengusap wajahnya secara kasar dengan kedua tangannya, sedangkan Ane yang mendengar omongan Dewo membicarakan dirinya lebih tepatnya Dewo menuduh Ane budeg dan tuli langsung menghentikan langkah kakinya, bahkan tanpa di komando Ane malah membalikkan badannya sehingga kini badannya menghadap ke arah Dewo.


Bukan hanya itu saja tapi Ane juga berjalan dengan cepat menuju ke arah Dewo, entah karena telinganya Ane yang sangat tajam sehingga mendengar omongan Dewo seperti itu atau Dewo yang berbicaranya agak keras hanya Ane yang tahu karena walaupun ada semut dan kecoa lewat juga tidak tahu kenapa Ane dapat mendengar omongan Dewo.



"Dewo kamu bilang apa tadi mama budeg dan tuli" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang, sedangkan Dewo hanya menganggukkan kepalanya dengan cepat dengan posisi kedua tangan yang masih ada di wajahnya.


Melihat anggukan kepala Dewo membuat Ane membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut menganga, sedangkan Dewo belum menyadari bahwa pertanyaan tadi terlontar dari Ane sang mama.

__ADS_1


"Oh Dewo jadi kamu mengatai mama itu tuli dan budeg padahal menurut mama yang budeg dan tuli itu kamu Dewo, sebenarnya kamu sadar ngga sih kalau kamu itu tuli dan budeg tingkat akut" lagi dan lagi Ane berteriak dengan sangat keras dan sangat kencang, sedangkan Dewo hanya tersenyum kecut sambil kedua tangannya masih betah bertengger di wajahnya.


"Aku heran deh sama diri aku sendiri kenapa aku mendengar suara omongan mama di sekitar sini, bukan hanya suara omongan tapi lebih tepatnya suara teriakan mama di sekitar sini, padahal aku tadi lihat pakai mata rambut aku sendiri, lho koq jadi mata rambut maksudnya mata kaki aku sendiri bahwa mama aku pergi melangkah menjauhi aku, hanya untuk mencari beberapa pelayan supermarket yang akan di beri tugas buat membopong aku ke mobilnya aku, lagian aku malas kalau harus mengikuti mama buat mencari beberapa petugas supermarket buat membopong tubuhnya aku ke mobilnya aku, lagian mama ada ada saja ngapain pakai menuduh aku tuli dan budeg segala bahkan mama dengan teganya menuduh aku tuli dan budeg akut, padahal yang tuli dan budeg itu mama aku, buktinya aku tadi tanya ke mama aku tapi mama aku ngga dengar pertanyaan aku malah mama aku tetap berjalan melangkah menjauhi aku" kata Dewo tanpa rasa bersalah sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, sehingga Dewo tidak melihat kehadiran Ane yang ada di depan matanya, sedangkan Ane yang mendengar omongan Dewo langsung mendelik ke arah Dewo.


Ane yang geram dan emosi gara gara omongan Dewo, sehingga Ane berniat untuk membuka paksa kedua tangannya Dewo dari wajahnya, kini tanpa ragu Ane berjalan lebih mendekat lagi ke arah Dewo tanpa sepengetahuan Dewo.



Setelah Ane jaraknya dekat dengan Dewo, kini tanpa menunggu waktu lama tangannya Ane langsung memegang kedua tangannya Dewo, lebih tepatnya tangannya Ane menarik kedua tangannya Dewo secara kasar membuat Dewo yang kaget tiba tiba ada tangan yang menarik kedua tangannya secara paksa langsung menatap ke arah sumber orang yang memegang kedua tangannya Dewo secara kasar.



Kini Dewo membelalakkan kedua matanya dengan sangat lebar dengan mulut menganga, melihat orang yang menarik kedua tangannya Dewo secara paksa adalah Ane, yang kini ada di depan matanya, bahkan Ane kini menatap nyalang ke arah Dewo.


"Mama sejak kapan ada di sini bukannya mama tadi mau mencari beberapa petugas supermarket buat membopong tubuhnya aku ke mobil aku" ucap Dewo sambil menatap ke arah Ane dengan di penuhi banyak tanda tanya di kepalanya, sementara Ane tersenyum kecut mendengar omongan Dewo.

__ADS_1


"Dewo yang harusnya bertanya itu mama, sejak kapan kamu menuduh mama tuli dan budeg" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang sedangkan kedua matanya Dewo terbelalak lebar dengan mulut menganga.


__ADS_2