
Ane menatap nyalang ke arah Dewo karena kesal dan emosi Dewo tidak mengakui kalau dirinya mendorong tubuhnya Ane sedangkan Dewo juga ikutan membalas dengan cara melototkan kedua matanya ke arah Ane.
Dewo sangat malu dengan perkataan Ane tadi ingin rasanya tadi Dewo membungkam mulutnya Ane dengan tangannya, namun Dewo tak bisa melakukan hal itu kepada Ane bukannya Dewo takut kepada Ane namun Dewo tak mau Ane malah tambah melakukan hal gila lagi dengan cara Ane menggigit tangannya Dewo misalkan, atau Ane yang langsung menginjak sepatunya Dewo, sehingga Dewo tak mau mengambil resiko yang seperti itu.
"Mama bikin malu sama aku keterlaluan banget, pakai menuduh aku yang mendorong mama, padahal aku yakin mama aku yang niat duduk di lantai yang tempatnya dingin, bikin malu banget tapi harusnya mama aku ngga usah menjelek jelekkan nama baik aku dong di depan orang banyak, kalau mereka semua alias orang yang ada di supermarket percaya sama omongan mama aku bahwa aku yang mendorong tubuhnya mama aku gimana aku malu banget mendapat tuduhan seperti itu dari mama aku lebih baik aku harus cari cara supaya mama aku cepat pulang dari supermarket ini supaya mama aku ngga menambah bikin malu aku, lebih baik aku ikuti mama saja pulang lebih awal dari supermarket lalu ke poli THT dari pada kalau mama aku kelamaan di sini malah fitnah aku dengan berbagai macam fitnah" batin Dewo sambil mengeluarkan senyum licik di wajah tampannya.
"Dewo kamu yang tadi mendorong tubuhnya mama, apa kamu sudah mulai pikun sehingga kamu ngga ingat dengan kejadian beberapa menit yang lalu" bentak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang melebihi kerasnya toa dan di sertai tatapan nyalang ke Dewo, sedangkan Dewo tak bergeming karena masih sibuk dengan dunianya sendiri lebih tepatnya Dewo asyik dan sibuk melamun.
__ADS_1
Setelah Ane menunggu selama beberapa puluh jam kelamaan dong maksudnya setelah Ane menunggu selama beberapa puluh menit namun Ane sama sekali tak mendengar jawaban dari Dewo walaupun hanya sepatah kata atau dua patah kata lebih tepatnya Ane tidak mendengar suara Dewo walaupun hanya satu hurufpun membuat Ane geram sekali kepada Dewo.
Ane berpikir bahwa Dewo pasti berpura pura tuli dan berpura pura budeg tak mendengar suara teriakan Ane dan bentakan Ane, karena Ane berpikir bahwa kalau Dewo berpura pura tidak mendengarkan suara teriakan Ane dan suara bentakan Ane membuat Ane tidak marah kepada Dewo.
"Dewo pasti berpura pura tidak mendengar suara teriakan aku dan suara bentakan aku karena aku yakin Dewo takut kalau aku akan berteriak dengan sangat keras dan sangat kencang lebih baik aku sadarkan Dewo supaya mendengar suara teriakan aku dan bentakan aku, tunggu sebentar tapi Dewo memangnya sudah sembuh dari penyakit berbahaya tuli dan budeg, gimana dong aku belum tahu cara ngecek orang ngga budeg dan ngga tuli, aku juga belum tahu ciri ciri orang budeg dan tuli gimana dong ini" batin Ane sambil menatap ke arah Dewo dengan raut wajah bingung.
"Aku sepertinya punya ide supaya mama aku ngga bikin malu lagi di supermarket lebih baik aku bulatkan tekad aku untuk mengajak mama aku pulang ke rumah ngga masalah kalau aku nanti harus ke poli THT yang penting mama aku ngga bikin malu terus di supermarket ini, ternyata otaknya aku cerdas juga dan otaknya aku pintar juga lebih baik aku bicarakan ini ke mama aku sekarang dari pada mama aku malah tambah bikin malu lagi di supermarket ini" batin Dewo sambil menerbitkan senyuman lebar di wajah tampannya.
__ADS_1
Ane menatap ke arah Dewo dengan tatapan heran pasalnya Ane melihat dengan jelas dan Ane melihat dengan mata rambutnya sendiri lebih tepatnya Ane melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Dewo sedang mengeluarkan senyum lebar di wajahnya, itu semakin membuat Ane yakin kalau Dewo sedang berpura pura tidak mendengar suara teriakan Ane dan suara bentakan Ane, bahasa lebih gaulnya Dewo sedang nge prank Ane, membuat Ane sangat geram melihat kelakuan tengil anaknya.
"Benar dugaan aku kalau Dewo cuma sedang berpura pura tidak mendengar suara teriakan aku dan berpura pura tidak mendengar suara bentakan aku, heran aku sama dia ngapain dia melakukan itu semua, sudah hampir kepala tiga malah masih nge prank aku, pokoknya aku sangat yakin kalau Dewo sedang mengerjai aku kelihatan banget kalau Dewo sedang mengerjai aku buktinya dia sampai tersenyum lebar kayak gitu, aku jadi pengin jambak rambutnya Dewo, tapi ini di supermarket gimana dong kapan waktu yang tepat buat jambak rambutnya Dewo" batin Ane dengan kepala yang mengeluarkan tanduk dan kepala yang mengeluarkan asap yang sangat banyak.
Dewo menatap ke arah Ane lalu dirinya mencoba untuk berbicara kepada Ane mengenai niat yang sudah di pikirkan bulat bulat seperti tahu bulat, dan tekad yang sudah bulat kini Dewo menatap ke arah Ane setelah itu Dewo berkata kepada Ane.
"Mama ayo katanya kita berdua mau pulang buruan kita berdua pulang sekarang mah kalau urusan jas buat papa biar papa beli ke supermarket sendiri atau papa beli lewat online shop gampang kan mah" kata Dewo dengan suara sedang namun Ane masih tak bergeming dirinya masih sibuk dengan dunianya sendiri lebih tepatnya Ane sedang sibuk dan asyik melamun memikirkan nasibnya yang akan menjambak rambutnya Dewo.
Setelah Dewo menunggu selama beberapa puluh jam kelamaan dong maksudnya setelah Dewo menunggu selama beberapa puluh menit namun Dewo belum mendengar jawaban dari Ane, membuat Dewo berpikir bahwa Ane sedang melamun atau mulai terserang penyakit tuli dan budeg dadakan.
__ADS_1
"Mama aku kenapa di tanya diam saja sebenarnya mama aku itu sedang sibuk melamun atau mama aku sudah mulai terserang penyakit berbahaya penyakit tuli dan budeg, aku heran gimana dong caranya suara mama aku mendengar suara aku, pokoknya aku harus cari akal supaya mama aku mendengar suara aku supaya aku bisa ajak pulang dari supermarket sekarang juga supaya ngga bikin malu di supermarket ini" batin Dewo bingung sambil menatap ke arah Ane yang menatap ke arah depan dengan tatapan kosong