
Dewo menghela nafas lega setelah kepergian Ane, lalu Dewo menatap ke arah tangannya yang memegang beberapa barang yang tadi di bawakan oleh Ane membuat Dewo tersenyum kecut.
Dewo tak punya pilihan lain selain memakai semua barang yang di pilihkan oleh Ane, tak mau larut dengan pemikiran yang tak sejalan dengan realita, membuat Dewo melangkahkan kedua kakinya ke arah ranjang, tentunya dengan barang barang yang masih bertengger di tangannya.
Dewo berjalan dengan pelan, seakan Dewo tak punya semangat 44455.
"Mama gue nyebelin banget pakai menyiapkan pakaian buat gue, celana buat gue, dan sepatu buat gue, padahal gue bisa cari barang tersebut sendiri tanpa bantuan mama gue, terpaksa gue harus pakai semua barang yang mama gue bawakan buat gue, walaupun gue harus mengurungkan niat gue buat memakai pakaian yang terjelek dan celana yang terjelek yang gue punya" batin Dewo sambil tetap melangkahkan kakinya menuju ke ranjang.
Ane menerbitkan senyum lebar di wajahnya, bahkan Ane kadang terkekeh kecil, itu semua karena Dewo mau memakai semua barang yang Ane bawa.
Walaupun Ane tahu kalau Dewo melakukan itu terpaksa berkat ancaman yang di keluarkan Ane.
Namun entah alasan apapun Ane tetap bahagia karena Dewo mau memakai semua barang yang di pilihkan olehnya.
"Aku senang banget karena Dewo mau memakai semua barang yang aku bawakan tadi, rasanya aku sangat bahagia karena aku punya anak yang penurut seperti Dewo, walaupun Dewo menurut gara gara takut ancaman aku, tapi intinya Dewo mau menuruti semua perintah aku" batin Ane tak melunturkan senyum lebar di wajahnya.
Ane tetap melanjutkan langkah kakinya ke arah kamarnya, sepertinya Ane juga akan bersiap untuk bertemu dengan sang sahabatnya dan sahabat suaminya.
Dewo yang telah melangkah selama beberapa menit, kini Dewo sudah sampai di samping ranjang, lalu tanpa ba-bi-bu Dewo langsung menghempas semua barang yang ada di tangannya.
Dewo ingin sekali berteriak sekeras kerasnya, namun Dewo tak jadi melakukannya, karena Dewo tak mau di cap gila oleh orang yang mendengar teriakan Dewo.
"Sepertinya gue harus cari cara lain untuk membatalkan perjodohan gue sama anak sahabat mama gue, kira kira rencana apa supaya wanita yang di jodohkan dengan gue membatalkan perjodohan ini" batin Dewo sembari memegang dagunya seakan dia sedang berpikir keras melebihi kerasnya batu.
__ADS_1
Setelah Dewo berpikir selama beberapa menit, namun Dewo belum juga menemukan cara supaya wanita yang akan di jodohkan dengannya membatalkan perjodohan tersebut.
Namun Dewo tak lelah dia tetap memutar otaknya untuk berpikir mencari jalan keluar, mungkin Dewo harus melakukan cara lain supaya perjodohan tersebut tetap gagal.
Tiba tiba Dewo mengeluarkan senyum lebar di wajahnya, sepertinya Dewo sudah menemukan jalan keluar dari masalah yang di hadapi.
"Gue sekarang sudah punya ide supaya wanita yang akan di jodohkan dengan gue membenci gue dan membatalkan perjodohan ini, lebih baik gue pakai semua barang yang di bawa mama gue, dan gue jamin cara yang gue lakukan bakal membuat wanita yang akan di jodohkan dengan gue menolak perjodohan ini" batin Dewo sambil tetap mengeluarkan senyum lebar di wajahnya.
Dewo kini melepaskan pakaian yang melekat dan menempel di tubuhnya, lalu Dewo melempar pakaian tersebut ke tempat menyimpan pakaian kotor sementara, keranjang tersebut terletak di sisi ranjang.
Kini Dewo sudah telanjang dada, lalu tangannya Dewo mengambil pakaian yang tergeletak di ranjang miliknya.
"Gue sebaiknya mulai mainkan drama pura pura menerima perjodohan ini, tapi gue akan buat wanita yang akan di jodohkan dengan gue membenci gue dan membatalkan perjodohan ini, dengan begitu gue ngga perlu repot repot turun tangan untuk membatalkan perjodohan ini, tapi perjodohan tersebut akan batal dengan sendirinya" batin Dewo sambil tersenyum licik.
Setelah pakaian yang di pilihkan Ane melekat sempurna di badannya Dewo, kini Dewo membuka celana yang terpasang di badannya.
Setelah celana Dewo terbuka, kini Dewo langsung mengambil celana yang tergeletak di atas ranjang.
Setelah tangannya Dewo terisi celana yang di pilihkan Ane, lalu Dewo memakai celana yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Astaga mama gue itu memilihkan pakaian dan celana model kayak gini, gue mau menolak tapi mama gue mengancam gue, jadi lebih baik gue turutin saja keinginan mama gue, tapi tetap gue harus jalankan misi gue yaitu membuat wanita yang akan di jodohkan dengan gue membenci gue, dengan begitu gue jamin kalau wanita itu akan membatalkan perjodohan ini dengan sendirinya" batin Dewo dengan senyum licik yang terpancar di wajahnya.
Ane yang sudah melangkah selama beberapa menit, kini sudah ada di depan kamarnya, lalu tanpa komando dan tanpa aba aba Ane langsung menyelonong masuk ke dalam kamarnya.
Sang suami Ane yang mendengar suara pintu terbuka, langsung menoleh ke arah sumber suara.
Di sana terpampang wajah Ane membuat sang suami Ane mengerutkan keningnya heran.
Diran melihat Ane sang istri yang kini berjalan ke arahnya, sungguh Diran heran kenapa sang istri kembali ke kamar, bukankah tadi bilang mau menyiapkan barang yang akan di pakai Dewo untuk acara pertemuannya dengan sahabat Ane dan sahabat Diran.
"Mama ngapain ke sini ?" pertanyaan itu refleks terucap dari bibirnya Diran.
Ane yang mendengar pertanyaan yang keluar dari Diran, membuat atensi kedua matanya Ane langsung menatap ke arah Diran, kini Ane menatap Diran dengan tatapan nyalang.
"Mama itu istri papa jadi secara otomatis rumah ini adalah rumah mama juga, wajar kalau mama ada di sini atau di ruang manapun, ngapain pakai tanya ngapain mama ke sini" bentak Ane karena sebal dengan perkataan dari Diran.
Diran menelan ludahnya sendiri, sungguh Diran bingung cara menjelaskan kepada Ane maksud pertanyaan dirinya tadi.
"Ma ma mama maksudnya papa itu" perkataan Diran belum selesai sudah di potong oleh Ane.
"Cukup papa ngga usah jelaskan maksudnya papa, karena mama sudah tahu maksud omongan papa, karena mama malas berdebat sama papa jadi mama ngga ladenin adu panco dan adu mulut sama papa" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang.
Diran bersiap akan menjawab namun Diran mengurungkan niatnya, karena Diran sudah mendengar suara yang sangat familiar yang sangat memekakan telinga.
"Papa lebih baik kita berdua siap siap ketemu sama Aya dan suaminya Aya" lanjut Ane dengan nada ketus.
Tanpa menunggu jawaban dari Diran kini Ane melangkah masuk ke dalam kamarnya menjauh dari Diran.
Diran hanya melongo menyaksikan Ane yang melenggang pergi menjauh darinya.
__ADS_1