Terpaksa Menikah Karena Perjodohan

Terpaksa Menikah Karena Perjodohan
Ngga Usah Tawar Menawar


__ADS_3

Dewo masih syok melihat tatapan yang tak bersahabat yang di keluarkan oleh Ane, sungguh Dewo rasanya ingin menenggelamkan dirinya ke ember.


Ane mendelik ke arah Dewo, sungguh Ane kesal dengan Dewo yang menurut Ane tak menghargai usahanya, dalam hatinya Ane dia sudah capek menyiapkan semua kebutuhan Dewo.


Namun yang membuat Ane marah, kecewa, kesal, dan emosi itu hanya satu, Dewo malah protes dan tak ingin memakai semua barang barang yang di pilihkan Ane.


Kini Ane berusaha menahan emosinya yang sudah ada di ubun ubun, bahkan kalau kedua tangannya Ane tak sibuk membawa barang miliknya Dewo, pasti kedua tangannya Ane akan terkepal gara gara emosi.


"Dewo kamu ngga usah protes, buruan kamu pakai semua barang yang mama pilihkan buat kamu, harusnya kamu senang dan bersyukur karena mama memilihkan semua barang yang kamu perlukan, sehingga kamu tak perlu repot repot mencari barang yang akan kamu pakai buat ketemu sama sahabat mama" bentak Ane sambil melototkan kedua matanya ke arah Dewo.


Dewo terlonjak kaget, bahkan Dewo sampai memegang dadanya dengan kedua tangannya saking kagetnya menerima bentakan Ane.


Ingin sekali Dewo menjawab kalau Dewo tidak mau memakai barang yang Ane bawakan, karena Dewo mau memilih barang barang yang paling jelek supaya wanita yang akan di jodohkan dengan Dewo membenci Dewo, namun tentu saja Dewo menjawab semua itu dalam hati.


"Dewo kenapa kamu diam saja, buruan kamu ambil semua barang yang mama bawakan buat kamu, tangan mama capek dan tangan mama pegal bawa beberapa barang yang akan di pakai oleh kamu" lagi dan lagi Ane membentak kepada Dewo.


Ane melakukan itu karena Dewo tak kunjung menjawab perkataan Ane, bahkan Dewo juga tak mengambil barang barang yang ada di tangannya Ane, intinya Dewo persis seperti patung dan mematung di tempat.


"Mama lebih baik aku cari barang yang akan aku pakai sendiri, soalnya kalau mama yang pilihkan takut ukurannya ngga sesuai dengan tubuhnya aku, siapa suruh mama mencarikan barang barang yang akan aku pakai dan mama juga membawa barang yang aku pakai, akibatnya mama tanggung sendiri" Dewo sedang mencoba bernegosiasi dengan Ane sang mama.


Sungguh Dewo berharap kalau Ane mau mendengar ocehannya, dan Ane akan membiarkan Dewo memilih semua barang yang akan di pakai sesuai keinginannya.

__ADS_1


Namun sepertinya Dewo harus menelan pil pahit, karena Ane tetap memaksa kepada Dewo untuk memakai semua barang yang di pilihkan.


Bahkan tanpa ragu Ane mengunakan jurus ampuh berupa ancaman kepada Dewo, tentu saja karena itu membuat Dewo terpaksa mau memakai semua barang yang di pilihkan oleh Ane.


"Dewo ngga usah tawar menawar karena ini itu bukan di pasar, itu juga kalimat perintah buat kamu bukan kalimat tawar menawar, semua barang yang mama pilihkan pasti sesuai karena kamu sudah mencoba tadi di supermarket" jelas Ane dengan nada setengah berteriak.


Dewo melebarkan kedua matanya sangat syok dengan jawaban yang keluar dari Ane, sungguh Dewo heran Ane sangat keras kepala dan tak boleh tawar menawar.


Dewo kini menghela nafas panjang, Dewo tak punya pilihan lain selain menerima semua barang yang di pilihkan oleh Ane, hanya itu yang membuat masalahnya akan cepat selesai.


"Oke mama aku mau memakai semua barang yang mama pilihkan" jawab Dewo dengan nada tak bersemangat.


Ane mengerutkan keningnya heran sambil menatap ke arah Dewo, lalu Ane berkata.


Dewo memutar bola matanya malas, sebenarnya Dewo ingin menjawab kalau memang Dewo terpaksa memakai semua barang yang Ane pilihkan, namun Dewo tak mau berdebat dan adu panco maksudnya adu mulut dengan Ane.


Kini Dewo memasang senyum palsu di wajahnya, lalu Dewo menatap ke arah Ane dengan senyum palsu yang baru saja di ciptakan olehnya.


"Aku ini senyum lho mama, wajah aku itu sudah tampan dan ganteng dari sebelum aku lahir, yang punya wajah jelek itu papa bukan aku" jawab Dewo setia memasang senyum palsu di wajahnya, hal itu membuat kedua matanya Ane berbinar seperti mendapat hadiah jackpot.


"Ini Dewo kamu pakai semua barang yang mama pilihkan, mama yakin kamu akan semakin tampan dan semakin ganteng memakai semua barang ini" jelas Ane bersemangat sembari mengulurkan barang barang yang ada di tangannya kepada Dewo.

__ADS_1


Dewo langsung menerima beberapa batang yang di sodorkan oleh Ane, karena Dewo ingin kalau dia menerima semua barang yang ada di tangannya Ane, membuat Ane cepat pergi dari kamarnya Dewo.


Setelah beberapa puluh detik berlalu, Ane masih ada di kamarnya Dewo, hal itu tentu saja membuat Dewo bingung plus heran.


"Mama ngapain masih di sini ?" tanya Dewo sambil menaikkan satu alisnya ke atas.


Ane mendengus sebal mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutnya Dewo, kini Ane menatap nyalang ke arah Dewo dan menjawab.


"Dewo ngga ada larangan mama ada di kamarnya kamu, karena kamu itu anak mama yang lahir dari rahim mama, jadi mama bebas ada di kamar kamu" ketus Ane sambil mendelik ke Dewo.


Dewo tersenyum masam mendengar jawaban dari Ane, sebenarnya bukan itu maksud dari perkataan Dewo.


"Aku tahu kalau mama yang melahirkan aku, tapi maksudnya aku mama ngapain masih di sini aku itu mau ganti pakaian dan ganti celana, mama mau ngintip aku ganti pakaian dan ganti celana nanti bintitan kalau ngintip" Dewo menjelaskan maksud perkataan dirinya.


"Dewo bilang saja kamu ngusir mama dari kamar kamu, oke mama keluar dari kamar kamu bukan karena mama di usir kamu, tapi mama takut bintitan gara gara mama lihat kamu ganti pakaian dan ganti celana, tapi ingat kamu harus pakai semua barang yang mama bawa tadi" sahut Ane panjang kali lebar melebihi panjangnya rel kereta api.


Tanpa menunggu jawaban dari Dewo, kini Ane melenggang pergi meninggalkan Dewo.


Ane melangkahkan kedua kakinya menuju ke pintu kamarnya Dewo, sementara Dewo bahagia karena Ane pergi dari kamarnya.


Walaupun Dewo kesal karena harus memakai barang yang Ane bawa, tapi Dewo bahagia karena tidak mendengar ceramah dari Ane lagi yang hampir membuat gendang telinganya Dewo rusak.

__ADS_1


"Dewo ingat pesan mama kamu harus pakai semua barang yang mama pilihkan" kata Ane yang kini sudah berada di ambang pintu.


Dewo tersenyum kecut mendengar ocehan Ane, sedangkan Ane langsung melangkah keluar dari kamarnya Dewo.


__ADS_2