Terpaksa Menikah Karena Perjodohan

Terpaksa Menikah Karena Perjodohan
Penyebab Aku Berteriak Itu Mama


__ADS_3

Dewo masih menatap tajam ke arah Ane, sungguh Dewo kesal dengan kelakuan Ane yang membuat dia berteriak seperti tadi, bukan hanya itu saja tapi Ane juga membuat Dewo merasakan kesakitan akibat jambakan yang di lakukan Ane di kepalanya.



Ane juga menatap Dewo dengan tatapan tak kalah tajam, Ane juga sangat kesal dan tersulut emosi dengan Dewo, sungguh Ane tak terima di katakan oleh Dewo kalau Ane yang menyebabkan Dewo berteriak.



Ane sangat kesal sekali dengan Dewo, begitu juga sebaliknya Dewo juga sangat kesal kepada Ane, sehingga kini Ane dan Dewo saling tatap satu sama lain, namun Ane dan Dewo melayangkan tatapan membunuh ke satu sama lain.



Dewo ingin menjawab kenapa Dewo mengatakan Ane penyebab Dewo berteriak, namun sebelum Dewo berkata, Dewo sudah mendengar suara yang familiar di telinga Dewo, suara siapa lagi kalau bukan suara Ane, sehingga Dewo hanya menelan kembali kalimat yang akan di katakan.


"Dewo kamu jangan menuduh mama yang menyebabkan kamu berteriak karena mama ngga pernah menyuruh kamu berteriak" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang tak lupa sambil melototkan kedua matanya ke arah Dewo, seakan kedua matanya Ane hampir menggelinding ke lantai.


Sementara Dewo memutar bola matanya malas, sungguh Dewo kesal dengan Ane yang menurut Dewo tak mengakui kesalahannya, menurut Dewo yang membuat Dewo berteriak itu Ane.


"Mama sudah aku bilang kalau penyebab aku berteriak itu mama jadi" perkataan Dewo belum selesai sudah di potong oleh Ane.


"Stop Dewo jangan memotong pembicaraan mama, ingat mama belum selesai bicara jadi lebih baik kamu dengarkan semua perkataan mama, tapi jangan cuma di dengarkan tapi juga di laksanakan, ini demi kebaikan kamu" bentak Ane yang tak suka karena Dewo memotong pembicaraan dirinya.


Dewo membelalakkan kedua matanya dengan mulut menganga, sungguh Dewo tak menyangka kalau tadi Ane belum selesai bicara, Dewo pikir Ane sudah selesai bicara tadi.



Namun sedetik kemudian Dewo baru ingat kalau Ane bicara dengan wajah tak bersahabat dan wajah emosi, di jamin Ane tidak akan kelar berbicara dalam waktu beberapa detik atau beberapa menit, Dewo hafal Ane bisa bicara alias ceramah selama di atas satu jam, bahkan bisa berceramah lebih dari 24 jam non stop tanpa henti.

__ADS_1



Dewo juga kadang heran sendiri dengan stamina sang mama yang mampu berceramah sepanjang dan selama itu.


"Mama gue ada ada saja gue kira mama gue sudah selesai bicara ternyata belum selesai, gue baru ingat kalau mama gue ceramah di jamin lama banget ngga kelar kelar, kalau orang hamil mendengar ceramah mama gue di jamin orang yang hamil itu brojol dan melahirkan anak saat itu juga" gumam Dewo dengan sangat lirih dan pelan, supaya suaranya Dewo tak terdengar oleh Ane.


Namun kenyataannya Ane mendengar dengan jelas umpatan Dewo, walaupun dengan nada lirih, entah karena Ane yang fokus dan memperhatikan Dewo, atau karena suara Dewo yang kurang hati hati langsung bicara seperti itu saat Ane masih ada di sekitarnya.



Ane yang mendengar tuduhan Dewo membuat kedua matanya Ane terbelalak lebar dengan mulut menganga, sungguh Ane tak habis pikir dengan perkataan Dewo.



Menurut Ane Dewo sangat tega memfitnah Ane yaitu orang yang hamil pasti akan brojol dan melahirkan di tempat saat mendengar suara ceramah Ane.



"Dewo mama belum selesai bicara kalau mama sudah selesai bicara pasti ada tanda titik, mama itu bukan kyai atau ustadz yang bisa ceramah, mama cuma sedang menasehati kamu, kalau orang hamil dengar ceramah mama di jamin anaknya orang yang hamil bakalan cantik seperti mama, kalau orang hamil dengar ceramah mama lalu orang hamil itu brojol di tempat atau melahirkan di tempat itu karena memang orang hamil tersebut sudah saatnya untuk melahirkan" lagi dan lagi Ane membentak ke Dewo, sementara Dewo yang tadi sibuk dengan pikirannya langsung terlonjak kaget mendengar suara mendadak yang di keluarkan Ane.


Kini Dewo menatap ke arah Ane yang sekarang sedang menatap Dewo dengan tatapan membunuh, Dewo yang melihat tatapan Ane yang di tujukan untuk dirinya membuat bulu kuduk merinding, sehingga Dewo mengusap tengkuknya, untuk mencairkan keadaan yang mencekam.



Namun sepertinya Dewo tak berhasil mencairkan keadaan yang mencekam, karena Ane mulai mengeluarkan suara teriakan yang hampir merusak gendang telinganya.


"Dewo lebih baik kamu diam saja, buruan kamu bereskan semua pakaian dan semua celana milik kamu di lantai, supaya kita berdua bisa berangkat ke poli THT secepatnya" teriak Ane dengan sangat keras dan lantang, sementara Dewo langsung membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut yang menganga.

__ADS_1


Sungguh Dewo heran dan syok kenapa Ane sang mama masih ingat kalau Dewo dan Ane akan ke poli THT, Dewo pikir kalau Ane akan lupa dengan tujuan Ane tadi setelah banyak drama yang terjadi barusan, tapi kenyataannya malah Ane masih mengingat kalau Ane dan Dewo akan ke poli THT.



Dewo masih diam mematung di tempat, sungguh Dewo syok mendengar perkataan Ane tadi, sementara Ane menatap nyalang ke arah Dewo sambil menunggu jawaban dari Dewo.



Namun setelah Ane menunggu selama beberapa puluh tahun, kelamaan dong maksudnya setelah Ane menunggu selama beberapa puluh menit, Ane tak mendengar suatu patah katapun dari Dewo, membuat Ane geram dan tersulut emosi.


"Dewo kenapa kamu ngga jawab omongan mama, tadi mama cuma menyuruh kamu diam bukan menjadi patung, buruan jawab perkataan mama" bentak Ane sambil melototkan kedua matanya ke arah Dewo.


Dewo yang mendengar suara bentakan Ane, membuat Dewo membubarkan dan membuyarkan semua lamunannya, karena suara Ane yang keras membuat Dewo bisa mendengar dengan jelas perkataan Ane barusan.



Kini Dewo menetap ke arah Ane dengan tatapan yang tak bisa di baca, sementara Ane juga masih melototkan kedua matanya ke arah Dewo.



Dalam hatinya Dewo berpikir kalau menyuruh diam dan menjadi patung itu sama, bukankah diam itu seperti patung, patung pasti diam, kurang lebih seperti itu yang ada di otaknya Dewo.



Namun Dewo tak berani menjelaskan kepada Ane, karena Dewo takut akan ada peperangan perdebatan lagi selanjutnya.


"Sebenarnya mama itu menyuruh aku diam atau membereskan semua pakaian aku dan semua celana aku yang ada di lantai, kalau mama menyuruh aku diam otomatis aku ngga membereskan semua pakaian aku dan semua celana aku yang ada di lantai" jelas Dewo dengan nada bicara yang mengejek, sedangkan kedua matanya Ane terbelalak lebar dengan mulut menganga.

__ADS_1


__ADS_2