
Dewo masih tetap berjalan dengan santai menuju ke kamar mandi, kalau di tanya mau ngapain jawabannya jelas mengambil semua barang yang di sebutkan Ane, sedangkan Ane menatap nyalang ke arah punggung Dewo, sungguh Ane sangat emosi dengan Dewo.
Ane kesal dengan omongan Dewo yang mengatakan bahwa air ludahnya kemana mana, dan menyebabkan lantai banjir, sungguh Ane ingin sekali menyemburkan Dewo ke laut, namun Ane mengurungkan niatnya karena Ane tidak mau repot repot membopong tubuhnya Dewo yang sangat berat.
Ane yang tak bisa mengontrol emosi langsung berteriak sekencang kencangnya dan sekeras kerasnya, tujuannya supaya Dewo mendengar suara Ane lebih tepatnya Dewo mendengar suara teriakan Ane.
"Dewo kamu kurang ajar pakai bilang lantai dapur banjir gara gara air ludah mama, jangan mengkambing hitamkan mama dapur banjir itu gara gara air di gayung kamu yang tumpah" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang, mendengar teriakan Ane membuat Dewo hampir saja melompat, namun Dewo bisa menelan kembali keinginannya, sehingga Dewo hanya tetap berjalan walau dengan hati dag dig dug der.
Sebenarnya hatinya Dewo bukan dag dig dug der karena sedang jatuh cinta atau kasmaran, tapi hatinya Dewo seperti itu karena kaget menerima serangan teriakan dari Ane.
__ADS_1
Tanpa menjawab teriakan Ane, Dewo tetap berjalan ke arah kamar mandi, dengan perasaan dongkol karena suara teriakan Ane hampir merusak telinga Dewo.
Sementara Ane yang melihat dengan mata rambutnya sendiri, maksudnya Ane yang melihat dengan mata kepalanya sendiri Dewo tetap berjalan tanpa menghentikan langkah kakinya membuat Ane membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut yang menganga.
"Lebih baik gue lanjutkan ambil kain pel dan ember berisi air supaya gue cepat menyelesaikan pekerjaan gue, dengan begitu gue bisa terhindar dari suara teriakan mama gue yang sangat keras dan sangat kencang, mungkin kalau kecoa dan semut bisa protes dan bisa bicara manusia, pasti semut dan kecoa akan protes atas tindakan teriakan mama gue" batin Dewo sambil tetap berjalan menuju ke kamar mandi, bahkan Dewo kini mempercepat langkah kakinya.
"Perasaan aku sudah mengeluarkan teriakan sekencang kencangnya dan sekeras kerasnya kenapa Dewo ngga dengar teriakan aku, jangan jangan Dewo terkena penyakit budeg dan tuli akut, gimana dong ini, apa lebih baik aku suruh Dewo buat siap siap ke poli THT karena penting, atau aku tetap suruh Dewo mengambil kain pel dan ember yang berisi air, tapi kalau Dewo tetap melanjutkan mengambil kain pel dan ember berisi air pasti kelamaan, tapi sudah terlanjur aku nyuruh itu" batin Ane memijit pelipisnya dengan tangannya.
Kini Dewo telah ada di dalam kamar mandi, tanpa komando Dewo langsung berkelana ke tempat ember yang tergeletak di lantai bukan di genteng, Dewo tersenyum kecut menatap ke arah ember yang masih ada airnya, memang Dewo tidak membuang air yang ada dalam ember.
Kini Dewo berubah haluan, yang tadinya Dewo berniat ke ember yang tergeletak di lantai kini Dewo malah melangkah menuju tempat kain pel, setelah Dewo sampai di dekat kain pel tanpa aba aba Dewo langsung mengambil kain pel itu, lalu setelah kain pel ada di tangannya membuat Dewo langsung berkelana menyusuri lantai ke arah ember.
"Mama gue ada ada saja pakai di suruh bawa ember berisi air segala, padahal air yang tumpah dari gayung juga bisa buat mengepel lantai, bilang saja mama gue mau mengerjai gue makanya menyuruh gue mengambil ember yang berisi air, lebih baik gue cepat selesaikan tugasnya gue yaitu mengambil ember dan kain pel, supaya gue bisa tiduran dengan santai, tapi tunggu kayaknya mama gue lupa kalau tadi mama gue mengajak ke poli THT, ada gunanya juga mama gue menyuruh gue mengambilkan air minum, lalu mengambilkan air buat cuci wajah dengan ember, lalu protes menyuruh mengunakan gayung, dan mama gue sekarang malah menyuruh gue buat mengambil kain pel dan ember yang berisi air" batin Dewo sambil menerbitkan senyuman lebar di wajahnya dengan tangan yang membawa kain pel.
__ADS_1
Ane diam mematung sambil berpikir keputusan apa yang tepat supaya Dewo cepat di bawa ke poli THT, karena Ane menduga kalau Dewo tak mendengar suara Ane tadi karena Dewo terserang penyakit budeg dan tuli akut, kini Ane memutar otaknya untuk berpikir keras melebihi kerasnya baja.
Setelah sekian menit berpikir, kini Ane telah menemukan cara dan keputusan yang tepat, tanpa terasa Ane mengumbar senyum lebar di wajahnya, entah apa yang di pikirkan Ane sehingga Ane menciptakan senyum lebar seperti itu.
Kini Ane berjalan ke arah wastafel, dengan langkah cepat Ane menggerakkan kakinya berkelana ke arah wastafel yang terletak di dapur tanpa melunturkan senyum yang di ciptakan oleh Ane, entah hal apa yang membuat Ane mengumbar senyum lebar seperti itu.
"Aku sepertinya punya ide briliant, ngga sia sia aku dari tadi berpikir lalu menghasilkan ide briliant, sekarang tujuannya aku adalah wastafel buat cuma wajahnya aku yang terkena semburan air dari mulut Dewo, karena kalau aku belum cuci wajah menghandalkan Dewo membawakan air buat aku pasti kelamaan, apalagi Dewo barusan aku suruh ambil kain pel dan ember yang berisi air buat mengepel lantai yang terkena air gayung, setelah aku cuci muka sebaiknya aku ke kamar Dewo buat menyiapkan pakaian dan celana yang akan di pakai buat pergi ke poli THT, soalnya aku yakin pasti Dewo akan banyak alasan nanti kalau langsung di ajak ke poli THT, pasti alasannya akan ganti pakaian dan celana buat ke poli THT, kalau Dewo yang mencari pakaian dan celana sendiri pasti akan sangat lama, sebaiknya aku sediakan saja pakaian dan celana buat Dewo, supaya Dewo cuma tinggal pakai saja" batin Ane tak henti hentinya dan tak bosan bosannya mengeluarkan senyum lebar di wajahnya.
Setelah Ane berjalan selama beberapa menit, kini Ane telah sampai di depan wastafel, tangannya Ane langsung terulur membuka kran air, setelah itu Ane membasuh wajahnya dengan kedua tangannya, lalu Ane mengambil sabun yang tergeletak di sebelah krain air, lalu Ane memakai sabun ke tangannya dan mengusap tangan yang masih ada sabun ke wajahnya.
Setelah wajah Ane di hias sabun, lalu Ane mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dengan air yang mengalir dari kran air, setelah wajahnya bersih lalu Ane mematikan kran air dan Ane membasuh wajahnya dengan handuk yang tergantung di sebelahnya, setelah wajah Ane kering Ane meletakkan handuk ke asalnya lagi, lalu Ane melangkah menuju ke kamar Dewo.
__ADS_1