
Dewo masih menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, sungguh Dewo harap Ane segera pergi dari kamarnya, karena Dewo tak mau mendengar suara teriakan Ane yang hampir merusak telinganya.
Bahkan Dewo berkali kali membaca mantra pengusir setan, kenapa Ane di samakan dengan setan, maksudnya Dewo berkali kali membaca mantra supaya Ane pergi dari kamarnya sambil mulutnya fokus komat kamit, entah apa yang Dewo baca dan rapalkan hanya Dewo yang tahu.
Ane yang telah berjalan selama beberapa puluh jam, kelamaan dong maksudnya setelah Ane berjalan selama beberapa puluh menit, kini Ane telah sampai di samping Dewo.
Kedua matanya Ane terbelalak lebar melihat kejadian di depannya dengan kedua matanya sendiri, Ane melihat Dewo sedang komat kamit seperti Mbah dukun, itu membuat Ane semakin geram dan kesal dengan kelakuan Dewo.
Sehingga kini emosi Ane ratusan milyar kali lipat kepada Dewo, karena Dewo menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, Dewo juga belum membereskan semua pakaian dan semua celana Dewo sesuai perintah Ane, malah Ane melihat mulutnya Dewo komat kamit entah apa yang Dewo baca.
Ane telah bersiap untuk mengeluarkan suara teriakannya, namun tidak jadi karena Ane mendengar omongan Dewo, lebih tepatnya Ane mendengar kalau Dewo sedang bergumam membicarakan dirinya.
"Semoga saja mama gue sudah pergi dari kamarnya gue, soalnya gue ngga mau mendengar mama gue berteriak terus bikin kaget saja, bukan hanya itu tapi juga capek kalau harus menutup telinga kayak gini terus" keluh Dewo dengan nada setengah bergumam, sementara Ane langsung membuka mulutnya bersiap untuk menjawab semua keluhan Dewo.
__ADS_1
Namun belum sempat Ane menjawab, tiba tiba Ane mendengar suara Dewo lagi, sehingga membuat Ane berteriak di dalam hati, sembari mengepalkan kedua tangannya, jangan lupakan tatapan Ane yang membunuh ke arah Dewo.
"Lagian gue heran sama papa gue apa yang di sukai dari mama gue, kenapa papa gue mau menikah dengan mama gue, yang mukanya ngga cantik cantik amat, bahkan mama gue super cerewet karena sering berteriak, beruntung papa gue sama gue ngga punya penyakit jantung, jadi walaupun mama gue teriak dan bikin kaget ngga menyebabkan gue sama papa gue mati mendadak gara gara serangan jantung" lanjut Dewo sambil tetap menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.
Kedua matanya Ane terbelalak lebar dengan mulut menganga mendengar semua omongan Dewo, sungguh Ane tak menyangka kalau Dewo itu berani menghina dirinya, padahal Dewo itu lahir dari rahim Ane.
Karena Ane sudah tak kuasa menahan rasa amarah dan kesal yang bergemuruh di dadanya, tanpa aba aba Ane langsung menjambak rambutnya Dewo dengan sangat keras.
"Aaaaaaaaahhhhhhhhh" teriak Dewo merasa jambakan di rambutnya.
Ane menerbitkan senyum puas dan senyum lebar sembari masih menjambak rambut Dewo, dalam hatinya Ane itu belum seberapa, di banding perkataan Dewo yang sangat pedas melebihi pedasnya cabe rawit dan seblak.
Dewo mengira kalau yang menjambak rambutnya itu adalah papanya bukan Ane, sedangkan Ane tersenyum masam mendengar celotehan dan ocehan Dewo.
"Dewo aku itu mama kamu orang yang dari tadi kamu hina, keterlaluan sekali kamu jadi anak malah menghina orang yang melahirkan, apa kamu ngga tahu pengorbanan seorang ibu itu sungguh banyak dan sangat sakit, saat hamil mama itu ngga bisa makan banyak karena makan sedikit sudah kenyang, ngga bisa tidur bebas, tidur terlentang ngga nyaman, tidur miring takut anak yang di kandungan mati, tidur tengkurap apalagi di jamin anak yang di kandung langsung mati keguguran, setelah melahirkan ngga bisa tidur akibat anak yang rewel lapar sehingga mama langsung beri asi ke kamu, makan juga kadang sambil menyusui kamu, melatih kamu jalan sampai kamu pintar jalan sendiri, menggendong kamu, dan menyuapi kamu dengan telaten" teriak Ane panjang kali lebar melebihi panjangnya rel kereta api dengan tangan masih menjambak rambutnya Dewo.
Dewo tak bergeming sama sekali, dan Dewo tak mendengar semua ocehan Ane, karena Dewo sibuk dengan dunianya sendiri, sungguh Dewo kini sedang memikirkan cara supaya tangan yang ada di rambutnya itu bisa lepas dari rambutnya.
Ane menatap nyalang ke arah Dewo, namun setelah Ane menunggu selama beberapa menit, Dewo tak menjawab semua omongan Ane, membuat Ane semakin geram dan emosi akibat perbuatan Dewo, sehingga Ane mengeluarkan suara teriakan lagi.
__ADS_1
"Dewo kamu dengerin mama ngomong apa ngga ? kenapa kamu diam saja" lagi dan lagi Ane berteriak, bahkan suara teriakan Ane lebih keras dan lebih kencang dari sebelumnya.
Namun lagi dan lagi Dewo masih tak bergeming, Dewo hanya mampu meringis, bukan meringis karena mendengar suara teriakan Ane, namun Dewo meringis akibat jambakan dari tangannya Ane.
Ane melihat ekspresi wajah Dewo dengan alis yang berkerut, sungguh Ane heran kenapa ekspresi Dewo seperti orang yang sedang sakit perut, lalu Ane menatap ke arah perutnya Dewo, untuk meneliti apakah Dewo sedang hamil atau tidak.
Tunggu Dewo itu pria jadi tidak akan hamil, tugasnya Dewo hanya menghamili, maksudnya Ane menatap ke arah perutnya Dewo karena ingin melihat apakah tangannya Dewo sedang memegang perutnya Dewo atau tidak.
Kalau tangannya Dewo sedang memegang perutnya Dewo, berarti Dewo sedang mengalami sakit perut, tapi kalau tangan Dewo sedang tak memegang perutnya Dewo, otomatis perutnya Dewo tak sakit, sehingga ekspresi yang di pancarkan oleh Dewo hanya akting belaka.
Namun setelah Ane melihat dengan kedua matanya sendiri, Ane tak melihat tangannya Dewo memegang perutnya Dewo, sehingga Ane menyimpulkan kalau Dewo sedang akting dengan wajah meringis.
"Papa tolong lepaskan jambakan papa di rambut aku dong, ini sakit banget rasanya pah" teriak Dewo karena sudah tak tahan dengan rasa sakit dan perih akibat jambakan tangannya Ane.
Ane yang sedang berselancar dengan lamunannya, mendadak Ane membuyarkan dan membubarkan semua lamunannya Ane, kini kedua matanya Ane menatap nyalang ke arah Dewo.
__ADS_1
''Dewo ini mama bukan papa, ini pembalasan dari mama belum seberapa sudah merasa kesakitan, lebih sakit di hina di banding di sakiti secara fisik seperti ini, kalau di sakiti secara fisik bisa periksa ke dokter dan beli obat supaya sembuh, tapi kalau di sakit hati dan di hina dokter dan obat yang di beli ngga akan bisa menyembuhkan" teriak Ane sambil mendelik ke arah Dewo, sementara Dewo masih belum menatap ke arah Ane karena merasakan sakit di rambutnya.