Terpaksa Menikah Karena Perjodohan

Terpaksa Menikah Karena Perjodohan
Kayak Lagi Nyanyi Duet Atau Paduan Suara


__ADS_3

Ane menatap nyalang ke arah Dewo, sungguh Ane tak terima di tuduh oleh Dewo, bahwa Ane gara gara Ane Dewo berlari seperti tadi, pada kenyataannya memang Ane menyuruh Dewo berlari seperti tadi, sehingga Ane berpikir kalau Arjuna itu hanya alasan Dewo saja.



Ane berpikir kalau Dewo berlari kencang seperti tadi, karena Dewo takut dengan kecoa atau semut, sehingga Dewo berlari kencang seperti tadi, dalam pikiran Ane karena Dewo gengsi dan takut di bully, membuat Dewo menyalahkan Ane penyebab Dewo berlari lari kencang seperti tadi.



Dewo menatap ke arah Ane dengan tatapan kesal, sungguh Dewo marah kepada Ane, dalam hatinya Dewo kenapa Ane tak mengakui kalau Ane penyebab Dewo berlarian seperti tadi, kenapa Ane malah menjawab kalau Ane tak menyuruh Dewo berlarian.


"Mama memang ngga menyuruh aku buat berlarian kayak tadi, tapi jujur aku berlarian seperti tadi itu gara gara mama karena" perkataan Dewo belum selesai sudah di potong oleh Ane.


"Dewo itu kamu ingat kalau mama ngga menyuruh kamu buat berlarian kayak tadi, kenapa kamu menuduh kalau kamu berlarian kayak tadi gara gara mama, oh mama tahu pasti kamu malu kalau kamu harus mengakui alasan penyebab kamu berlarian kayak tadi, mama yakin penyebab kamu berlarian kayak tadi itu gara gara kamu takut dengan kecoa atau semut" jawab Ane panjang kali lebar melebihi panjangnya rel kereta api, di sertai senyuman mengejek ke arah Dewo.


Dewo yang mendengar dengan matanya sendiri, koq mata maksudnya Dewo yang mendengar dengan telinganya sendiri, bahwa Ane menuduh kalau Dewo berlari seperti tadi gara gara takut dengan kecoa atau semut, membuat emosi Dewo naik dan mukanya merah padam seperti saos kepiting rebus.

__ADS_1



Sungguh Dewo tak habis pikir dengan pikiran Ane dan tebakan Ane, yang ternyata salah besar, kini Dewo menatap tajam ke arah Ane, lalu Dewo membuka mulutnya bersiap untuk menjawab omongan Ane, namun belum sempat Dewo mengeluarkan suara emasnya, tiba tiba terdengar suara yang sangat tak asing di telinga Dewo.



Suara itu berasal dari Ane, mendengar Ane yang sudah bicara, membuat Dewo menutup mulutnya kembali, takut kalau mulutnya Dewo kemasukan cabai rawit, kebayang kan kalau mulutnya Dewo tiba tiba kemasukan cabe rawit di jamin Dewo bakal kepedesan dan kelimpungan mencari air minum supaya ngga kepedasan lagi.


"Dewo kenapa kamu diam saja dari tadi, oh mama tahu jangan jangan benar dugaan mama kalau tadi kamu berlarian itu karena takut dengan kecoa atau semut, makanya kamu diam saja mendengar perkataan mama yang seribu milyar benar" jelas Ane dengan membanggakan dirinya sendiri sambil menatap remeh ke Dewo, sementara Dewo membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut yang menganga.


"Mama sebenarnya aku tadi mau jawab, tapi mama sudah keburu nyerocos, membuat aku diam masa aku sama mama bicara secara bersamaan, kayak lagi nyanyi duet atau paduan suara sampai bicara secara bersamaan" cibir Dewo dengan nada ketus, sambil kedua tangannya melipat di depan dadanya, sementara kedua matanya Ane mendelik ke arah Dewo.


Sungguh Ane kesal dan tersulut emosi mendengar jawaban Dewo, karena emosi Ane yang sudah ada di ubun ubun, serta kepala Ane yang mengeluarkan tanduk yang panjang, membuat Ane tak mampu lagi menyimpan amarahnya di dalam hati, sehingga kini Ane berteriak sekencang kencangnya dan sekeras kerasnya.


"Dewo kamu jangan banyak alasan dan kamu jangan buat drama, kalau tadi kamu mau jawab kenapa suara kamu ngga kedengaran oleh mama sama sekali, apalagi mama itu ngga budeg dan tuli, kenapa sebelum mama nyerocos kamu ngga jawab pertanyaan mama, bilang saja kamu sedang menyalahkan mama gara gara mama nyerocos kamu ngga jawab omongan mama, kenapa jadi bahas nyanyi duet dan paduan suara, ini lagi bahas kenapa kamu ngga jawab omongan mama" teriak Ane sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya, sementara Dewo yang mendengar suara Ane yang sangat menggelegar di kedua telinganya, membuat Dewo tersentak kaget bahkan sampai bergeser dari tempat dirinya berdiri.

__ADS_1


Dewo kini menatap nyalang ke arah Ane, sungguh Dewo kesal dengan Ane, yang seenak jidatnya sendiri, pakai teriak teriak segala, di kira sedang ada di lapangan dan mengatur baris berbaris.


"Mama ngga usah teriak teriak aku ngga budeg dan ngga tuli, jadi tanpa mama teriak aku bisa dengar semua omongan mama, sebenernya aku lari kayak tadi itu gara gara mama karena" perkataan Dewo belum selesai sudah buru buru di potong oleh Ane.


"Stop Dewo jangan bikin drama melulu, mama ngga menyuruh kamu berlari kayak tadi jadi kamu ngga usah drama pakai bilang mama gara gara mama kamu berlarian kayak tadi" bentak Ane dengan kedua matanya yang melotot, sementara Dewo hanya tersenyum masam mendengar omongan Ane.


Sungguh Dewo heran kenapa Ane suka sekali memotong pembicaraan, sehingga membuat salah paham seperti ini, ingin sekali Dewo menyumpal mulutnya Ane dengan cabe, tapi di situ tak ada cabe sama sekali, ingin sekali Dewo menyumpal mulutnya Ane dengan makanan, namun Dewo takut kalau Ane malah kesenangan gara gara dapat makanan gratis.



Dewo juga sebenarnya ingin menutup mulutnya Ane dengan tangannya, namun Dewo takut malah Ane menggigit tangannya Dewo, sehingga Dewo mengurungkan semua niatnya, dan Dewo hanya bisa membayangkan semua rencananya hanya dalam hati.


"Mama jangan memotong pembicaraan aku dong, aku itu belum selesai bicara, mending mama motong bebek, ayam, kerbau, atau sapi biar bisa buat lauk pauk, kalau memotong pembicaraan cuma bikin salah paham doang" jelas Dewo dengan menaikkan ratusan milyar oktaf, sedangkan Ane mendelik ke arah Dewo lalu berkata.


"Dewo kamu jangan sembarangan menuduh mama itu ngga memotong pembicaraan kamu, kamu saja yang bicaranya lama, kalau kamu nyalon jadi wakil rakyat yang kalau bicara di batasi pakai menit di jamin kamu kalah karena kelamaan, mama malas kalau memotong ayam, bebek, kerbau, atau sapi karena mama sukanya langsung makan dan tinggal beli, lagian mama punya banyak uang buat beli daging itu, salah paham apaan kamu yang salah karena menuduh mama kalau mama penyebab kamu berlarian kayak tadi" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang, sementara Dewo memijat pelipisnya sendiri karena bingung cara menjelaskan ke Ane.

__ADS_1


__ADS_2