
Ane heran dengan jawaban yang di keluarkan oleh Dewo, sungguh Ane berpikir dalam hati kalau Dewo diam kenapa Dewo bilang tidak mau membereskan semua pakaian dan semua celana yang tergeletak di lantai.
Sementara Dewo sedang merasakan kesal dengan Ane, sungguh Dewo heran apa yang sebenarnya di inginkan oleh Ane, apa Dewo harus diam tanpa melakukan apapun, atau Dewo harus membereskan semua pakaian dan semua celana yang tergeletak di lantai.
Keduanya saling terdiam selama beberapa menit, namun tiba tiba Ane ingat dengan tujuannya yang akan ke poli THT, sehingga kini Ane menatap ke arah Dewo lalu berkata.
"Dewo buruan kamu bereskan semua pakaian kamu dan semua celana kamu yang ada di lantai" teriak Ane dengan suara yang sangat keras dan sangat kencang, sementara Dewo yang mendengar suara teriakan Ane langsung terlonjak kaget.
Sungguh Dewo tak menyangka walaupun Ane wanita, namun suaranya bisa membuat semua orang yang mendengarnya hampir rusak gendang telinganya.
Kini Dewo menatap ke arah Ane dengan tatapan tajam, tapi bak gayung bersambut tatapan tajam Dewo di sambut juga dengan tatapan Ane yang tak kalah tajam.
"Dewo kenapa kamu diam saja malah kamu cuma menatap mama, memang mama tahu kalau mama itu wanita yang cantik sehingga kamu terkesima sama mama, tapi kamu harus ingat kalau kamu tidak boleh jatuh cinta sama mama, karena mama itu orang yang telah melahirkan kamu, walaupun mama akui wajah kamu lebih ganteng daripada papa kamu, tapi tetap saja mama sudah terlanjur nyaman sama papa kamu, apalagi kamu itu anak yang lahir dari rahim mama, tidak pantas kalau kamu jatuh cinta ke mama" jelas Ane dengan suara yang tak kalah keras dan tak kalah kencang dari tadi.
Dewo membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut yang menganga, sungguh Dewo tak habis pikir, kenapa Ane sampai menuduh dan mengira kalau Dewo jatuh cinta ke Ane.
__ADS_1
Padahal Dewo tadi menatap ke arah Ane bukan tatapan suka namun tatapan kesal dan emosi, namun sepertinya Ane tak mengerti suasana hati Dewo.
"Mama dari tadi aku diam saja bukan karena terkesima sama mama, dan aku juga ngga jatuh cinta ke mama, tapi aku tadi di suruh mama supaya diam makanya aku" perkataan Dewo belum selesai sudah buru buru di potong oleh Ane.
"Dewo stop kamu jangan banyak alasan, mama tahu kamu bicara seperti itu, karena kamu malu mengakui kalau kamu terkesima sama kecantikan mama, dan kamu juga malu mengakui kalau kamu jatuh cinta ke mama" teriak Ane sangat percaya diri sekali kalau Dewo itu terkesima dengan kecantikan yang dia miliki.
Kedua matanya Dewo terbelalak lebar dengan mulut yang menganga, sungguh Dewo tak habis pikir dengan cara pola pikir Ane, sehingga kini Dewo berusaha menjelaskan apa yang membuat Dewo menatap ke arah Ane.
"Mama stop jangan banyak bicara, karena aku ingin mengatakan yang sejujurnya kenapa aku tadi menatap ke arah mama, itu karena aku kesal dan emosi sama mama, jadi alasan aku menatap mama dengan tatapan tajam itu bukan karena aku terkesima sama kecantikan mama, bukan karena aku jatuh cinta ke mama juga" jelas Dewo menambahkan volume suaranya menjadi ratusan milyar oktaf.
Namun sedetik kemudian senyuman tipis di wajahnya Ane mendadak luntur, entah apa yang membuat Ane menghilangkan senyum tipis dari wajahnya, kini Ane menatap ke arah Dewo lalu Ane berucap kepada Dewo.
"Dewo kamu ngga usah banyak drama, lebih baik kamu bereskan semua pakaian dan semua celana kamu yang ada di lantai" perintah Ane sambil berteriak dengan suara sekeras kerasnya, sementara Dewo menatap ke arah Ane sambil tersenyum kecut.
"Mama sebenarnya itu menyuruh aku buat diam atau menyuruh aku buat membereskan semua pakaian dan semua celana yang ada di lantai ? jangan jangan kamu itu mulai pikun Dewo sehingga hal seperti itu kamu lupakan begitu mudah" tanya Dewo sambil menatap lekat ke arah Ane, sedangkan Ane melototkan kedua matanya ke arah Dewo lalu berkata.
"Dewo bukannya dari tadi mama sudah menyuruh kamu untuk diam, dan mama juga tadi menyuruh kamu membereskan semua pakaian kamu dan semua celana kamu yang berceceran di lantai" bentak Ane dengan suara yang sangat memekakkan telinga mereka.
__ADS_1
Dewo diam sambil mencerna semua kalimat dan semua perkataan yang terlontar dari mulutnya Ane, kini Dewo baru memahami arti perkataan Ane, sehingga membuat Dewo emosi dan kesal kepada Ane.
"Kalau mama menyuruh aku untuk diam, wajar dong sejak tadi aku hanya diam saja mendengar semua omongan mama dan semua perkataan mama, tapi kalau mama menyuruh aku diam harusnya mama ngga usah bahas aku kalau seandainya aku diam saja tanpa menjawab, soalnya itu keinginan mama sendiri" sahut Dewo dengan nada ketus, sementara Ane mendelik ke arah Dewo.
Sungguh Ane kesal kepada Dewo, yang seenak jidatnya menyalahkan dirinya, itu yang ada di pikiran Ane saat ini, kini Ane telah memikirkan hal yang harus di lakukan Dewo, istilah gaulnya Ane akan menyuruh Dewo melakukan sesuatu.
"Stop Dewo mama ngga mau lagi dengar alasan kamu, sekarang kamu bereskan semua pakaian dan semua celana kamu yang ada di lantai" bentak Ane memberi perintah kepada Dewo.
Sementara Dewo yang mendengar perkataan Ane, membuat Dewo protes dengan Ane.
''Tapi ma'' perkataan Dewo belum selesai sudah di potong oleh Ane.
''Dewo ngga usah tapi tapian, cepat kamu lakukan apa yang mama perintahkan, atau jas yang mama beli bakalan mama beri ke papa kamu'' tegas Ane berteriak sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya.
Dewo yang mendengar suara teriakan Ane hampir saja mengeluarkan jurus kagetnya, berupa kabur dan lari terbirit birit meninggalkan Ane, namun Dewo urungkan setelah tahu kalau itu suara teriakan Ane.
''Bukannya tadi mama menyuruh aku untuk diam kenapa'' lagi dan lagi Dewo belum selesai bicara namun Ane memotong pembicaraan Ane.
''Dewo buruan kamu kerjakan apa yang mama perintahkan, atau mama akan usir kamu dari rumah'' ancam Ane kepada Dewo, sementara Dewo membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut yang menganga.
Sungguh Dewo tak habis pikir cuma ingin perintahnya di turuti, membuat Ane itu sampai ingin mengusir Dewo dari rumah, kalau Dewo tak melakukan apa yang Ane perintahkan.
__ADS_1