
Ane melototkan kedua matanya ke arah Dewo karena tak terima di tuduh kalau suara Ane seperti kaleng rombeng, menurut Ane sebenarnya suara Ane itu sangat merdu sekali dan seperti permata karena saking mahalnya suara Ane.
Dewo tanpa dosa menatap ke arah Ane dengan tatapan mengejek, sungguh Dewo tersulut emosi dan kesal gara gara hampir saja gendang telinga Dewo rusak, akibat teriakan Ane yang sangat keras dan sangat kencang.
Ane juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Dewo rasakan, Ane tersulut emosi dan kesal, gara gara Dewo mengatakan kalau suara Ane seperti kaleng rombeng.
"Dewo suara mama itu merdu kenapa kamu menuduh suara mama seperti kaleng rombeng, jangan sembarangan menuduh, Dewo kamu ngga usah bikin drama, buruan kamu cuci kedua tangannya kamu, mama yakin kamu habis tidur jadi pasti kedua tangan kamu ada bekas ilernya, jadi biar bersih kamu cuci kedua tangannya kamu lalu kamu pakai pakaian dan celana yang mama pilihkan buat kamu, jangan banyak drama kayak pemain sinetron" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang, lalu tanpa menunggu jawaban dari Dewo, kini Ane mulai melenggang melangkah pergi meninggalkan kamar mandi.
Sementara Dewo masih syok dan kaget dengan tuduhan yang di lontarkan oleh Ane, sehingga Dewo kini hanya diam membisu seperti patung, sungguh Dewo heran padahal Dewo tidur cuma beberapa menit, kenapa Ane menuduh kalau kedua tangannya Dewo terkena iler dan malah menyuruh Dewo mencuci kedua tangannya, memikirkan itu membuat Dewo pusing ratusan milyar keliling.
__ADS_1
Sedetik kemudian Dewo tersadar dari lamunannya, lalu Dewo menghela nafas dengan berat setelah itu Dewo berjalan ke arah wastafel yang masih menyala, ingin sekali Dewo protes dengan semua keinginan Ane, namun sepertinya Dewo tidak mau protes bukan karena takut kepada Ane.
Dewo tidak mau kalau Dewo protes akan memperpanjang urusan, bakal berimbas ke dirinya yang tidak akan bisa istirahat jika keinginan Ane belum di kabulkan dan belum di lakukan, sehingga Dewo hanya pasrah menuruti semua perkataan Ane walaupun dalam hatinya Dewo itu dongkol.
Setelah beberapa menit Dewo melangkahkan kedua kakinya, kini Dewo sudah berada di depan wastafel, tanpa basa basi Dewo langsung mencuci kedua tangannya dengan air yang mengalir dari wastafel, setelah sekitar hampir satu menit kini Dewo berniat menutup kran wastafel.
Namun mendadak Dewo mengurungkan niatnya, setelah Dewo mendengar suara yang tidak asing di telinganya, yaitu suara yang sangat familiar dan sangat merusak gendang telinga Dewo, suara siapa lagi kalau bukan suara Ane.
Dewo memegang dadanya dengan kedua tangannya, sungguh Dewo masih kaget dan syok mendengar suara teriakan Ane yang di keluarkan secara mendadak, namun dari pada Ane berteriak lagi lebih kencang dan lebih keras dari sebelumnya, membuat Dewo menuruti permintaan yang keluar dari mulutnya Ane.
Dewo mengambil sabun yang tergeletak di meja sebelah wastafel, lalu Dewo membuka sabun itu, dan mulai mengoleskan sabun itu ke kedua bahunya, maksudnya ke kedua tangannya, setelah sabun itu merata di kedua tangannya Dewo, membuat Dewo meletakkan sabun itu ke tempat semula.
Ane yang melihat kalau Dewo sudah menggunakan sabun di kedua tangannya, membuat Ane menerbitkan senyuman sangat lebar, lalu Ane melangkahkan kedua kakinya meninggalkan kamar mandi dengan senyum lebar yang terus mengembang di wajahnya.
__ADS_1
"Mama ngapain menyuruh aku pakai sabun segala kayak mau tidur saja, kalau anak kecil mau tidur baru di suruh cuci tangan, cuci kaki, lalu tidur" omel Dewo dengan nada ketus sambil tetap menggosok gosokkan sabun secara merata di kedua tangannya.
Setelah Dewo menunggu selama beberapa menit, namun Dewo tak mendengar suara jawaban dari Ane, hal itu membuat Dewo tersenyum masam, dalam hatinya Dewo berpikir kalau Ane yang terkena penyakit budeg dan tuli, kenapa malah Ane menuduh Dewo budeg dan tuli, bahkan sampai mengajak Dewo ke poli THT untuk memeriksa telinga Dewo.
"Mama kenapa ngga jawab omongan aku, jangan bilang mama itu terkena penyakit budeg dan tuli, tapi kenapa mama malah menuduh aku yang tuli dan budeg, oh aku tahu pasti mama malu mengakui kalau mama itu budeg dan tuli, lebih baik mama bicara terus terang saja kita berdua ke poli THT untuk memeriksa telinga mama yang budeg dan tuli kan ? kenapa mama pakai alasan dan bohong kalau mau ke poli THT buat memeriksa telinganya aku" ejek Dewo sambil menaikkan suaranya ratusan milyar oktaf, sementara Ane tak mendengar semua ocehan yang di keluarkan oleh Dewo.
Bagaimana mau mendengar kalau kenyataannya Ane sekarang sedang berada di kamarnya Dewo, sehingga tak mungkin Ane mendengar suara Dewo, apalagi kini Ane sibuk memunguti pakaian dan celana yang terletak di lantai kamarnya Dewo.
Ane memilih memunguti pakaian dan celana yang telah di buang oleh Dewo ke lantai, dari pada Ane harus repot repot mencari pakaian dan celana yang akan Dewo gunakan ke poli THT, setelah pakaian dan celana yang ada di lantai ada di tangannya Ane, kini Ane melemparkan pakaian dan celana tersebut ke ranjang empuk miliknya Dewo.
Ane menatap ke arah pintu kamar mandi, namun Ane tak melihat ada tanda tanda kalau Dewo akan keluar, sehingga membuat Ane mengeluarkan suara teriakan yang bisa membuat gendang telinga orang rusak, Ane melakukan itu supaya Dewo tak berlama lama di kamar mandi.
"Dewo buruan kamu cuci tangannya jangan lama lama, masa cuci tangan kayak cuci rambut lama banget, setelah kamu cuci tangan jangan lupa kamu pakai pakaian dan celana yang tadi mama pilihkan" teriak Ane sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya, bertujuan supaya Dewo mendengar suara teriakan Ane.
Teriakan Ane yang sangat keras dan sangat kencang membuat Dewo mendengar dengan jelas, sehingga Dewo langsung membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut menganga, Dewo kira Ane masih ada di dalam kamar mandi tapi kenapa suara teriakan itu berasal dari kamarnya itu yang ada di dalam hatinya Dewo.
__ADS_1